Mohon tunggu...
Ari Budiyanti
Ari Budiyanti Mohon Tunggu... Guru - Lehrerin

Sudah menulis 2.780 artikel berbagai kategori (Fiksiana yang terbanyak) hingga 24-04-2024 dengan 2.172 highlight, 17 headline, dan 106.868 poin. Menulis di Kompasiana sejak 1 Desember 2018. Nomine Best in Fiction 2023. Masuk Kategori Kompasianer Teraktif di Kaleidoskop Kompasiana selama 4 periode: 2019, 2020, 2021, dan 2022. Salah satu tulisan masuk kategori Artikel Pilihan Terfavorit 2023. Salam literasi 💖 Just love writing 💖

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Menggenggam Beras Cinta

26 Februari 2024   19:39 Diperbarui: 26 Februari 2024   19:45 86
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi by pixabay.com

Sudah kubilang itu lambang cinta. Mengapa juga tak percaya? Kau ini. Tatap mataku penuh lelah saat kau kembali menyia-nyiakan rasa itu. Memangnya sesusah itu kah?

Aku terdiam mengenang memori yang melintas. Saat kami masih sering berjalan bersama. Beriringan melewati pematang sawah yang terbentang. Luas dan megah, indah tak terbatas.

Baca juga: Menggengam Cinta

Bulir-bulir padi yang penuh. Menguning siap dipanen para petami di sekitar rumah. Meski itu bukan milik mereka, setidaknya memberi penanda cinta akan keluarga. 

Padi yang dituai kemudian menjadi beras putih yang kini langka. Beras putih yang melambung harga. Seolah mencekik keluarga-keluarga sederhana. 

Kalau ada, mereka membelinya dengan harga melambung. Tapi para petani ini mengumpulkan padi di lumbung untuk siapa?

Sudah kukata padamu ini lambang cinta. Cinta mereka yang sudah berusaha keras mendapatkannya. Cinta mereka untuk keluaga-keluarga. Mengapa masih saja tak percaya dan menyia-nyiakannya? 

Baca juga: Menggenggam Rindu

Adalah cinta yang tertawan dalam doa-doa. Itulah mengapa ini menjadi perlambang cinta. 

......

Written by Ari Budiyanti

#PuisiHatiAriBudiyanti

26 Februari 2024

22-2.750

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun