Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Lima Puisi untuk 5 Perempuan

25 Mei 2021   19:22 Diperbarui: 25 Mei 2021   19:37 208 64 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lima Puisi untuk 5 Perempuan
Ilustrasi. Muslim girl wallpaper by Ertugrulmdn/ Pinterest 

Kamu satu 

Kumulai dengan 'pada suatu hari'. Seperti memulai karangan pada waktu SD dahulu. Gambar matahari dengan sinar seperti rambut yang tegak, diapit dua segitiga gunung. Malu, tapi ada rasa bahagia saat bersama. Pada suatu hari aku merasakan debar yang pertama 

Kamu dua

Sekali ini dibarengi rindu. Debar yang menghentak saat bertemu. Gelisah, malu, bibir hangat dan basah. Dalam mimpi yang ngilu 

Kamu tiga

Dan kini aku menjadi kedua bola matamu. Aku melihat pelangi, musik, film, puisi, akhir cerita yang indah dalam novel, tertawa, tarian, sinar dari lilin yang syahdu dalam sebuah pertemuan malam. Menghitung banyak rindu. Namun, takada diriku dalam kepalamu. Ini kali pertama aku merasakan patah hati. Ah, ternyata 

Kamu empat 

Pelajaran yang selalu kuingat: cinta itu butuh keberanian. Di hadapan mata bisa terasa sangat jauh. Sedang jarak yang jauh malah makin membuat angan-angan runtuh. Mencintai diam-diam ternyata membuat api di dada sulit sekali padam. Bukan, ini bukan nyerinya hati, tapi tentang indahnya sebuah patah hati 

Kamu lima 

Jarak, waktu, cerita-cerita, biarlah penghias ingatan. Aku adalah aku yang sekarang, dan kamu adalah cerita bersama di masa depan. Dua buah hati  itu tandanya. Dalam berbiduk tentu ada pasang dan gelombang. Terhempas, hampir karam menghantam batu karang. Cinta, akhirnya mengalir juga pada tempatnya 

Perempuan, engkau kah itu

***

Lebakwana, Mei 2021 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x