Mohon tunggu...
Julian Haganah Howay
Julian Haganah Howay Mohon Tunggu... Freelancer - Journalist and Freelance Writer

Journalist, freelance writer and backpacker. "Menulis untuk pencerahan, pencerdasan dan perubahan.."

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Memori Arfak Festival Yang Pertama

8 Februari 2016   22:30 Diperbarui: 9 Februari 2016   14:38 903
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Perjalanan kami melewati lokasi bangunan baru Kantor Bupati Manokwari yang sudah dua tahun berdiri megah. Pemindahan lokasi kantor baru ini dilakukan seiring pengembangan Kota Manokwari sebagai ibukota Provinsi Papua Barat.  Saya sempat kagum melihat kawasan di sekitar kantor bupati yang  dulunya hanya dipenuhi pepohonan, semak belukar dan ilalang. Namun beberapa tahun berselang kawasan ini sudah ramai dijejali perumahan modern.

Beberapa hotel mewah dan perkantoran sudah selesai dibangun. Kami juga melewati lokasi baru Kantor Gubernur Papua Barat yang berdiri megah di atas sebuah bukit dengan pemandangan indah ke laut. Kawasan yang kami lalui ini di tahun 1990-an merupakan daerah pinggiran yang tak berarti. Namun perlahan bersolek menjadi kawasan kota baru. Disini hutan sudah ditebas. Bukit-bukit digusur. Sungai dan tanah berawa telah ditimbun. Semua demi tuntutan pembangunan.

Saya sempat melontarkan beberapa pertanyaan sebagai rasa ingin tahu kepada seorang pria yang duduk di sisi saya seputar dinamika pembangunan Kota Manokwari. Ia lalu mengolah pertanyaan saya menjadi sederet informasi yang berarti. Mobil kami makin melaju kencang saat berada di luar kota dengan lalu lintas kendaraan yang tidak begitu ramai. Saya mencoba duduk dengan berkonsentrasi penuh. Sebab bila tidak, akan berakibat fatal.

Perjalanan menuju Anggi Pegunungan Arfak bisa dilakukan dengan jalur udara maupun darat. Untuk jalur udara menggunakan pesawat terbang perintis berbadan kecil seperti Pillatus atau Twin Otter dari bandara Rendani setiap dua hingga tiga kali seminggu. Biayanya berkisar 500 sampai 700 ribu per orang, tergantung situasi. Bila terbang dengan pesawat, jarak Rendani-Anggi hanya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari sejam. Itu pun tergantung baik-buruk cuaca. Perjalanan dengan jalur udara maupun darat, masing-masing punya kesan tersendiri.       

Tapi masyarakat lebih memilih perjalanan darat karena murah, meski harus melewati medan rumit dan menantang sejauh ratusan kilo. Kendaraan yang sering melintas ke Anggi umumnya mobil tipe besar seperti ranger, hilux dan strada. Dengan waktu tempuh berkisar 3 sampai 4 jam, tergantung kondisi jalan saat melintas. Jangan coba-coba menggunakan mobil tipe kecil jika tidak mau menanggung resiko. Ongkos sekali perjalanan dari dan ke Anggi sebesar 200 ribu per orang, sudah termasuk barang.       

Ketika kami telah memasuki kawasan pinggiran Kota Manokwari, pemandangan sekeliling nyaris tak banyak berubah. Hanya jalan yang tadinya mulus dan lebar mulai menyempit. Di sepanjang perjalanan terlihat kawasan pepohonan yang membentuk deretan hutan sekunder. Rumah-rumah sederhana milik warga lokal sesekali terlihat. Ada yang mulai reyot karena termakan usia.

Penduduk lokal sesekali muncul bersama anjing berburu mereka di pinggir jalan. Mereka memegang parang, busur dan anak panah. Mungkin hendak pergi berburu atau sehabis berkebun. Kami juga melewati lokasi pabrik semen milik investor Cina yang infrastrukturnya sudah selesai dibangun bersama pelabuhan pengangkut di pantai Maruni. Di sekitar lokasi pabrik ini tampak jelas bukit-bukit kapur terluka oleh penggusuran.         

Ketika mobil kami mulai menanjak di wilayah ketinggian ke arah Warmare, udara pegunungan terasa lebih menyejukan. Hutan primer dan sekunder dengan sejumlah pohon besar tinggi menjulang. Jalan yang kami lalui mulus karena baru selesai dilapisi ketebalannya. Kami kemudian memasuki daerah Warmare setelah melewati jembatan sungai Prafi yang berair deras. Di bawahnya tampak bongkahan batu-batu sungai berukuran raksasa. Sungai ini bermata air di Pegunungan Arfak dan terus mengalir hingga bermuara di pesisir pantai utara Manokwari.

Kami juga melewati areal perkebunan sawit milik PTPN yang dirintis sejak 1980-an. Beberapa saat kemudian mobil kami berbelok memasuki jalan menuju kawasan Pegunungan Arfak. Di sisi pertigaan ada sebuah papan nama bertuliskan “Welcome to Special Interest Tourism Destination Arfak Mountain Area”. Tulisan ini memberi kesan menyenangkan karena terlihat bersama Pegunungan Arfak yang menjulang tinggi dengan puncaknya yang tertutup kabut.       

Saya mencoba mengambil kamera Canon di ransel untuk mengabadikan pemandangan eksotis yang terlihat. Tapi hujan rintik-rintik keburu turun dan membatalkan niat saya. Kami berhenti sejenak untuk memperbaiki muatan dan menudunginya dengan terpal agar tidak basah terkena hujan. Seorang penumpang mengingatkan kami yang duduk di bagian belakang agar berhati-hati. Sebab kami akan melewati medan yang rumit. Setelah itu perjalanan dilanjutkan.

Mobil kami makin menanjak di ketinggian lalu menerobos kawasan dengan kondisi jalan berlumpur. Di sisi kiri kanan yang terlihat hanya pepohonan dengan kondisi hutan yang masih lebat. Kami juga mendengar burung-burung berkicau merdu diantara pepohonan atau terbang melintas di atas kepala. Saya menikmati ritme perjalanan ini dengan antusias. Sebab ini kali pertama saya bakal menginjakan kaki di Anggi, suatu wilayah yang dulunya menjadi bagian wilayah Kabupaten Manokwari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun