Saledale, Ibu Tiri yang Jahat (Cerita Rakyat Pulau Rote-Prov. NTT)

20 Juli 2013 19:44:30 Dibaca :

Anggapan orang tentang kehadiran ibu tiri memang beragam. Ada yang berkesimpulan bahwa kehadiran ibu tiri sangat membantu dalam membimbing dan mendidik semua anak tiri. Akan tetapi, kejahatan ibu tiri juga kerap didengar. Paling tidak, ibu Saledale dari pulau Rote menjadi buktinya.

Konon, di Desa Metilopu, Pulau Rote, hiduplah keluarga petani bernama Tukateik bersama dengan seorang isteri yang tercinta, Bingalete namanya. Keduanya dikaruniai tiga orang yang yang ganteng-ganteng. Si sulung bernama Lelu Welang, lalu diikuti oleh Pelang Galing dan Tipa Soli.

Pekerjaan keluarga ini sehari-hari bercocok tanam. Meski begitu, keluhan hidup yang dihadapi tidak pernah terdengar dalam setiap pembicaraan dengan tetangganya. Mereka tidak pernah menyesali hidup sebagai petani kecil. Sang suami pandai menciptakan kondisi yang kondusif. Tak heranlah bila saban hari mereka menghadirkan canda ria, ditambah lagi sang isteri yang senantiasa pasang senyum ditengah anak-anaknya yang rada-rada nakal.

Sayang kehidupan yang harmonis itu harus segera berakhir tatkala sang istri tercinta meninggal. Sang ayah bingung. Siapa yang bakal menjadi pengganti istrinya dalam mendidik anak-anak yang masih kecil itu? Setelah lama hidup menduda, sang pengganti pun ditemukan di desa seberang. Kekasih baru itu bernama Saledale. Orangnya cantik. Sayangnya kecantikan raganya tidak seimbang dengan hatinya. Bagaimana tidak! Di depan sang suami ia bertingkah seperti menyayangi anak tirinya. Apabila sang suami pergi kerja, ia tak memperhatikan anak-anak itu. Kalau sang suami pulang dan bertanya tentang anak-anaknya, Saledale lalu menjawab, baik-baik, sudah diberi makan, dan kebutuhan lainnya sudah dipenuhi semuanya.

Sebagai seorang ayah yang baik, tentu tidak begitu saja menerima pengakuan Saledale. Karena itu, ketika tengah malam tiba, Tukateik mendekati anak-anaknya. Satu per satu ia tanyakan tentang sikap ibu tiri mereka. " Apakah kamu makan pada siang hari? " Sang Ayah berusaha menggali unek-unek yang terpendam dalam hati anak-anaknya.."Tidak pernah Ayah", jawab si sulung dan didukung oleh adik-adiknya. "Lalu sisa -sisa nasi yang belepotan di pipi kamu saat aku pulang, itu apa? " Desak Sang Ayah sembari menahan emosinya." Oh itu, itu benar Ayah, Tapi itu hanya akal-akalan ibu Saledale saja. Dia mengambil sisa-sisa nasi lalu menggosok-gosokkannya pada mulut dan pipi kami, sehingga tampak seperti baru habis makan", sahut anak-anaknya dengan suara yang dibuat rendah. Maklum ibu tiri mereka sedang tidur pulas di kamar sebelah. Mendengar jawaban anaknya, Sang Ayah dongkol juga hatinya. Meskipun demikian, Sang Ayah tidak mengekspresikan kemarahannya di depan anak-anaknya. Sambil merangkul, ia mengajak anak-anaknya untuk tabah dalam menghadapi tantangan hidup.

Keesokan harinya, Tukateik memberitahukan Saledale bahwa dia akan pergi jauh dari Metilopu. "Berapa lama?" Tanya Saledale cukup lembut. "Sehari penuh", jawab Tukateik sambil memohon agar menjaga baik-baik anak-anak. Lalu ia pergi. Sang istri tidak tahu, kalau ini hanya merupakan siasat belaka sang suami. Begitu Saledale bertandang ke rumah tetangga, Tukateik kembali masuk rumah. Lalu bersembunyi di loteng rumah.

Apa yang diceritakan anak-anaknya ternyata benar adanya. Siang itu, ia menyaksikannya sendiri. Saledale tidak mengajak anak-anak itu untuk makan. Remuk redam hatinya. Seketika itu ia menangis. Air matanya membentuk mata air. Lalu mengalir dengan derasnya. Tumpahan air mata itu pun menembusi lantai loteng rumah. Sementara itu Saladale kaget karena wajahnya terkena air. Maklum ia sedang berbaring ria di kamarnya. Namun begitu, ia mengira, air itu adalah air kencing tokek atau cecak sebangsanya.

Saledale langsung ke kamar mandi. Saat itu, Tukateik turun dari lonteng. Ia berpura-pura capai dari perjalanan yang melelahkan. Kemudian setelah Saledale melihat suaminya, ia pun segera menyiapkan makanan. Ia pun berpura tanya pada anak-anaknya. "Kamu sudah makan, `kan?" Sayangnya, anak-anak itu secara polos menjawab, tidak. Mendidihlah darahnya. Lalu ia memarahi ketiganya. Sementara sang suami berpura-pura diam saja, Saledale menambahkan," Anak-anak ini bohong, Pak, tadi sudah makan kenyang sampai berak berkali-kali. Anak apa macam begini !", sewotnya.

Ketika malam turun sempurna, Tukateik perlahan menuju kamar istrinya. Ia tahu, pasti istrinya sedang dongkol terhadap anak-anaknya. Lalu ia duduk di samping Saledale. "Bagaimana sebaiknya, anak-anak kita itu, Saledale?" Ia mencoba menggali pikiran sang istri. Tanpa menunggu jawaban Saledale, Tukateik pun menghibur, "Sungguh berat beban yang harus kamu pikul, terutama ketika aku pergi jauh". Sang istri hanya membungkam. Saat seperti itu, timbul niatnya untuk memarahi istrinya. Tapi ia juga berpikir, pilihan seperti itu bukan menyelesaikan persoalan." Sekarang begini saja, bagaimana kalau kita menghantar mereka ke hutan saja?" Sang suami memberi jalan keluar. Eh… Saledale langsung mengiyakan.

Malam itu, Tukateik tidak dapat tidur. Ia sedih. Ia menyesal jalan keluar yang diputuskannya. Sebenarnya ia mau berusaha membangunkan Saledale untuk mengubah keputusannya. Tetapi ia takut sama istrinya, nanti dibilang tidak punya pendirian. Lagi pula ia malu dengan tetangga, kalau ia menceraikan Saledale yang cantik itu. "Tidak tahu malu, duda mendapat jodoh yang masih perawan. Lalu diceraikan seenaknya", Tukateik mencoba memperkirakan tanggapan tetangganya.

Pagi yang sudah ditentukan pun tiba. Tukateik bergegas menghampiri anak-anaknya. Saledale pun tidak ketinggalan. Sementara itu, anak-anak itu kaget.

Bagaimana tidak ! Sepagi itu, ibu tiri mereka memberikan tiga buah ketupat.

"Bawa ini untuk makan di perjalanan", pesan Saledale kepada anak-anaknya. "Sejak hari ini kamu tinggalkan rumah. Kamu hidup di hutan", sambung sang Ayah berpura-pura marah karena di sampingnya, Saledale masih berdiri.

Tukateik dapat melihat apa yang tersirat di pelupuk mata anak-anaknya.

Karena itu, ia pun mengajak Saledale untuk menghantar ketiga anaknya itu ke hutan. Setelah jauh, Tukateik berkata,"Cukup sampai di sini saja kami hantar kalian.Tinggallah di sini!' Tetapi anak sulungnya, Lelu Welang, menjawab,"Kalau kami masih mendengar suara lesung maka kami akan merasa sedih". Lalu mereka berjalan lagi. Setelah merasa cukup jauh, Tukateik berkata lagi,"Cukup sampai di sini saja". Tetapi anak kedua, Pelang Galing menjawab,"Kalau kami masih mendengar suara anjing dan ayam berkokok maka kami merasa sedih'. Mereka kemudian berjalan lagi hingga tiba di suatu tempat bernama Ne'igun Fe'daen, mereka pun berpisah.

Sepeninggal Tukateik dan Saledale, mereka pun lapar. Kemudian mereka membuka bekal masing-masing. Tiba-tiba 'malakale ma leolesu' (=tangisan) mereka pun tak terbendung. Apa pasal ? Ternyata ketupat pemberian ibu tiri, Saledale, bukan berisi nasi. Ketupat pertama berisi 'abu ra'o' (=abu dapur), kedua, kotoran kucing, dan ketiga isinya kotoran babi.

Meski perut mereka terasa lapar, mereka terus berjalan mengitari hutan. Di ujung perjalanan, mereka bertemu dengan seorang tua yang lumpuh, berjenggot panjang, dan sebagian jenggotnya mengikat sebuah gong besar. Ketiganya, sama-sama heran. Mereka penasaran. "Bagaimana Bapak dapat hidup tenang, senang, dan nyaman di hutan ini, padahal Bapak sendiri menderita lumpuh ?" Mereka mencoba membongkar isi hati si Bapak Tua itu. "Gong yang terikat di jenggotku sangat mujarab. Apa saja yang saya minta pasti dipenuhi. Kalau saya lapar, tinggal memukul saja gong ini", si pemilik jenggot menyahuti pertanyaan. "Kami bertiga lapar, Bapak", si Tipa Soli memberitahu. Bapak Tua itu langsung memukul gong tersebut sebanyak dua kali. Maka di depan mereka terhidang nasi, daging, dan buah-buahan. Mereka pun melahap sampai kenyang.

Di senja itu mereka tidur lebih awal. Kepergian malam pun tidak dirasakannya. Ketika pagi itu mereka bangun, si Bapak Tua sudah menghilang. Mereka hanya mendapatkan gongnya. Dengan gong ajaib itu pulalah kebutuhan mereka pagi itu terpenuhi. Mereka berterima kasih kepada si Bapak Tua yang rela menolong mereka dari penderitaan yang berkepanjangan.

Perjalanan mereka diteruskan. Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang bernama Kosikona Ma Heladulu. Di situlah mereka menetap. Mereka membangun sebuah istana megah. Mereka begitu bahagia. Semua kebutuhan, semuanya terpenuhi. Caranya, ya tinggal saja memukul gong sebanyak dua kali. Luar biasa !

Berita keberhasilan mereka sampai juga di telinga Tukateik dan Saledale, sang Ayah dan Ibu tiri yang mengasingkan mereka. Sebenarnya, mereka malu sekali atas tindakan yang buruk itu. Tetapi karena keduanya jatuh miskin, timbul juga niatnya untuk mendatangi anak-anaknya yang sukses itu. Kedatangan kedua orangtua itu disambut baik oleh anak-anaknya.

Ketika mereka mau pulang, anak-anaknya menahan mereka. Tetapi dengan alasan yang masuk di akal, akhirnya keduanya dilepaskan. Sebelum keduanya pulang, anak-anaknya memberikan seekor kerbau dan dua bakul padi sebagai bukti kasih sayang anak kepada orangtua. Mereka pun berpesan, kalau membutuhkan sesuatu, jangan ragu-ragu untuk datang lagi. "Anak-anak ini baik sekali",batin Saledale sembari merenungi lagi tindakannya sewaktu anak-anak itu ada di sampingnya. Tukateik mengetahui apa yang ada dalam pikiran Saledale. Karena itu, ia membisikkan kata,"Minta maaflah kepada mereka". Sayangnya, Saledale tidak punya keberanian untuk melakukannya.

Dalam perjalanan pulang, Tukateik yang memegang kerbau dan membawa padi sebakul. Sedangkan sebakul lainnya dipikul oleh Saledale. Ketika mereka tiba di jalan yang agak menurun, tepatnya di Desa Piluk , Tukateik meminta Saledale untuk menarik kerbau. Saledale menerimanya. Mereka pun berjalan lagi, karena awan mendung dan sebentar lagi hujan pasti turun dengan derasnya.

Tak seberapa lama, Tukateik kaget karena Saledale tiba-tiba berada di tanduk kerbau, sementara tanduk sebelahnya tergantung bakul padi. Untuk menolongnya, Tukateik tak sanggup. Sebab selain dia barusan membuang hajat (WC besar) juga jarak keduanya agak berjauhan. Apalagi, kerbau itu berlari kencang. Dalam pada itu, Saledale pun tidak sempat meminta tolong, karena kerbau tersebut langsung menanduk perutnya sehingga darah segar mencurat dengan cepat. Bakul padi akhirnya jatuh di sebuah tempat bernama Lapudale, sedangkan Saledale di suatu tempat yang bernama Kosi.

Tukateik memang tidak dapat berbuat apa-apa. Nyawa Saledale sudah melayang, padi-padi sudah berhamburan di Lapudale (=kini di musim hujan padi yang terbuang itu tumbuh dengan sendirinya tapi tidak bisa dimakan karena berwarna hitam), juga dia sendiri sudah tua bangka. Satu-satunya jalan, dia kembali menemui anak-anaknya di Kosikona Ma Heladulu dan hidup bersama dengan anak-anaknya yang sudah kaya raya itu.***)

Usman D. Ganggang

/usmandg

Berawal dari cerita, selanjutnya aku menulis tentang sesuatu, iya akhirnya tercipta sebuah simpulan, menulis adalah roh menuntaskan masalah
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?