Mohon tunggu...
hendi cahyadi
hendi cahyadi Mohon Tunggu... Editor - blogging captcha

menulis membaca menonton

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hati-hati Menjaga Lisan dari Mencaci Maki dengan Nama Binatang

5 September 2019   13:11 Diperbarui: 23 Juni 2021   16:14 1167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Menjaga lisan dari mencaci maki orang lain (unsplash/jason-leung)

Misalnya, si A menyebut atau memanggil si B dengan kata-kata :"Dasar kecobong lu" atau "Hai kecobong"

Karena si B sakit hati dengan panggilan itu, lantas si B langsung membalas dengan kata-kata yang lebih kotor lagi : "Dasar Anjing lu" atau "Hai anjing".

Baca juga : Jangan Sampai Komunikasi Kita Penuh dengan Caci Maki

Nah Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan, untuk orang-orang seperti ini yang telah berani menghina mencaci maki merendahkan dengan nama-nama binatang seperti kecobong, kelelawar, babi hutan, atau kata-kata yang jelas-jelas dikategorikan sebagai najis dalam ilmu fiqih seperti anjing atau babi, maka Nabi bersabda :

"Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas." (HR. Muslim no. 2587 dan Abu Dawud no. 4894)

Hadist ini merupakan PR renungan bagi kita semua bahwa kata-kata yang sudah menjadi darah daging dalam diri kita, yang biasa diucapkan, mudah dikeluarkan dari lisan, ternyata dihapan Nabi itu merupakan perbuatan terlarang sekaligus berdosa.

Dengan hadist ini juga, itu sebagai pagar untuk semua anggota tubuh kita terutama lisan yang bukan hanya setiap jam tapi setiap detik mengeluarkan kata-kata yang sering menyakitkan saudara kita.

Mungkin kita menganggap kata-kata itu hanya sebagai bercandan, senda gurau, ucapan reflek karena sudah terbiasa dengan lingkungan, tapi ternyata dihadapan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata kata-kata itu ibarat pedang yang dengan mudah menusuk menyakiti hati saudara kita. 

Baca juga : Gus Dur Sudah Ajarkan Kritik Tanpa Caci Maki

Luka di luar kulit bisa terlihat oleh mata, bisa dengan cepat kita obati, tapi bagaimana jika luka itu ada pada hati saudara. Kita tidak bisa melihat, merasakan, apalagi mengobati luka sakita hati karena kata-kata kita. Hanya orang lain dan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Maha Mengetahuinya.

Dalam kehidupan sehari-hari tak terasa, jangankan kepada saudara, teman, tetangga, atau orang lain yang baru kenal, bahkan kepada binatang pun yang tak punya dosa dan salah, kita sering tanpa sengaja mencaci maki atau menyakitinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun