Mohon tunggu...
satria kurniawan
satria kurniawan Mohon Tunggu... -

Hidup adalah sebuah perjalanan dan petualangan. ketahuilah perjalanan yang panjang itu adalah menuju surga Allah SWT... Mari Berpetualang...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ringkasan Jalan Panjang SH Terate dan SH Winongo, yang Sejatinya Adalah Satu Saudara

16 Oktober 2016   13:41 Diperbarui: 16 Oktober 2016   15:52 7061 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Persaudaraan Setia Hati Terate dan Setia Hati Tunas Muda Winongo

Atau Masyarakat Madiun dan sekitar, lebih mengenal dengan sebutan
SH Terate dan SH Winongo.

Pada dasarnya mereka adalah satu guru. Beliau adalah Ki Ngabehi Suro Diwiryo pada tahun 1903 mendirikan Organisasi pencak silat *Setia Hati* dengan sebutan Silat Djoyo Gendhilo. Organisasi ini didirikan bertujuan untuk mendidik rakyat yg pada saat itu belum banyak sekolah. Intinya adalah menyatukan Rakyat untuk menentang penjajahan Belanda. Persaudaraan antar sesama anggota *SH* disebut STK, Sedoeloer Tunggal Ketjer jika diterjemahkan secara bebas adalah, Saudara yang Memiliki Satu Sumpah. 

Saya kira ini adalah usaha dari Eyang Suro untuk menghimpun kekuatan dalam rangka mengusir Belanda pada masa penjajahan. Karena memang Pencak Silat digunakan untuk membela diri pada saat itu. Selain Ilmu Pencak Silat, hal terpenting yg perlu diajarkan dari Organisasi Setia Hati tersebut adalah Ke SH an. Disini tidak akan saya terangkan Ilmu Ke SH an itu apa, karena sangatlah luas. Oleh karena itu, kami persilakan pembaca untuk ikut Organisasi Pencak Silat SH Terate atau SH Winongo. Pada intinya Ilmu KeSHan itu menyampaikan bahwa *Urip iku kudu Urup* Hidup itu harus bisa menghidupi yg lain.

Pada tahun 1922 Ki Hadjar Harjo Utomo yg merupakan Murid terbaik dari Ki Ngabehi Suro Diwirjo atas restu Beliau, Dia mendirikan Persaudaraan Sport Club. Inti dari Sport Club ini juga untuk menghimpun kekuatan dari pada Rakyat Indonesia untuk menentang Penjajah yang pada saat itu dijajah oleh Belanda.

Kegiatan yang mulia ini, tercium oleh Pemerintah Kolonialisme. Belanda tidak ingin ada Organisasi Kemasyarakatan yang akan membuat kegiatan Imperialismenya terganggu. Oleh karena itu Belanda menggunakan cara *De Vide et Impera*. Yakni menghasut Rakyat sekitar bahwa Sport Club yg didirikan Ki Hajar Hardjo Utomo itu adalah *SH Merah* sedang kata kata *Merah* pada saat itu sangatlah identik dengan istilah *Komunis*. Apalagi itu di Kota Madiun. Tak pelak Rakyatpun sangat terganggu, mereka terhasut dan sangat membenci Sport Club tersebut. Oleh karena itu Ki Hadjar Hardjo Utomo meminta arahan dari gurunya Ki Ngabehi Suro Diwiryo, atas restu beliau . Dia mengubah nama Persaudaraan Sport Club menjadi Persaudaraan Setia Hati Terate. Agar persepsi Masyarakat berubah, dan kembali ikut berjuang untuk merebut Kemerdekaan..

Cara lain yang digunakan oleh Belanda adalah menghasut dan mengadu domba Murid2 Ki Ngabehi Suro Duwiryo/ Eyang suro bahwa Sport Club itu hanyalah pencak silat sempalan. Maka harus dimusuhi, Mereka dihasut bahwa Ki Hadjar Hardjo Utomo telah menghianati gurunya, yakni Ki Ngabehi Suro Diwiryo. Padahal sekalipun tidak!!

Eyang Suro dan Ki Hadjar Hardjo Utomo hanya ingin menyatukan rakyat khususnya warga Madiun pada saat itu untuk menentang kolonialisme. Tapi sayang keduanya terhasut dan dampaknya mereka bermusuhan hingga saat ini.

SH Terate dan SH Winongo sejatinya adalah saudara satu tubuh, satu kekuatan, satu jiwa. Tapi telah diadu domba oleh Belanda...

Belanda berhasil menangkap Ki Hadjar Hardjo Utomo, dan membuangnya di Digul.
Meskipun dibuang ke Digul, perlawanan anak anak SH kepada Belanda tidak pernah padam. Mereka tetap  memegang teguh KeSHan yg diajarkan oleh gurunya..

Pasca wafatnya Eyang Suro kegiatan SH (Asli) mengalami kemunduran. Hingga pada akhirnya RDH Suwarno atas niat baik menghidupkan kembali Organisasi SH, supaya tidak lenyap di Negeri sendiri. Beliau memberi tambahan kata Tunas Muda di depan kata SH, yang bermakna *SH telah Bersinar Kembali.* Sedangkan tambahan Winongo adalah Nama Desa di Kota Madiun tempat berdirinya daripada SH Winongo tersebut.

Kesimpulan:
SH Terate dan SH Winongo jika dirunut runut adalah satu Keluarga. Dengan Gurunya Ki Ngabehi Suro Diwiryo, atau Eyang Suro pada organisasi *Setia Hati*. Namun pada perjuanganya, dalam rangka merebut kemerdekaan Bangsa Indonesia. Mereka telah berhasil diadu domba oleh Kompeni, sehingga mereka sendiri yang saling bermusuhan.

Wahai sahabat sahabat ku Pendekar/ Warga SH Terate dan SH Winongo. Jaman telah berubah, era telah berubah. Mari di Moment bulan Suro yang barokah ini, kita jalin Persatuan dan Kesatuan kita gunakan untuk mengisi Kemerdekaan, kita lupakan ego, kita lupakan kesombongan. Demi terciptanya Madiun pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya suasana yang damai dan tentrem. Mari kita amalkan ajaran Guru kita untuk
 *Memayu Hayuning Bawono* dan *Amar Ma'ruf Nahi Munkar*

Sidji Wadah ojo Sampek Petjah!!! Dan jangan sekali kali merupakan sejarah!!!

Selamat Bersuran agung saudaraku..

Salam Persaudaraan dari Rio Tjah Kojo, Mediun!

Karena Silat adalah budaya asli bangsa Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan