Mohon tunggu...
Mustaqim Latu
Mustaqim Latu Mohon Tunggu... @mustaqimlatu

Gam zeh Ya'avor ~ Ini juga akan berlalu

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Senjakala Media Cetak

9 Oktober 2019   10:58 Diperbarui: 9 Oktober 2019   11:14 0 2 0 Mohon Tunggu...
Senjakala Media Cetak
Agen Koran di Pasar Pondok Labu

Bagi pembaca surat kabar cetak, pastinya sadar bahwa pewartaan konvensional itu  benar-benar sedang menuju kesenjakalaannya. Kompas misalnya, saya tidak tahu mulai kapan halamannya menjadi semakin menipis. Hanya 20 halaman dari sebelumnya 32 halaman. Dengan harga yang tidak berubah tentu saja. Saya ingat betul jumlah halaman itu. Bukan tanpa sebab. Saya kenal Kompas, meski tidak terlalu. Kompas adalah subsitusi jika saya kehabisan Tempo. Ada kalanya saat akhir pekan dan tidak sedang kemana-mana, keduanya saya pasangkan.

Jujur saja saya lebih menyukai Tempo. Tapi saya tidak tahu persis kenapa bisa begitu. Jika dipaksa membuat alasan, saya fikir tidak akan jauh soal preferensi politik. Saya angkat topi soal independensi Tempo. Cara mereka berbicara dan melakukan kontrol terhadap penyelenggara negara begitu mengagumkan. Berani dan jujur, familiar dengan kata itu? setidaknya stereotipe itulah yang melekat di benak saya ketika mengingat akan Tempo. Jika kamu pernah melihat cara mereka melakukan investigasi-rubrik ini ada di edisi majalah-sulit rasanya untuk tidak jatuh cinta. Belakangan ribut-ribut soal cover Tempo, saya anggap lucu. Bisa jadi karena belum kenal.

Bukan berarti saya mengatakan Kompas tidak independen. Hanya saja soal itu, saya tidak sedang mencarinya pada Kompas. Saya menikmati Kompas dengan alasan dan warna yang berbeda. Beruntungnya, Kompas adalah barometer utama. Daya tariknya besar, prestise dan intelek. Dengan keunggulan tersebut, menurut saya, rubrik Opini menjadi kunci, kalau tidak dibilang urat nadi. Banyak ahli yang berlomba-lomba untuk memunculkan tulisannya disana. Dengan begitu, efeknya terhadap pembaca sangat besar. Apalagi kalau bukan soal tersedianya gizi bacaan yang mumpuni. Untuk keluasan informasi yang ditawarkan, saya fikir kelewat murah dengan harga 4.500 rupiah. Opini yang menarik kadang saya gunting untuk disimpan. Sayang juga kalau hanya dijadikan bungkus gorengan. Terakhir, saya menggunting opini Pak Yudi Latief saat hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober lalu.

Di kompas, saya juga menyukai rubrik Sosok. Letaknya di bagian belakang menjelang akhir halaman. Entah halaman berapa. Sosok menyajikan kisah inspiratif orang-orang terpilih. Mereka ini kebanyakan masyarakat biasa yang sukses menggerakkan kelompoknya di desa-desa. Baik itu melalui kegiatan budaya, sosial atau wirausaha. Syukurnya, dengan pengurangan halaman tadi, rubrik Sosok tidak termasuk salah satu yang dipangkas. Ini yang sebenarnya saya harapkan. Di tengah masa politik yang sedang mengalami pubertas, bacaan ringan penuh keteladanan hidup seyogyanya dikedepankan. Sekaligus menjadikan ia sebagai purifikasi cara berpolitik para elit yang banal.

Kembali ke awal, soal pengurangan halaman Kompas, saya anggap sebagai salah satu tanda zaman bahwa kita sedang berada di ambang kehilangan besar. Akibat dari pergeseran cara hidup yang tidak bisa ditolak. Beberapa tahun silam, melihat loper koran dengan rantai sepedanya yang berkarat adalah hal biasa. Saban pagi, kehadirannya begitu ditunggu. Keluar masuk perumahan sesuka hati mereka. Melempar koran dengan cara sembarang tanpa ada yang berhak mengambil amarah. Bahagia justru si empu rumah.

Saat ini, untuk mencari mereka tidak lagi mudah. Perannya telah digantikan oleh gerai data yang berjejeran di pinggir jalan. Terakhir, saya terpaksa harus membeli Tempo keluaran satu hari sebelumnya. Hanya itu yang tersedia. Saya menolak pulang dengan tangan kosong setelah menempuh jarak yang tidak bisa dibilang dekat. Sebenarnya bukan masalah, toh tidak ada yang namanya koran bekas, yang ada hanya koran yang belum dibaca, fikir saya. Namun pengakuan dari penjual koran yang kemudian membuat saya tertegun. "Waduh, Pak. Untuk Tempo harus pesen dulu. Kalau ga pesen, bisa tidak terjual", tangkas penjual koran. Sudah sedimikian kelam dan suram . Meja kayu yang digunakan untuk menjajakannya pun seadanya, tampak tua, lusuh dan termakan zaman. Tidak jauh berbeda dengan nasib barang yang dijual diatasnya.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x