Mohon tunggu...
Binoto Hutabalian
Binoto Hutabalian Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis

Penulis di www.sastragorga.org

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Janji Plasenta

14 Juni 2019   10:35 Diperbarui: 14 Juni 2019   11:00 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Mereka pasrah keluar dari keterisolasian dusun. Berpikir akan pergi berkelana menuju sebuah tempat dimanapun nanti mereka bisa menompang hidup, dan  yang pasti jaraknya akan sangat lumayan jauh. Satu hari lebih lamanya  untuk menempuhnya dengan beralan kaki. Mereka  sepakat akan berangkat subuh.

Sepanjang perjalanan menyusuri kampung perbukitan terpencil itu, dan ketika menyusuri liku-likunya jalan tikus, wajah mereka berdua masih terus dirundung kesedihan mendalam juga rasa lelah yang mencengkeram di setiap langkah kaki. 

Dengan bermodalkan tekad dan sisa-sisa harapan, juga perut mereka yang hanya berbekalkan dua buah pepaya dan beberapa potong ubi rebus sebagai sumber tenaga akhirnya mereka lega setelah bisa menatap tanda-tanda kehidupan di lereng bukit yang tak jauh lagi jaraknya.

Matahari sudah hampir dimakan gua kegelapan di ufuk barat. Lembayung senja menyambut langkah pertama mereka hadir di kota itu.

Yunus yang saat itu sudah berumur 17 tahun yang cuma terpaut 4 tahun dengan adiknya. tampak terus menggandeng tangan adiknya dan terus memberi semangat untuk dapat bertahan hingga mereka dapat menemukan tempat persinggahan sementara untuk mengisi perut.

Karena sudah terlalu letih berjalan, Mizbah kecil tak sanggup lagi menyeret langkah dan memilih untuk duduk beristirahat di emperan sebuah bangunan yang berkubah. Yunus meyakinkan adiknya agar tetap menunggunya sementara ia pergi mencari rumah tumpangan yang mau menampung mereka berdua. "Mizbah, Abang segera kembali. Tunggu Abang disini. Jangan beranjak kemanapun. Doakan agar ada yang sudi mengasihi kita." Pesan Yunus bergegas pergi usai mendekap sang adik. 

Yunus buru-buru meninggalkan adiknya Mizbah. Kini mereka berpisah. Sementara si Bocah Mizbah hanya tau mengangguk dan masih belum terlalu paham atas maksud penantian yang diucap abangnya. Mizbah benar-benar menunggu. Dan menunggu. 

Berjam-jam ia terbaring lemas di emperan di sebelah sudut samping mesjid. Bahkan hingga pagi keesokan harinya. Mizbahpun pasrah dan tertidur lama. Dan lapar.***
 
Ketika bundaran cahaya langit mengirim bayang gelapnya di bumi, Magrib mengunci senja. Orang-orang sepenghuni kota mulai jarang di luar rumah. Hanya ada beberapa bangunan yang terlihat masih dikunjungi orang. Tempat itu mulai didatangi beberapa pria berpeci, berkopiah dan wanita-wanita berkerudung. Suara azan berkumandang nyaring dari pengeras suara menara Masjid kota. 

Sementara di dalam, Seorang ustad muda berdiri sembari menerima salam dari para umat yang berbaris menyapa. Dia ustad yang cukup disegani dan disenangi para umat muslim di kota itu. Ustad Mizbah yang saat itu sudah berumur 30 tahun memulai ceramah di hadapan umatnya tentang arti pentingnya persatuan, cinta dan kedamaian. 

''Ketahuilah umatku, bahwa sesungguhnya Allah itu hanya ada satu yaitu yang menciptakan alam dan manusia hanya lewat titah. Maka setiap manusia diwajibkan untuk saling rukun dan mencintai satu sama lain tanpa harus pandang bulu, ras, suku dan agama. Karena agama pada hakikatnya adalah hanya kebaikan saja dan bukan benci.'' Dengan ditutup Assalamaualaikum, ibadah mereka pun kemudian bubar dan ustad Mizbah kembali ke rumahnya. 

Seusai berganti pakaian malam itu, ustad menghampiri istrinya yang saat itu sedang hamil tua berumur delapan bulan.
''Ma, aku berniat cuti bulan depan agar bisa mudik ke kampung halaman orangtua saya dan besar harapanku agar anak pertama kita lahir di sana nantinya dan menanam ari-arinya di tanah leluhur sesuai pesan kakeknya dulu''. Sambil mengecup kening istrinya lalu menyuguhkan vitamin dan segelas air putih. Siti Aisyah hanya mengangguk dan selalu menuruti suaminya. ***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun