Mohon tunggu...
Ami Ulfiana
Ami Ulfiana Mohon Tunggu... Penulis - Gadis Pribumi

Untuk mereka yang menyimpan jiwanya rapat-rapat.

Selanjutnya

Tutup

Hobby

Resensi Novel "Cantik Itu Luka"

3 April 2021   11:49 Diperbarui: 3 April 2021   11:51 10594
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Penokohannya sangat rapi dengan karakter yang begitu kuat, tidak ada tokoh yang terbuang percuma. Walaupun setiap tokoh memiliki kisahnya sendiri, hal ini sama sekali tidak mengurangi keterkaitan antar tokoh satu dengan lainnya.

Suguhan paham patriarki begitu kental, terutama dalam penggalan kalimat "Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada,". Saya masih tak habis pikir, Eka berani menggunakan kalimat ini yang tentu saja akan menimbulkan pro kontra. Kalau boleh jujur, kalimat ini menjadi kalimat favorit saya sekaligus yang paling saya hafal. Pandangan saya mengenai pelacur menjadi lebih terbuka. Saya tidak lagi minus, karena kita tidak pernah tahu ada latar belakang apa yang membuatnya terjuan kedalam dunia kelam tersebut.

Selain partiarki, paham komunis juga turut disajikan. Saya menjadi tahu orang-orang komunis itu seperti apa. Beberapa gambaran mengenai kehidupan seorang komunis membuat saya berpikir "Oh ternyata tak semengerikan itu."

Dan yang terakhir mengenai keahlian Eka membuat pembaca ketagihan membaca. Eka pandai membubuhkan rasa penasaran disetiap akhir bab dan juga memberikan kejutan di bab selanjutnya yang tentu saja tidak dapat ditebak.

Sedikit membuka mata ternyata mampu melebarkan jalan pikiran kita. Begitulah yang saya dapatkan dari novel ini. Mungkin selama ini yang kita tahu berbuat baik maka akan memperoleh hal baik juga, iya sih benar namun tak selamanya. Terkadang dari hal-hal negatif yang menurut kita kotor dan menjijikan, justru memberikan hal positif yang sengaja disajikan secara tersirat. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Baiklah cukup sekian resensi saya mengenai Cantik Itu Luka, maaf jika terkesan random. Semoga resensi ini dapat dinikmati pembaca sekaligus menginspirasi diri saya sendiri untuk meresensi novel berikutnya.

...

Kelebihan

Penulis mampu menyajikan serentetan kisah menarik yang menjadi candu bagi saya selaku pembaca untuk terus melanjutkan membaca, sembari menerka hal apa yang akan terjadi. Penataan alur yang begitu apik sekaligus rumit, membuat saya seakan diajak berwisata ke jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Walaupun dikemas dengan bahasa yang cukup berani, novel ini menyangkut berbagai hal serta memberikan banyak pengetahuan dan pesan moral. Seperti resiko yang harus diterima seorang pelacur terhadap apapun yang telah diperbuatnya. Serentetan kisah pilu seperti nyawa dibalas dengan nyawa, dendam dibalas dengan dendam. Alhasil kematian menjadi ujung kekeliruan tersebut. Selain perihal kemanusiaan, novel ini mampu mematahkan spekulasi jika cantik bukanlah segalanya, cantik bukan lagi menjadi simbol kesempurnaan, cantik itu fana. Sebab cantik itu luka.

Kekurangan

Penggunaan bahasa yang cukup berat membuat saya berpikir beberapa kali dalam memahami setiap kalimatnya. Permainan alur maju mundur yang cukup rumit membuat saya harus berpikir ekstra dalam menarik benang merah keterkaitan antar cerita. Selain itu penulis terlalu berani menggunakan kosa kata vulgar seperti 'ngentot', 'tai', 'selangkangan' dan beberapa kosa kata lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Paham patriarki yang penulis terapkan dalam kalimat "Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada," banyak menimbulkan pro dan kontra. Terlebih lagi bagi pembaca yang belum terbiasa dengan bacaan seperti ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun