Mohon tunggu...
Arrie Boediman La Ede
Arrie Boediman La Ede Mohon Tunggu... Arsitek - : wisdom is earth

| pesyair sontoloyo di titik nol |

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Topeng-Topeng Horor di Titik Nol

5 Oktober 2020   00:10 Diperbarui: 5 Oktober 2020   01:05 225
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi - caknun.com/2018/neosabhaparwa/

ketika ada seorang pimpinan taktahu dan takpaham apa yang akan dikerjakannya; maka, diam adalah jalan terbaik baginya; sebagaimana menyuruh diam anak buahnya

jika ada sebuah sistem kereziman tidak jelas antara tugas dan kewajibannya terhadap warga negaranya; maka, membangun peta konflik antar rakyatnya adalah cara terbaik baginya

tabik,
yang kusampaikan di atas bukan tentang siapapun; tapi, tentang diri saya; diri yang hina dina yang mencoba berdiri tegak di atas sebuah sapu lidi; bukan sapu jagad

tabik,
yang kumaksudkan dari kata-kata yang tertulis di atas bukanlah untuk memojokkan sebuah sistem kekuasaan; bukan pula bermaksud menjelaskan sebuah sistem kekuasan yang mungkin saja majal

negara di atas negara
kekuasaan di atas kekuasaan: itu sebuah paham kan?
lalu, kekuasaan apa lagi yang lebih tinggi dari itu?

bahwa, takpernah ingin kucampuradukkan perihal ini dengan urusan agama atau nama tuhanku; ini bukan soal radikalisme atau atas kepentingan sekte-sekte tertentu; kerana bukan apa-apa, keberadaan Tuhan pun sudah tidak anggap

jika, sebuah sistem ketatanegaraan dijalankan tidak sebagaimana mestinya; maka, mengotak-atik tatanan yang sudah mengakar sejak negara ini merdeka adalah cara yang paling tidak asyik dalam mengelola sebuah negara

jika, sebuah lembaga legislasi tak pernah paham tugas legislasinya; maka, kita tinggal tunggu saja puluhan bahkan ratusan produk undang-undang akan lahir prematur dari rahim kepentingan para cukong; ya para cu dan kong

lembaga atas nama rakyat
rakyat atas nama lembaga
adakah lagi klaim tertinggi dari lembaga yang mengatasnamakan rakyat itu?

tabik,
ini negara, bukan kampung susun
di sini bukan tempat untuk bikin gara-gara
bukan pula tempat mengobral kebenaran palsu
atau tempat menggadaikan kata-kata untuk memaksa melakukan tindakan subversif

tabik,
sesungguhnya kami sudah mulai gerah tuan
gerah dengan kata-kata yang itu-itu saja, kata-kata yang merusak
kata-kata yang tidak menenangkan, provokatif
kata-kata yang merusak iman, melemahkan imun

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun