Mohon tunggu...
Tigaris Alifandi
Tigaris Alifandi Mohon Tunggu... Teknisi - Karyawan BUMN

Kuli penikmat ketenangan. Membaca dan menulis ditengah padatnya pekerjaan | Blog : https://tigarisme.com/ | Surel : tigarboker@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Regenerasi Petani dan Revolusi Mental Guna Mewujudkan Swasembada Pangan

22 Mei 2019   06:50 Diperbarui: 22 Mei 2019   07:05 56
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi petani. Gambar dari CNNIndonesia.com

Kondisi yang terjadi malah sebaliknya memang. Jadi, tantangan untuk mewujudkan swasembada pangan semakin sulit seiring berjalannya waktu.

Ditambah lagi persoalan mengenai jumlah petani yang terus berkurang. Dilansir dari CNN Indonesia.com (5 November 2018), jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani menurun berdasarkan data dari BPS untuk Agustus 2018. 

Dari angka 35,9 juta orang (atau 29,68% dari jumlah penduduk bekerja sebesar 121,02 juta) pada tahun 2017, menjadi 35,7 juta orang (28,79% dari jumlah penduduk bekerja sebesar 124,01 juta orang).

Banyak petani yang sengaja alih profesi memang. Apalagi sekarang pemerintah menggalakkan pembangunan infrastruktur pedesaan. Sebagian beralih menjadi buruh di bidang infrastruktur, sebagian pula ada yang sengaja pergi ke kota mencari penghasilan yang lebih baik.

Bekerja sebagai petani ataupun buruh tani dianggap kurang meyakinkan dari segi penghasilan. Pemikiran demikian banyak yang hinggap dalam benak para pemuda. Meskipun ia adalah anak petani.

Bagi petani pemilik lahan, dengan kekuatan finansial yang mumpuni akan menyekolahkan anaknya ke kota. Bukannya salah, namun tak dapat dipungkiri jikalau kehidupan yang sangat urban kelak akan mempengaruhi pandangan anak terhadap profesi di bidang pertanian. 

Bisa jadi ia akan tumbuh menjadi pemuda sukses yang kelak  berpikiran bidang pertanian tak lagi menjanjikan sebagai bisnis. Alhasil sawah warisan orang tua bisa saja dijual atau bahkan dialihfungsikan menjadi bisnis modern yang sedang berkembang, macam kafe ataupun pertokoan.

Mengutip penemuan A. Reid, sejarawan asal Australia yang meneliti jejak sejarah kehidupan masyarakat di Asia Tenggara, dalam opini Ong Hok Ham berjudul "Dulu Indonesia Punya Kota-Kota Besar". 

Reid mengungkapkan bahwa Indonesia sejak lama telah menjadi bagian dunia paling urban. Kejayaan maritim beberapa kerajaan membuat struktur masyarakat bergantung pada perdagangan. Diikuti urbanisasi menuju kota besar yang secara geografis biasanya terletak di pesisir.

Tercatat, ketika sebuah kerajaan mencapai kemasyhuran, seperti Mataram dibawah Sultan Agung dan Aceh dibawah Iskandar Muda lebih banyak mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Disebabkan profesi sebagian besar masyarakat di bidang maritim dan perdagangan.

Ong Hok Ham juga menuliskan bahwa sebenarnya budaya agraris baru muncul di Nusantara sekitar pertengahan abad 18. Sebelumnya, profesi macam pedagang, nelayan dan pelaut menjadi pekerjaan mayoritas dan favorit masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun