Ardi Prasetyo
Ardi Prasetyo pelajar/mahasiswa

Begitu banyak instrumen kehidupan, seperti halnya musik. Lalu, kupelajari satu per satu, pun agar harmonis hidup yang kumainkan.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Menilik Keseharian Manusia Malam

4 Februari 2019   20:45 Diperbarui: 4 Februari 2019   20:50 48 0 0
Cerpen | Menilik Keseharian Manusia Malam
photo: chicagoartistcoalition.org

Istilahnya night owl. Yaitu orang yang dengan sendirinya terbiasa beraktivitas saat malam dan tidur saat siang. Dunianya seolah terbalik, bukan? Mengapa bisa demikian? Lalu, sebenarnya apa yang biasa diperbuat oleh manusia malam? Serta, bagaimana dampaknya terkait hubungannya dengan lingkungan sosial? Di sini akan coba kita bahas satu per satu.

Jika merunut pada pengalaman pribadi, maka perihal asal muasal, keseharian, dan dampak sosial manusia malam dapat saya uraikan sebagai berikut. Awal mulanya, saya mulai begadang sampai terbit matahari sejak awal duduk di bangku kuliah. Yakni, sekitar sembilan tahun yang lalu. Saya yang sejak kecil tak terbiasa terpisah dari orangtua, sepertinya terkejut dengan kehidupan di perantauan. Mungkin karena kurang mandiri. Jadi, setiap hari selalu merasa bingung sendiri karena biasanya apa-apa ada yang mengurusi dan mengawasi.

Hampir setiap malam, mata ini sulit dipejamkan. Bayang-bayang kedua orangtua selalu muncul dalam kesepian sebagai wujud kerinduan. Rasanya jarak kami jauh sekali. Sebab butuh perjalanan lebih dari 24 jam via jalur darat dan air untuk bisa bertemu, dari Jogja ke Lampung. Apalagi, bisa pulang hanya enam bulan sekali saat libur semester. Itu terasa sangatlah lama bagi seorang perantau remaja anyaran.

Telentang, tengkurap, miring kiri dan kanan berjam-jam tak juga mengantarkanku ke alam mimpi. Yang ada malah seperti menyiksa diri. Sebab itu, aku mulai berpikir untuk mengalihkan perhatian agar sosok kedua orangtua tak selalu terbayang-bayang. Kadang menonton TV, internetan, atau bermain gitar pelan-pelan. Kalau sudah benar-benar terkantuk-kantuk, barulah merebahkan diri di ranjang. Tak jarang itu kulakukan sampai terdengar suara adzan. Menurutku, cara itu cukup efektif. Sehingga keterusan sampai beberapa semester kemudian.

Setelah sekian semester berjalan, perkara demam rindu orangtua mulai berkurang, tapi begadang sudah mulai menjadi kebiasaan. Sampai suatu ketika, perkara cinta malah turut andil dalam menambah beban pikiran. Perasaan galau dan sebagainya membuatku kembali terbebani untuk bisa segera tidur. Terkadang, lewat tengah malam, aku masih duduk  memegang pena. Menuliskan kegelisahan di atas selembar kertas sembari memetik gitar yang kubawa dari kampung halaman. Dari kejadian seperti itu, akhirnya terciptalah beberapa lagu.

Berangkat dari ketidakpuasan karena hanya bisa sekadar menyanyikan lagu-lagu yang kutuliskan, aku berupaya untuk mempelajari penciptaan sebuah lagu lengkap dengan musiknya dengan format mp3. Setiap malam, aku mengunduh, menginstal, dan mempelajari berbagai software komputer yang terkait dengan pengolahan lagu. Mulai dari GuitarPro, GoldWave, Audacity, MixCraft, Melodyne, FormatFactory, dan sebagainya. Upaya belajarku berjalan khusyuk karena tak ada interupsi sama sekali. Teman-teman sudah tertidur pulas, handphone pun selalu diam tanpa notifikasi. Aktivitas semacam itu biasa kulakukan sampai pagi hari. 

Di perkuliahan, ada satu pelajaran yang cukup menarik perhatianku. Ialah gambar teknik. Meskipun nilaiku tidak memuaskan, tapi software gambar teknik yang kudapat dari kampus sebenarnya asyik kugunakan saat lewat tengah malam. Inventor namanya. Dalam semalam, aku bisa menghasilkan beberapa gambar objek 3D yang terlintas di benakku. Seperti: laptop, lemari, gitar, dan sebagainya. Wajar saja nilaiku jelek. Sebab objek itu tidak ada yang berhubungan dengan materi pelajaran, yang mana semestinya aku menggambar sebuah mesin beserta bagian-bagiannya.

Di sela-sela kejenuhan berkreasi, waktu tengah malam biasanya kuhabiskan untuk menonton film-film yang kuminta dari teman-temanku. Memang sebaiknya aku meminta, karena kalau download sendiri terlalu banyak makan waktu dan kuota. Film science-fiction, komedi, romance, hingga drama Korea pun kupelototi dalam keheningan malam. Tanpa adanya gangguan dari sekitar, kisah film-fim itu benar-benar bisa dihayati dengan sepenuh hati.

Pernah pula, suatu ketika, karena galau aku menulis buku. Semacam novel namun sebenarnya diary. Berbulan-bulan waktu malamku kuhabiskan untuk hal itu. Lumayan seru dan sedikit bangga setelah aku mencetaknya di percetakan untuk kubaca-baca sendiri. Persis seperti buku-buku lainnya yang biasa dijumpai di rak sastra Gramedia atau toko buku lainnya.

Sebelum sempat menulis,  aktivitas lain yang tepat untuk dilakukan di tengah malam sampai pagi menjelang ialah membaca buku. Buku filsafat, sosial-politik, dan novel-novel dari berbagai genre enak sekali dibaca saat suasana sekitar benar-benar sunyi sepi. Dan kebiasaan-kebiasaan ini terbawa sampai saat ini.

Aktivitas-aktivitas sebagaimana yang dituliskan di atas hanyalah sebagian dari kebiasaan manusia malam. Ada banyak lagi hal-hal kecil lain yang biasa dilakukan. Contohnya: pergi ke warung kopi, belajar servis elektronik, baca ramalan bintang dari berbagai referensi, menjelajahi mesin pencari Google secara acak, dan masih banyak lagi.

Mengenai kehidupan sosial, tentu menjadi seorang manusia malam mempunyai banyak tantangan dan tak sedikit yang berujung pada sebuah kegagalan. Saat masih kuliah, kalau tidak bolos, ya terpaksa duduk di kelas sembari terkantuk-kantuk. Hal ini berdampak pada penurunan nilai akademik. Soal berkawan, karena malam begadang dan justru tidur saat siang, jadi sulit menentukan waktu untuk pergi jalan-jalan misalnya. Soal hubungan dengan pasangan, tak jarang diomeli karena terkendala waktu untuk menepati janji. Soal kerja, kalau shift pagi sering kena denda keterlambatan. Sedangkan kalau shift siang, banyak notifikasi pesan di handphone yang terabaikan, dan terkadang menjadi permasalahan.

Di lingkungan sekitar yang pada umumnya orang-orang tidur malam dan bangun pagi, manusia malam biasa dilabeli sebagai seorang pemalas dan tidak disiplin. "Sudah siang belum bangun, mau jadi apa coba?" Kurang lebih begitulah gambarannya. Akan tetapi, di sisi lain, manusia malam bukan melakukan hal tak berguna saat tengah malam. Mereka belajar, mereka membaca, mereka menulis, mereka menggambar, mereka menciptakan lagu, dan itu semua terjadi sebab suasana malam hari mendukung kegiatan semacam itu. Sepi, tenang, tak ada interupsi; tentu fokus lebih tinggi untuk dapat menemukan inspirasi  dan menciptakan berbagai kreasi. Terutama yang berhubungan dengan seni. Tapi, tentu tidak semua orang mutlak begitu.

Kurang lebih, begitulah sedikit gambaran tentang manusia malam. Hanya saja, ini ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Sehingga tentu tak dapat mewakili keseluruhan orang yang biasa hidup di malam hari.