Asyifa Alfiyanti
Asyifa Alfiyanti Pelajar

Perempuan remaja yang haus akan sastra

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Tak Pernah Kembali

16 April 2017   22:55 Diperbarui: 16 April 2017   23:15 227 5 2

Bagiku dunia ini bak rumah kosong yang tak berpenghuni sama sekali dan aku berada di dalamnya. Sepi. Gelap menyelimuti semua dinding ini. Tak ada yang peduli denganku. Entahlah berada dimanakah aku sekarang.

Aku benci sendiri. Aku benci sepi. Aku benci kemewahan. Aku tak butuh semua barang berharga ini. Aku hanya butuh kawan. Aku hanya butuh tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahku setiap hari. Hanya itu. Tak lebih.

Orang  - orang menganggapku gadis remaja yang misterius dan aneh. Mungkin karena aku tumbuh menjadi remaja yang pendiam dan tak suka bergaul dengan sebayaku. Mereka salah paham semuanya. Aku bukan tak suka bergaul, melainkan mereka yang tak mau bergaul denganku. Mungkin mereka takut tertular dengan penyakit diamku. Biarlah aku tak peduli.

Namaku Cahaya Dinar. Sekarang aku duduk di bangku kelas 12. Aku anak tunggal yang kesepian. Orangtuaku sibuk dengan bisnisnya di Negeri Kincir Angin. Tak pernah pulang ke Indonesia. Hanya uangnya saja yang datang menjengukku. Entahlah, mungkin mereka tak pernah merasa rindu sepertiku. Namaku memang aneh katanya. "Cahaya" bukankah hidupku selalu gelap dan sepi? Lantas mengapa namaku tak memberikanku penerang? Entahlah.

Hari ini aku pergi ke sekolah berjalan kaki. Aku lebih suka berjalan kaki dibanding membawa mobil ke sekolah. Toh, aku tak butuh mobil sebenarnya. Hanya orang tuaku yang membeli nya sekitar 2 tahun yang lalu saat mereka tahu jika aku akan masuk SMA. Tak butuh aku mobil ini. Aku butuh kawan!

"BRAAAAK" buku buku tebal itu tiba tiba jatuh di depan kakiku. Sontak aku bertekuk lutut mengambilnya. Ternyata yang membawa seorang laku laki memakai seragam SMA sepertiku. "Terima kasih telah membantuku"ucapnya, tak ku pedulikan langsung saja aku jalan. Toh, tak ada lagi yang harus ku lakukan. Membantunya sudah kan?

"Hei kau tunggu,aku tau raut wajahmu menyimpan keanehan,aku tau kau kesepian nona,bolehkah aku kenal denganmu,aku ingin menjadi sahabatmu nona"teriaknya. Apa yang kau inginkan sebenarnya. Ku bantu sudah.

Dia mengejarku. Langkahku pun terhenti. "Siapa namamu"tanyanya, "Dinar"jawabku, "aku ingin menjadi kawanmu"pintanya, "tunggu aku di depan stasiun Pondok Cina pukul 14.00 nanti jika kau memang berniat untuk menjadi kawanku"jawabku dengan ketus, "baiklah"jawabnya.

Aku pun mengikuti kegiatan di sekolah seperti biasanya. Tak ku pikirkan kembali pertemuan itu. Paling dia tidak akan datang. Tetapi, ada yang berbeda pada diriku. Aku penasaran sekali apakah ia akan menepati syaratku.

Bel pulang berdenting dengan lantang. Murid - murid berhamburan keluar gerbang sekolah. Aku pun ikut bergegas pergi menuju stasiun. Tak sabar ingin membuktikan syaratku itu.

***

Dari jauh sudah terlihat laki laki itu, masih dengan buku buku tebal di tangannya, entahlah apa gunanya buku buku itu. "Dinar"panggilnya, aku pun menghampirinya "ku pikir kau tak akan menepatinya" "aku tak semunafik itu Din"jawabnya.

Dia mengajakku duduk di kursi tunggu stasiun. "Namaku Riyan,setiap hari aku ke sekolah naik commuter line ini"jelasnya sambil menunjuk kereta yang sedang berhenti. "Sudah lama kau menungguku?"tanyaku, "30 menit yang lalu aku telah sampai"jawabnya, "jika kau ingin bertemu denganku esok hari,tunggu saja aku disini,aku pasti datang"lanjutnya.

Setelah itu, dia mengajakku ke taman dekat stasiun. Nyaman sekali suasananya. Dia mengajakku belajar bersama. Sebenarnya dia yang mengajariku. Pintar sekali ia, kebetulan kami sama sama duduk di bangku kelas 12.

"Eh kau mengapa ingin menjadi kawanku?"tanyaku, "kau itu unik sekali,membuatku penasaran ingin tahu bagaimana sifatmu yang sebenarnya"jawabnya.

Unik? Bukankah selama ini orang orang menilaiku kalau aku ini seseorang yang misterius?

Aku dan dia hanya sahabat. Tak lebih dari itu. Jangan kau berpikir yang tidak tidak dahulu.

Hari - hari ku menjadi indah karenanya. Tak kurasakan lagi kesepian dan kegelapan dalam hidupku. Semuanya penuh warna. Disaat aku sedih dia selalu menghiburku dengan leluconnya itu. Senang sekali aku. Mulai detik ini aku akan terus berdoa kepada sang Khalik untuk jangan pernah pisahkan aku dengannya.

Setiap hari kami selalu bertemu di stasiun. Seperti biasa,dia selalu mengajakku ke taman itu. Namun, hari ini ada yang berbeda. Setelah sebulan lamanya aku mengenal dia.

"Din,jikalau nanti aku pergi meninggalkanmu untuk selamanya,jangan pernah kau merasa sendiri lagi,jangan pernah kau merasa sepi,percayalah selalu ada jiwa yang selalu bersamamu"ucapnya. Entah mengapa aku tak menyadari ucapannya,yang ku tahu kali ini mungkin dia sedang mengeluarkan leluconnya. Aku hanya sibuk dengan es krim yang tadi ia belikan.

Namun, takdir tetaplah takdir. Esok harinya, aku menunggunya di peron stasiun. Aku ingin sekali memamerkan nilai ulangan harian kimia ku yang mendapat nilai 100. Nihil semuanya, tak ku temukan ia turun dari gerbong kereta. Aku pun sedih sekali. Aku bergegas pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, ku nyalakan televisi di kamarku, semua stasiun televisi menyajikan berita terkini "tragedi stasiun Manggarai". Tadi siang ada kecelakaan kereta di stasiun manggarai. Gerbong kereta itu terguling saat hampir sampai di depan peron Manggarai. Semua orang yang ada di kereta itu tewas di tempat. Tak ada yang selamat.

Di pikiranku hanya Riyan. Kereta yang terguling itu adalah kereta yang biasa dinaiki oleh Riyan. Tak tahu aku keadaannya sekarang. Yang ku harap ia tak ada di kereta itu. Menumpang di kereta lainnya.

***

Esok hari aku kembali menunggunya di peron stasiun. Tak ada dia lagi ya Tuhan. Aku duduk di kursi tunggu. Meratapi setiap kereta yang lewat. Ku harap ada seseorang berwajah menyenangkan yang turun dari gerbong itu. Nihil, tak ada dia.

Seminggu ku habiskan menunggu ia di stasiun ini. Dia tak pernah datang. Hanya bayangannya saja yang terlintas di benakku. Aku rindu berbagi keluh kesah dengannya.

Hingga di siang yang mendung itu. Seseorang mengenakan seragam sama seperti Riyan,datang menghampiriku dengan membawa sebuah foto kecil ditangannya. "Hei,apakah kau Dinar?"tanyanya, "ya aku Dinar kau siapa?"jawabku, "aku Febri temannya Riyan,aku datang membawa kabar buruk yang harus kau dengar,maaf aku baru menyampaikannya sekarang"jelasnya, "dimana Riyan?"tanyaku, "Din kau harus mengerti,kau harus tau,bahwa kini Riyan tak lagi bisa menemani hari harimu, Riyan telah pergi meninggalkan kita, Riyan menjadi korban kecelakaan kereta kemarin Din, kau tahu kan bahwa tak ada satu pun jiwa yang terselamatkan, Riyan hanya berpesan kepadaku untuk mengabari semua orang orang terpenting dalam hidupnya,maaf aku harus pergi sekarang,ku harap kau mengerti Din"jelasnya.

Aku hanya terpekur dalam kesedihan ini. Riyan telah pergi meninggalkanku sendiri. Tak ada warna di dalam hidupku. Hanya ada duka dan luka. Namun, takdir tetaplah takdir. Tak ada yang bisa mengubahnya.

Aku benci pertemuan itu. Aku benci semuanya. Kehilangan seseorang itu sangat menyakitkan bagiku.

Riyan tak pernah kembali ke hari hari ku lagi.

Ku coba tegar menghadapi semua ini. Aku percaya suatu hari nanti akan kutemukan seseorang seperti dia lagi. Paling tidak aku berharap di akhirat nanti aku bisa bertemu dengannya hanya sekedar  untuk mengucapkan terima kasih kepadanya karena dia pernah memberi warna di hidupku.