Mohon tunggu...
Bangun Sayekti
Bangun Sayekti Mohon Tunggu... Apoteker - Pensiunan Pegawai Negeri Sipil

Lahir di Metro Lampung. Pendidikan terakhir, lulus Sarjana dan Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pergi dan Kembali di Luar Nalar

27 September 2021   12:23 Diperbarui: 27 September 2021   12:33 49 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bertemu Nurbuat. Suatu malam penulis mimpi bertemu saudara Nurbuat ( pelawak Sri Mulat ). Dalam pertemuan tersebut tidak banyak yang dibicarakan, dan saudara  Nurbuat hanya mengingatkan penulis sebagai berikut: Jangan mengharap saudara - saudaramu mau membantu / menolong kamu, jika kamu tidak meminta maaf kepada saudara - saudaramu.

Pagi harinya penulis bangun, dan mencoba menganalisis makna dari mimpi semalam, kira-kira begini: Tampak mata adalah saudara Nurbuat, tetapi penulis memahami siapa sesungguhnya yang dimaksud Nurbuat dalam mimpi tersebut. Saudara Nurbuat menyebutkan saudara -- saudara penulis, itupun penulis juga memahami siapa yang dimaksud. Namun demikian penulis masih merasa belum paham, dimana letak dan apa kesalahan penulis kepada saudara -- saudara penulis tadi. Mimpi penulis ini terjadi lebih kurang satu bulan sebelum bulan Suro (Muharam) 1419 H.

Bila saudara pembaca budiman ingin mengetahui siapa sesungguhnya yang dimaksud saudara-saudara penulis tersebut, kiranya dapat dibaca kembali artikel penulis yang ditayangkan di kompasiana 13 -- April -- 2021, berikut adalah link-nya....... https://www.kompasiana.com/bangunsayekti3948/607528918ede4876412445b3/manusia-tidak-sendirian-1      

Suara dan Pendengaran Hilang. Belum dapat memahami seluruh makna impian tersebut, tanpa sebab yang dapat diterima akal sehat, dan tanpa penulis duga sebelumnya suara dan pendengaran penulis hilang. Kejadian ini tentunya menambah susah dan bingung penulis, sebab belum dapat penulis menemukan kesalahan dengan saudara-saudara, ditambah lagi dengan kejadian kedua yaitu hilangnya suara dan pendengaran penulis.

Sesuatu yang mengherankan, dan menyusahkan penulis adalah: Mengherankan karena hilangnya suara, dan pendengaran tanpa sebab yang dapat dicerna oleh akal sehat atau diluar nalar. Andaikan kejadiannya sebagai berikut, kepala terbentur benda keras kemudian suara, dan pendengaran hilang mungkin kita dapat simpulkan bahwa pita suara, dan atau syaraf pendengaran putus. Tetapi ini kan tidak!

Adapun yang membuat penulis susah: Penulis harus menjalankan tugas sehari - hari dalam keadaan derita seperti itu. Sehingga untuk bicara saja, ya harus keras ( menurut perasaan, penulis sudah 2 atau 3 kali dari tekanan suara kalau berbicara dalam keadaan normal, hingga mulut terasa sakit ). Tetapi toh lawan bicara, tidak dapat menangkap pembicaraan penulis dengan baik.

Kecuali itu penulispun dimintai tolong oleh anak angkat laki -- laki ke 3, Ir. E.S namanya yang pernah ikut dikeluarga penulis, untuk menjadi juru bicara mewakili keluarga besar dalam akad nikahnya. Dikesempatan lain, penulispun diminta memberikan sambutan mewakili para tamu dalam pesta perkawinan anak dari karyawan. Penulis yakin para pembaca budimanpun, dapat merasakan kesulitan yang penulis alami ini.

Namun demikian penulispun bersyukur kehadirat Allah Swt. Tuhan Yang Maha Kuasa, karena penulis dapat menahan nafsu yang ada dalam diri sendiri, begini ceritanya. Suatu siang di rumah, penulis minta tolong anak perempuan yang ikut di keluarga kami A panggilannya. Mbak tolong papa dibuatkan wedang kopi! Menurut hemat penulis, suara sudah penulis keraskan, eh boro - boro wedang kopinya segera dibuat, anaknyapun tidak menoleh ketika penulis minta tadi ( karena tidak mendengar permintaan penulis ). Batin penulis berkata, eh sampai sedemikian berat ujian Allah Swt. untuk penulis. Maha Suci Allah.

Mengingat penulis menginginkan wedang kopi penulis lalu mendekati mbak A tadi, dan njawil (nowel) sambil memberi isyarat kalau penulis minta wedang kopi, barulah dibuatkannya. Coba dirasakan, bagaimana kira - kira rasa kita bila omongan kita tidak ditanggapi / digubris orang lain, lebih -- lebih anak sendiri. Sakit hati tidak? Mungkin!

Demikian pula sebaliknya, manakala berbicara dengan teman--teman. Penulis minta teman mengulang-ulang kata -- katanya, dan tak lupa telapak tangan penulis tempelkan ditelinga untuk memperlebar daun telinga maksudnya. Namun toh penulis tetap, tidak dapat mendengar perkataan teman dengan baik. Lebih - lebih bila di rumah, anak, istri masuk ke rumah dengan mengucap assalamu'alaikum saja, penulis tidak mendengar, apa lagi disuruh menjawab. Lebih menderita lagi perasaan penulis bila setelah itu anak, dan istri lalu saling berbicara sambil sesekali melirik kearah penulis, perasaan seperti disayat - sayat.

Akhirnya keluarga semua tahu bahwa telah terjadi sesuatu yang menimpa diri penulis, meskipun tidak ada seorang diantaranya yang mau mengatakan hal tersebut. Semua derita itu tetap penulis terima dengan ikhlas, dan penuh kesabaran. Penulis tidak sakit hati kepada siapapun, karena penulis memahami bahwa semua yang terjadi pada diri penulis, atas kehendak Yang Maha Kuasa. Dan itu semua, penulis terima sebagai ujian Allah Swt. kepada penulis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan