Mohon tunggu...
Budiman Hakim
Budiman Hakim Mohon Tunggu... Administrasi - Begitulah kira-kira

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dukun Sakti dari Sukamantri

28 September 2017   12:44 Diperbarui: 28 September 2017   18:06 2516
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Suasana kemah di Sukamantri|Dokumentasi pribadi

"Kenapa lo gak mau?" tanya Arthur lagi.

"Gue gak butuh itu untuk menghadapi setan. Gue punya cara sendiri untuk menghadapi godaan mereka."

"Okay! Buat yag gak mau, gapapa, loh," kata Arthur lagi, "Tapi ingat! Kalo terjadi apa-apa pada kalian, kami gak mau bertanggung jawab."

Semua orang terdiam tapi gak ada seorang pun yang maju lagi. Nampaknya semua udah selesai menghirup aroma ramuan anti setan tersebut.

"Okay, udah semua ya?" tanya Arthur, "Kalo udah semua, saya dan Ewok akan pergi mengantarkan kembali Pak Anwar ke kampungnya. Terima kasih."

"Woi...tunggu!! Tungguuuu....gue belom!!!!" teriak seseorang.

Semua orang menoleh pada sumber suara itu dan ternyata dia adalah Kemal. Sejak awal saya perhatiin, Kemal memang ragu-ragu untuk melakukan ritual mengendus aroma itu tapi karena semua orang melakukannya, di detik-detik terakhir, Kemal memutuskan untuk melakukan hal yang sama.

"Silakan, Kemal," kata Arthur sambil membuka serbet di atas baskom .

Dengan perlahan tapi mantap, Kemal menghirup aroma dari baskom itu berkali-kali lalu kembali ke tempatnya.

Setelah ritual selesai, Arthur kembali berujar, "Baiklah teman-teman. Terima kasih atas kerjasama dan kesediaannya untuk melindungi diri dari godaan setan dan makhluk halus. Tapi tentunya teman-teman penasaran apa isi dari baskom ini, kan?"

"Iya, isinya apa sih kalo boleh tau? Keris, ya?" tanya Aida.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun