Mohon tunggu...
Y. Airy
Y. Airy Mohon Tunggu...

Hanya seseorang yang mencintai kata, Meraciknya.... Facebook ; Yalie Airy Twitter ; @itsmejustairy, Blog : duniafiksiyairy.wordpess.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Artikel Utama

Tempat Terindah #11 ; Ingin Aku Memelukmu

1 April 2015   06:30 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:42 0 5 12 Mohon Tunggu...

Chapther 11

Cheryl cukup terkejut ketika seseorang menariknya saat dirinya hendak membuka pintu mobilnya. Orang itu menyandarkannya di badan mobil dan mengurungnya dengan kedua tangannya. "Hai, sayang!" sapanya. "Ryan!" kesal Cheryl menepuk dada pria itu, ada tawa merdu yang keluar dari mulut Ryan. "kamu mengagetkanku saja!" "Memangnya kamu kira siapa, rampok? Aku memang ingin sekali merampok hatimu!" "Itu tidak lucu, kamu kan bisa menghampiriku secara baik-baik!" "Aku justru ingin kamu terkejut!" Cheryl menatapnya tajam, Ryan memang penuh kejutan. Tapi entah mengapa hal itu belum mampu menyentuh hatinya. "Kamu ngapain ke sini?" "Jemput kamu!" "Aku kan bawa mobil," "Aku mau kamu ikut aku, ada yang mau aku tunjukin!" pintanya. Cheryl mendesah, "kamu yakin itu bisa membuatku terkesan?" tantangnya, "sure!" yakin Ryan. "Ok, tapi jika tidak aku akan menghukunmu!" "Whatever!" sahutnya seraya menurunkan pandangannya ke bibir wanita di dalam kekuasaannya itu, Cheryl tahu arah mata pria itu, ia segera mendorong pipi Ryan sebelum pria itu melakukan apa yang terbersit di otaknya. "Aku akan menyuruh sopir mengambil mobilku," serunya mendorong tubuh Ryan menjauh darinya. Pria itu hanya tersenyum saja, sementara Alisa berada di jok belakang mobil Ridwan. Di bagian depan ada Nadine. Suasana cukup sepi, sesekali Ridwan akan melirik spion tengah untuk melihat Alisa. Wanita itu terus saja melempar pandangannya keluar kaca, dia hanya menoleh ketika Nadine berbicara padanya dan menyahut dengan kata seperlunya saja. ***** Ryan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah megah yang belum 100% itu, ia mengajak Cheryl turun. Terlihat masih ada pekerja di bagian kiri yang sibuk, "Kita ngapain ke sini?" tanya Cheryl. Ryan adalah seorang arsitek dengan bayaran yang lumayan fantastis, "bagaimana menurutmu?" tanya Ryan. Cheryl sedikit bingung, "apanya?" "Rumah ini!" seru Ryan. Cheryl menatap rumah di depannya, rumah itu memang cantik. Cukup megah meski belum selesai. "memang ini belum selesai, aku masih membangun bagian kiri dan belakangnya. Di bagian belakang ada paviliun yang bisa kamu gunakan untuk menari nantinya, mungkin suatu saat kamu ingin mengajari anak-anak kita menjadi balerina juga!" Cheryl menatapnya heran, "sayang, rumah ini aku bangun untuk kamu!" seru Ryan seraya merangkulnya. "semoga saja kamu suka, ini akan menjadi hadiahku buatmu untuk pernikahan kita nanti!" "Hadiah pernikahan!" desis Cheryl. "Iya, kamu suka kan?" "Memangnya....kamu serius mau menikah sama aku?" Ryan tertawa merdu, "memangnya kamu pikir aku main-main, sayang....aku cinta sama kamu. Dan aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia!" katanya menurunkan lengannya dari pundak Cheryl lalu memungut tangannya yang lembut dan lentik. Cheryl hanya menatapnya, "aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa!" janjinya. "Ryan...!" "Kamu mau lihat ke dalam?" tawarnya, "ayo!" lanjutnya menarik Cheryl melangkah ke dalam rumah itu. Rumah itu memang indah, seperti rumah impian. Cheryl hanya diam karena ia tak tahu harus bagaiman menanggapi semua ocehan Ryan yang sangat yakin bahwa mereka akan sampai di pelaminan. Padahal Cheryl malah membayangkan pria lain yang sedang menunjukan rumah itu padanya. Sesampainya di rumah sakit, Alisa terkejut karena kondisi mamanya semakin melemah. Dokter Reza sedang memeriksanya di dalam. Alisa mengintip dari kaca kecil di pintu itu, Nadine di sampingnya sementara Ridwan sedikit menjaga jarak. Tak berapa lama dokter Reza keluar dengan wajah muram. "Dok, bagaimana mama?" tanya Alisa, "Kondisi mamamu menurun drastis, dia sudah sadar dan ingin bertemu denganmu. Tapi....jangan biarkan dia bicara terlalu banyak, takutnya itu akan membuat kondisinya makin memburuk!" pesan dokter Reza. Alisa langsung berhambur masuk ke dalam, "dok, apa saya juga boleh masuk menemani Alisa?" tanya Nadine, dokter Reza memandangnya sejenak lalu mengangguk. Ia pikir Alisa akan membutuhkan teman untuk bisa menenangkannya. Nadine menyusul ke dalam. "Ma!" desis Alisa. Sinta tersenyum lembut pada putrinya, di lihatnya buliran bening yang menggenangi mata gadis itu. Ia mengangkat tangannya perlahan dan menyeka airmatanya. "jangan menangis sayang, mama baik-baik saja!" lirih Sinta. Alisa meyentuh tangan mamanya di pipinya, menggenggamnya hangat dan menciuminya. Nadine berdiri di samping Alisa, menyentuh bahunya. "Kamu gadis yang kuat, jadi kamu tidak boleh jadi lemah!" "Mama jangan banyak bicara, dokter Reza menyuruh....!" "Sayang...., maafkan mama!" potong Sinta, "mama tidak sempat menjadi ibu yang baik buatmu, mama tidak memiliki banyak waktu-untuk bisa menemanimu!" Alisa menggeleng, "nggak, mama akan baik-baik saja. Mama hanya perlu banyak istirahat!" serunya dengan isakan. "maafkan mama!" "Berhenti minta maaf ma, atau aku nggak akan maafin mama!" Sinta mencoba tersenyum meski ada linangan airmata di pipinya, ia menatap Nadine. "Nadine...!" desisnya. "iya tante!" sahut Nadine yang ikut menitikan airmata. "tante senang, kamu menjadi teman Alisa. Tante...titip Alisa ya!" "Tante ini bicara apa? Tante jangan bicara seperti itu!" "Berjanjilah...., kamu akan selalu menjadi teman Alisa. Tante akan bahagia jika kalian bisa terus bersama sebagai teman!" "Tante jangan khawatir, aku tidak akan meninggalkan Alisa apapun yang terjadi. Aku akan selalu menjadi temannya, sahabatnya, bahkan saudaranya!" "Terima kasih ya!" Ridwan melihat dari kaca di pintu, hanya itu yang bisa di lakukannya. Seandainya Nadine tak ada di sana tentu saja ia akan masuk ke dalam dan menguatkan Alisa. "Mama jangan bicara lagi, mama harus istirahat!" pinta Alisa. "Mama sayang sama kamu, jaga dirimu baik-baik. Mama percaya....kamu gadis yang kuat, mama sayang sama kamu....maafkan mama!" Ridwan masih terpaku di depan pintu, ia melihat Alisa memperdalam tangisnya saat Sinta menghembuskan nafas terakhirnya. Nadine memeluknya untuk memberinya kekuatan, kedua wanita itu menangis bersama. Alisa....seandainya aku bisa, aku ingin ada di sana. Di sampingmu, memelukmu, tapi aku tak bisa lakukan itu sekarang. Aku tidak bisa! Ridwan hanya mampu terpaku di sana, di tempatnya berdiri. Menyaksikan kedua wanita itu menangis bersama, airmatanya juga turut tumpah. Tapi ia tak bisa melakukan apapun, selain hanya bisa menyaksikan. Bahkan sampai di pemakaman, ingin sekali ia memeluk Alisa. Menyeka airmatanya, tapi lagi-lagi ia hanya bisa diam menatapnya. Meski ia sempat melihat Alisa meliriknya dengan airmata, tapi keberadaan Nadine membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Dan ia juga tak bisa menyalahkan Nadine atas hal itu. Setelah mengantar Alisa ke rumahnya, Nadine langsung minta di antar pulang. "Sebenarnya aku nggak tega meninggalkan Alisa di saat seperti ini, apa sebaiknya aku kembali dan menemaninya saja?" "Ehm....itu...., aku rasa mungkin dia sedang butuh sendiri!" "Begitukah?" "Terkadang itu perlu kan!" "Aku tak bisa membayangkan jika aku ada pada posisinya, baru saja berkumpul dan sekarang sudah harus berpisah lagi!" Ridwan terdiam, ia juga merasakan hal yang sama. Ia bahkan menyesal tak bisa meminjamkan bahunya kepada wanita itu di saat wanita itu begitu membutuhkannya. Ia hanya bisa memandangnya dalam diam. Rasanya setelah mengantar Nadine ia ingin segera berlari menemui Alisa, tapi apakah di saat seperti ini Alisa akan menyambutnya? **********

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x