Mohon tunggu...
Bangun Sayekti
Bangun Sayekti Mohon Tunggu... Apoteker - Sarjana, Apoteker

Pendidikan terakhir, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta: Sarjana lulus November 1975, Apoteker lulus Maret 1977. Profesi Apoteker, dengan nama Apotek Sido Waras, sampai sekarang. Pensiunan Pegawai Negeri Sipil tahun 2003, dengan jabatan terakhir Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Lampung Timur. Dosen Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Tulang Bawang Bandar Lampung, Januari 2005 sampai dengan Desember 2015.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Menggapai Kebenaran Sejati

20 Agustus 2020   11:25 Diperbarui: 20 Agustus 2020   11:24 350
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Respon peserta. Al Qur'an diturunkan, dan diwahyukan untuk kanjeng Nabi Muhammad yang dilahirkan sebagai bangsa Arab.

Karena turunnya di tanah Arab, dan yang menerima wahyu Al Qur'an adalah nabi Muhammad, yang nota bene beliau adalah orang Arab. Dengan demikian beliau akan dapat menyampaikannya kepada kaum Arab, dengan baik dan benar. Surat Yusuf ayat 2. Sesungguhnya Kami menurunkan nya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. Surat Az Zukruf ayat 3. Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). 

10. Dari penggalan surat Yasiin ayat 69 menyatakan, Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. Lalu apa arti dari kalimat tersebut?

Respon peserta. Pedoman untuk mengamalkan kebenaran, dalam kita menempuh kehidupan.

Artinya. Agar kita selalu memperoleh penerangan dari Allah atau  agar dinaungi Nur Illahi, kita wajib mempelajari atau mengaji supaya mengerti makna batiniyah Al Qur'an, kemudian kita pergunakan sebagai pedoman pengamalan atau pedoman pelaksaan tindakan, selama kita melakoni hidup dan kehidupan diatas dunia ini. Insya-Allah selamat kita di dunia, hingga ke akheratnya kelak.

Hanya sangat disayangkan, oleh umat Islam umumnya, mempelajari atau mengaji hanya diartikan sempit, dan disama artikan dengan membaca kitab Al Qur'an dalam bahasa Arab mendapat pahala sebagai bekal masuk sorga, walau tidak mengerti artinya tidak apa apa, kata orang. Bahkan ada pernyataan yang lebih ekstrim lagi, bila ada anaknya yang hafal Al Qur'an bisa sebagai jaminan untuk orang tuanya masuk sorga. Tanpa mau kros cek kebenarannya, langsung dilaksanakan tanpa berpikir panjang lagi.

Mari dikaji dengan roso pangroso. Benarkah mengaji yang dimaknai hanya dengan membaca kitab Al Qur'an dalam bahasa Arab, mendapat pahala, atau hadiah, atau ganjaran, atau gift, walau tidak mengerti artinya? Iya pasti mendapat pahala dari Allah Yang Maha Pengasih, bagi orang yang membaca tulisan Arab dari kitab Al Qur'an itu. Apa pahalanya? Pahalanya, ya pintar membaca tulisan Arab itu. Jangan mengharap pahala berupa sorga, itu namanya harapan yang jauh tak terhingga dan hampa belaka ............ sudah lintas batas, atau salin alam, atau ganti alam.

Respon peserta. Kasinggihan... Pepatah Jawa yang singkat tapi mendalam yg menyangkut tindakan dalam menempuh kehidupan yaitu "sing nandur,  bakal ngunduh". Al Qur'an memberikan tuntunan agar kita menanam kebaikan agar bisa ngunduh kebaikan.

Kita diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, diantara makhluk -- makhluk lain ciptaan Allah. Mestinya harus berpikir dengan akal sehat, dan bertanya kepada diri sendiri. Setelah saya bisa membaca tulisan Arab, lalu akan saya pergunakan untuk apa? Tetapi karena sudah terlanjur percaya atau saking percayanya kepada orang dengan predikat: ustat, kiai, penyampai risalah, ulama, ulama besar, tokoh agama, pimpinan Ormas, pimpinan parpol, ya sudah gak usah dipikir pasti dapat pahala masuk sorga. Tidak terpikir lagi untuk mengembalikan kepada Al Qur'an yang merupakan kebenaran hakiki, dan yang dapat kita katakan sebagai sumber dari segala sumber kebenaran. 

Untuk membuktikan kebenarannya, mari kita kembalikan kepada Al Qur'an. Mari kita gunakan akal sehat, karena hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Surat Az Zumar ayat 9. (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. Surat Az Zumar ayat 18. yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.

Kita dapat membaca tulisan Arab dari kitab Al Qur'an, tetapi tidak tahu artinya. Mungkinkah kita dapat melaksanakan Al Qur'an, yang nota bene adalah perintah dan petunjuk Allah? Tidak mungkin. Artinya kita sebagai orang yang bisa berkata, tetapi tidak mengerjakan apa yang dikatakan itu, iya to? Namun demikian kalau menurut orang -- orang tadi, ya tetap akan mendapat pahala dan masuk sorga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun