Mohon tunggu...
Yana Haudy
Yana Haudy Mohon Tunggu... Pemirsa

Lahir-besar di Betawi berayah suku Banjar beribu Sunda. Bersuamikan Jawa beranak-anak Bhineka Tunggal Ika.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Membandingkan Penghasilan Menjadi Ghostwriter dengan Menulis Buku Sendiri

21 Mei 2020   11:43 Diperbarui: 21 Mei 2020   19:07 1160 68 36 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membandingkan Penghasilan Menjadi Ghostwriter dengan Menulis Buku Sendiri
Ilustrasi (Sumber: Fortune.com/SEBASTIEN THIBAULT)

Berapa royalti yang kita dapatkan dari penerbit untuk buku yang kita tulis? Jika naskah dijual-putus uang yang bisa didapat seorang penulis berkisar antara Rp 1,5 juta sampai Rp 10 juta. 

Jika memakai sistem royalti, penulis debutan biasanya dapat 5 persen dari harga buku. Jika si penulis menganggap naskahnya sangat bagus dan dia jago bernegosiasi bisa saja dapat 10 persen, tapi itu amat langka karena penulis kawakan ternama saja dapat royalti tak lebih dari 15 persen. Royalti yang diterima penulis dari penerbit juga harus dipotong pajak.

Penulis yang baru debut umumnya "tidak diperkenankan" menulis lebih dari 200 halaman A4 untuk menghindari kerugian besar akibat biaya cetak yang tinggi jika buku tidak laku. Banyak juga penulis/novelis yang menerbitkan buku secara self-publishing karena ingin bebas menentukan macam-macamnya sendiri.

Karena itu jika ingin kaya dari menulis buku, maka kita harus menulis setidaknya belasan buku pertahun atau menghasilkan karya yang meledak di pasaran, syukur-syukur diangkat jadi film atau sinetron, bisa tambah gendut rekening kita.

Namun sangat sulit bagi penulis menghasilkan belasan buku hanya dalam setahun. Membuat novel saja memerlukan riset pustaka (dan data) dan jika perlu harus mewawancarai atau mengobservasi orang, dan itu makan waktu.

Mari kita tengok penghasilan ghostwriter (penulis bayangan), tentang ghostwriter bisa dibaca di sini karena ghostwriter bukanlah penulis genre hantu atau horor.

Karena saya belum mengetahui apakah ada wadah khusus bagi para ghostwriter profesional berbagi info soal pendapatan, maka saya tuturkan berdasarkan pengalaman pribadi.

Pada 2006 saya menulis untuk seorang veteran yang ingin menulis buku pengalaman beliau sebagai pejuang untuk kenang-kenangan bagi para anak, cucu, dan koleganya. Saya bantu beliau menulis dan saya dapat bayaran Rp 2 juta untuk menulis sebanyak 150 halaman A4. Sedikit ya? Iya, sih, Kompasiana saja pernah memberi K-Reward sampai Rp 4 juta.

Beliau memberikan buku hariannya kepada saya, lalu saya rapikan menjadi naskah buku. Setelah selesai ternyata beliau ingin juga saya bantu terbitkan, maka kami masukkan ke penerbit indie karena hanya akan dicetak sebanyak 250 eksemplar. Dan untuk itu saya dapat tambahan Rp2jt dari beliau.

Kemudian saya menulis buku non-fiksi tentang sepak bola sesuai permintaan dari seorang asisten pelatih timnas junior waktu itu. Naskah itu kemudian terbit di penerbit yang tergabung dalam Kompas Gramedia Grup. Saya dapat bayaran Rp 4,9 juta dari asisten pelatih tersebut. Nanggung yah kenapa gak 5 juta sekalian. Itu juga sudah hasil dari nego keras, heuheuheu!

Lalu ada permintaan membuat novel dari seorang ibu. Karena si ibu hanya punya ide dan imajinasi tanpa naskah mentah apapun, maka kali ini saya dibayar Rp 6,3 juta.

Saya benar-benar harus menulis dari nol seperti membuat novel saya sendiri. Setahun kemudian ketika bukunya sudah diterbitkan penerbit mayor, ibu itu memberi "tanda terima kasih" Rp 2 juta untuk saya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN