Arya BayuAnggara
Arya BayuAnggara Mahasiswa

Seorang bibliophilia. Belajar menjadi seorang penulis, mungkin!?

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Inner Sanctum (I), Mendung di Selatan

6 Desember 2018   07:05 Diperbarui: 6 Desember 2018   08:26 199 0 0

            "Lihat!!! Tidak biasanya daerah selatan mengalami mendung. Apa ada sesuatu yang aneh terjadi?? Apa ada sesuatu yang luput dari pengamatan kita selama ini?" tanya seorang petani yang baru pulang dari sawah yang dia garap.

            "Entahlah, jika pengakuanmu itu benar, maka ini benar-benar aneh. Selama ini daerah ini tidak pernah menerima hujan dari selatan, apa ada sesuatu yang ganjil sedang terjadi?" respon seorang remaja desa.

            Berita mendung di selatan ini menjadi sangat heboh, atau viral. Daerah pinggiran desa yang biasanya sepi, sekarang dikerumuni oleh masyarakat, baik dari kalangan kaya ataupun dari kalangan miskin. Semua menengok ke arah selatan itu; jika biasanya yang terlihat hanya pemandangan langit biru lepas, dengan beberapa figur perbukitan di sebelah kiri, sekarang terlihat begitu gelap. Awan hitam yang datang bergerumul itu, sepertinya tidak bisa dibedakan lagi antara bagian langit yang masih cerah dengan yang tidak.

            "Hey!! Lihat !!! Bukankah itu sedikit aneh?? Maksudku, mengapa mendungnya terlalu pekat seperti itu?? Seakan-akan langit telah dicat hitam oleh Tuhan?? Apa yang sebenarnya membuat langit begitu gelap??" tanya seorang warga.

            "Ah, aku baru ingat. Nenek ku dulu pernah berkata, bahwa daerah sini dahulunya adalah sarang dari para naga. Para naga begitu kuat, bahkan bisa menggelapkan langit yang cerah, mereka mencurinya cahayanya!!! Bahkan..." sebelum seorang petani menyelesaikan narasinya, seorang yang kaya menyela, "Hei!!! Jangan bawa-bawa mitor nenekmu yang miskin itu sekarang!!! Yang penting adalah, maksudku, kita harus segera mempersiapkan diri. Sepertinya awan hitam itu akan membawa suatu badai yang cukup besar. Baik dari pihak kami (orang kaya) maupun dari pihak kalian (orang miskin), harus mempersiapkan kesiapan dari daerahnya masing-masing. Kami (orang kaya) akan berusaha agar rumah dan kebun-kebun bunga kami tidak rusak oleh terpaan badai itu. Sementara kalian (orang miskin) harus menjaga daerah kalian agar tidak tenggelam oleh banjir yang semakin dalam setiap tahunnya."

            Usulan itu didengar dan dipahami dengan baik oleh semua orang. Semuanya bersorak-sorak, seakan-akan yang memberi ide itu adalah manusia terbaik dan terpintar se-dunia. "Ayo, segera ke tempat masing-masing. Jangan sampai kita lengah, sehingga dihapuskan oleh badai yang mungkin akan menyerang kita."

            "Ya!!!"

            "Ah, lihatah orang-orang itu, Parman. Tidak biasanya antara pihak yang kaya dengan pihak yang miskin bisa bekerjasama seperti itu. Apa kali ini batasan kasta itu sudah mulai longgar?? Atau apakah orang-orang miskin itu sudah tidak mempedulikan lagi tuntutan gaji mereka setelah sekian lama diperdebatkan? Bagaimana menurutmu?"

            Dua orang tetua terlihat berada tidak jauh dari kerumunan massa. Tenggot mereka yang panjang selalu mereka elus sedari tadi. Mungkin supaya kelihatan bijak. Pakaiannya juga lebih kuno daripada pakaian orang-orang sekarang. Meski pakaian mereka lebih mirip pakaian para petani, menggunakan tunic lengkap dengan tudung kepalanya. Biasanya mereka hanya menghabiskan antara di perpustakaan desa atau di balai desa. Kali ini, sepertinya mereka ingin turun gunung, mengamati langsung aktifitas para warga. Kali ini, secara kebetulan, warga sibuk mempermasalahkan keadaan alam yang sedikit berbeda dari apa yang selama ini mereka pahami.

            "Entahlah, Parmin. Yang jelas, menurutku pemikiranku, para warga itu tidak lain hanya ingin mempertahankan aset mereka masing-masing. Buktinya masing-masing dari mereka hanya peduli dengan rumah atau kebun atau wilayah perumahan mereka masing-masing. Tidak ada kerjasama, meski upaya yang dilakukan terkesan bersama-sama." Tandas Parman.

            Parmin hanya tersenyum, dia telah menduga bahwa Parman akan memberikan jawaban seperti demikian. Nama mereka memang rada mirip, akan tetapi, sebenarnya mereka bukanlah saduara kandung. Secara kebetulan, tanggal lahir mereka sama dan nama mereka hanya berbeda oleh satu huruf vokal saja. Suatu kebetulan yang tiada tara. Sedari kecil, mereka selalu berdiskusi berdua dan menyelesaikan beberapa masalah desa bersama.

            "Bukanlah sebuah kesalahan jika alam menjodohkan kita sebagai pemikir untuk desa ini, Parman. Tanpa keberadaan kita, para tetua, desa ini akan hilang keberadaan oleh gerusan perubahan zaman. Apalagi ide untuk membuka desa ini sebagai tujuan plesiran berasal dari kepalamu yang cemerlang itu. Kami, para tetua dan para warga desa, seharusnya banyak-banyak berterima kasih kepadamu. Bahkan, kalau kau mau, kami bisa saja mengadakan suatu pesta khusus untukmu. Akan tetapi, juga seperti dirimu yang biasanya, yang menjauh dari segala bentuk ketenaran dan kemahsyuran. Sederhana memang dirimu ini."

            Parman tidak terlalu banyak bereaksi. Baginya, pujian dari Parmin adalah sebuah penghargaan yang sepatutnya diterima secara sederhana. Cukup tersenyum ke arah Parmin. Semua rasa terima kasih Parman atas pujian itu, rasanya semuanya telah tersampaikan.

            "Ayo, kita kembali ke balai desa." Pungkas Parman.

***

            Dengan demikian, akhirnya, kedua pengembara itu bisa merasakan kehangatan dari tempat perapian kedai nenek Nyon.

            "Syukurlah. Akhirnya kita merasakan kehangatan setelah beberapa lama, Kakak!" ucap pengembara yang lebih rendah.

            "Iya, pada akhirnya, kita memiliki tempat untuk berteduh."

           Arka tetap kebingungan melihat kedua pengembara itu. Mereka terlihat muda dan bertubuh kekar. Tetapi, mengapa masih bisa merasakan kedinginan di tengah udara malam??

            "Apa orang bertubuh kekar seperti om-om ini juga bisa merasakan kedingingan?? Bukannya tubuh kalian kuat dan tahan banting?? Guruku di sekolah mengatakan hal seperti itu sih, ketika aku masih sekolah dulu." Tanya Arka dengan polosnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6