Mohon tunggu...
Tigaris Alifandi
Tigaris Alifandi Mohon Tunggu... Teknisi - Karyawan BUMN

Kuli penikmat ketenangan. Membaca dan menulis ditengah padatnya pekerjaan | Blog : https://tigarisme.com/ | Surel : tigarboker@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Regenerasi Petani dan Revolusi Mental Guna Mewujudkan Swasembada Pangan

22 Mei 2019   06:50 Diperbarui: 22 Mei 2019   07:05 56
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi petani. Gambar dari CNNIndonesia.com

Namun, ketika kejayaan maritim telah berakhir dan volume perdagangan menurun drastis, masyarakat akan beralih profesi, pergi ke desa pedalaman menjadi petani. Tradisi maritim ternyata mengakar betul dalam masyarakat kita. 

Juga, profesi di sektor agraria dianggap kurang menjanjikan semenjak dahulu. Harapan mencari penghidupan yang lebih baik memaksa beberapa orang meninggalkan rutinitas sebagai buruh tani. Seperti yang terjadi sekarang.

Entah ini sekedar penyakit musiman. Atau pandangan tersebut sudah menetap dan terpatri dalam pikiran sebagian besar anak muda kita yang notabene adalah tulang punggung pertanian masa depan.

Sekarang, masalah yang kita hadapi lebih kompleks lagi. Niat mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan terbentur masalah faktor produksi yang terus menyusut. Terutama aspek sosial kemasyarakatan yang perlu diperhatikan betul.

Infrastruktur bisa kita bangun sebanyak mungkin. Ada yang lebih sulit daripada membangun sebuah prasarana penunjang pertanian, yaitu membangun mental masyarakat mandiri yang selalu siap mewujudkan swasembada.

Regenerasi petani yang kita rancang perlu melahirkan tak hanya seorang petani konvensional seperti yang kita kenal sekarang. Tenaga muda yang akan menjadi petani masa depan  harus menjadi generasi petani yang tidak kolot.

 Tak hanya harus dibekali pengetahuan tentang bidang pertanian yang mumpuni, namun perlu juga keahlian untuk mengoptimalisasi teknologi terbaru sekaligus memiliki soft skill berupa manajemen kompleks. Dikarenakan pada zaman sekarang tantangan bisnis semakin kompleks juga.

Mungkin banyak lulusan pertanian yang akhirnya berakhir bukan di bidang pertanian. Seperti yang pernah disindir Presiden Joko Widodo. Lulusan pertanian malah bekerja di dunia perbankan.

Masalahnya bukan hanya sekedar pandangan bahwa profesi petani kurang elit, ataupun kurang menjanjikan juga. Bisa jadi banyak sarjana pertanian yang kurang beruntung untuk memiliki sebuah lahan yang bisa digunakan sebagai ladang aplikasi wawasan yang dimiliki.

Di sini perlu perhatian dari pemerintah. Setidaknya faktor produksi seperti tanah produktif tidak semudah itu dilepas kepada para pelaku usaha seperti pengembang properti. 

Sebaliknya, perlu sebuah model bisnis yang mampu membuat bisnis pertanian lebih menggeliat lagi. Juga menarik anak muda untuk berbisnis pertanian dan bertani.  Tidak seperti tradisi kita, dimana bisnis pertanian biasanya dikelola terbatas dalam lingkup keluarga, secara turun temurun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun