oish-cleochyn
oish-cleochyn Serampangan

Apa adanya...

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

Asa dari Kemudo di Tengah Kasak-kusuk Impor Pangan

3 November 2018   16:45 Diperbarui: 10 November 2018   01:09 1190 21 16
Asa dari Kemudo di Tengah Kasak-kusuk Impor Pangan
Kantor Kepala Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah/foto Danone

Nasi merah. Telur goreng balado. Tumis selada air. Lele goreng. Ayam bakar. Irisan mentimun. Daun kemangi plus sambal merah yang diulik halus. Semuanya saling bertindihan di piring seng blek putih. Penempatan menu yang kurang proporsional membuat motif bunga dan bulan sabit yang menghiasi pinggiranan jenis piring legendaris itu separuh tertutup.

Melihat piring itu bayangan masa kecil saya berkelebat. Terkenang kala jam makan tiba. Ibu dengan sigap mengedarkan perbendaharaan piring seng blek itu kepada anggota keluarga. Piring-piring itu menjadi perkakas makan andalan keluarga kami selama bertahun-tahun.

"Semua makanan ini berasal dari usaha warga di sini," suara berat membuyarkan lamunan.

Hermawan Kristanto namanya. Pria berbaju hitam lengang panjang yang digulung hingga siku itu merupakan kepala Desa Kemudo. Wilayah administratif ini merupakan bagian dari Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Di bawah pendopo bergaya joglo, ia bercerita tentang kehidupan masyarakat setempat. Lebih dari 50 persen dari 1500 kepala keluarga berprofesi sebagai petani dan buruh pabrik. Mereka mengolah sekitar 125 hektar tanah pertanian yang 15 hektar di antaranya menjadi lokasi industri.

Selain menggunakan lahan yang ada untuk bercocok tanam, warga lokal juga memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami sejumlah jenis tanaman konsumsi seperti terong dan cabai. Tidak hanya memanfaatkan tanah kosong di sekitar rumah, masyarakat pun menjadikan tembok sebagai medium.

Sejumlah tanaman tumbuh menempel di tembok dengan bantuan penyangga kayu setinggi 30 cm. Lebih dari 20 tanaman dalam polibek hitam berukuran 10 X 15 cm menghiasi perjalanan menuju warung makan dengan desain rumah adat masyarakat Jawa itu.

Warga memanfaatkan tembok untuk menanam dengan bantuan penyangga kayu/foto dokpri
Warga memanfaatkan tembok untuk menanam dengan bantuan penyangga kayu/foto dokpri
"Hasil tanaman masyarakat kemudian diolah dan dipasarkan setiap malam di angkringan ini," ungkap pria 45 tahun merujuk tempat seluas beberapa meter persegi itu.

Selain joglo utama dengan sejumlah kursi dan meja kayu, di sisi kanan terparkir dua gerobak yang biasa digunakan untuk menjaja aneka makanan dan minuman. Bila kapasitas pengunjung meningkat, joglo berukuran lebih kecil di sebelah kiri bisa menjadi pilihan.

Oleh masyarakat setempat, tempat melewatkan malam dengan aneka hidangan yang diracik dari hasil pertanian setempat itu dinamai Angkringan Joglo.

Ribut Soal Impor

Situasi yang terjadi di Desa Kemudo jauh dari kasak-kusuk soal impor beras dan sejumlah komoditi yang menghiasi ruang pemberitaan belakangan ini. Tentang impor beras misalnya, ada instansi pemerintah yang ngotot untuk mengimpor. Sementara pihak lain mengganggap  itu tidak perlu. Situasi bertambah rumit ketika kedua pihak saling melemparkan pernyataan secara terbuka.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai impor barang konsumsi sepanjang Januari hingga Juni 2018 sudah menginjak angka 8,18 miliar USD. Angka ini naik 21,64 persen secara year on year. Komoditas pangan, menurut pernyataan Kepala BPS, Suhariyanto, paling berkontribusi bagi kenaikan impor barang konsumsi itu. Komoditas pangan dimaksud antara lain beras, gula dan kedelai.

Sutarto Alimoeso menganggap peningkatan impor beras dalam kurun lima bulan terakhir cukup beralasan. Menurut Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) ini, terbukanya izin impor 1 juta ton beras dari Kementerian Perdagangan menjadi sebab.

Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada ini menilai pemerintah tidak ingin mengambil risiko. Gejolak di pasar bisa mengemuka bila stok beras berkurang. Tak heran pemerintah kemudian membuka keran impor.

Infografis dokpri
Infografis dokpri
Situasi saat ini tentu bertolak belakang dengan kondisi lebih dari tiga dekade silam. Pada 1984, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan. Setahun kemudian, Soeharto, presiden Indonesia saat itu, diundang Food and Argriculture Organization (FAO) untuk berbicara di Konferensi ke-23 Organisasi Pangan dan Pertanian Sedunia itu.

Soeharto diminta untuk berbagi kisah sukses di hadapan para petinggi negara dari seantero jagad. Sebagaimana dikutip Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage dalam buku Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto (2006)Soeharto mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja raksasa seluruh rakyat Indonesia.

Saat itu Soeharto tidak hanya berbicara tentang kiat mencapai swasembada pangan. Ia juga mengatasnamai rakyat Indonesia menyumbang 100.000 ton beras untuk rakyat Afrika yang sedang tertimpa kelaparan.

Swasembada pangan hingga ketahanan pangan yang terjaga setidaknya hingga dua tahun setelah itu membuat penguasa Orde Baru itu tidak hanya mendapat pujian luas. Pemimpin yang lengser pada 1998 setelah berkuasa selama 32 tahun juga diganjar medali emas yang diserahkan langsung oleh Direktur Jenderal FAO, Dr. Eduard Saoma dalam lawatannya ke Jakarta.

Ternyata ketahanan pangan Indonesia hanya bertahan lima tahun. Demikian kesimpulan Pantjar Simatupang dan I Wayang Rusastra dalam Kebijakan Pembangunan Agribisnis Padi yang terbit tahun 2004.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3