Win Wan Nur
Win Wan Nur wiraswasta

Saya adalah orang Gayo yang lahir di Takengen 24 Juni 1974. Berlangganan Kompas dan menyukai rubrik OPINI.

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

“Minikino Film Week” Bali, Pesta Film dengan Konsep Merakyat

7 Oktober 2015   00:12 Diperbarui: 7 Oktober 2015   00:17 196 0 2

[caption caption="Saya dan Darwin Arya di Konferensi Pers"][/caption]

Pada tanggal 12-17 Oktober 2015, MINIKINO, salah satu komunitas pemutaran film pendek tertua di Indonesia dan masih eksis sampai saat ini akan menyelenggarakan event MINIKINO FILM WEEK 2015.

Hari ini Minikino membuat Konferensi Pers untuk memperkenalkan acara ini, dari Kompasiana saya dan mas Darwin Arya berkesempatan hadir.

Ini adalah event pertama yang diselenggarakan oleh Minikino. Melalui Event dengan tema “Membaca Indonesia Melalui Film” ini, Minikino yang menggandeng 6 rekanan yang akan menampilkan 88 karya film pendek tempat di Bali, mulai dari Denpasar, Ubud sampai Lovina di pantai utara.

Semua film yang akan ditampilkan telah pernah masuk dalam kurasi berbagai program khusus Minikino, baik dari jaringan kerja nasional di dalam program INDONESIA RAJA 2015 , maupun jaringan kerjasama regional S-EXPRESS 2015 yang menggandeng kurator/programmer dari negara-negara di Asia Tenggara, serta program film pendek istimewa lainnya.

Intinya Minikino film week menghadirkan film yang dekat dengan kita. Bukan sesuatu yang di luar jangkauan kita. Acara ini menjadi semacam festival. Mengekspose film-film dalam program Minikino. Dengan acara yang merakyat, menghadirkan filmaker yang bisa langsung berinteraksi dengan penonton.

Setelah lebih dari 13 tahun mengadakan PEMUTARAN FILM DAN DISKUSI BULANAN, tahun ini, melalui event ini MINIKINO menghadirkan acara pesta nonton film sebagai ajang bertemunya sesama penggemar film, selama 6 hari berturut-turut. Semua penonton yang hadir akan diberi cap di tangan, sehingga nanti diharapkan ketika para penonton bertemu dengan penonton lain yang tidak saling kenal, akan menjadikan cap itu sebagai sebuah alasan untuk berkenalan dan kemudian membahas film yang ditonton.

Selain itu, terinspirasi dari berbagai festival film di dunia yang selalu menyelipkan beberapa film pendek di dalam festivalnya. Kali ini minikino yang berfokus pada film pendek juga mencoba mengikuti pola yang sama dengan menampilkan beberapa film panjang (Feature Length Film), bedanya di sini film panjang lah yang menjadi selipan. Ada 6 karya film panjang yang akan diputar dalam Minikino Film Week yang merupakan benang merah yang tak terabaikan dari tema “Membaca Indonesia Melalui Film”, baik yang berupa karya dokumenter maupun fiksi.

Salah satu film panjang yang diputar adalah “Lelaki Harapan Dunia”sebuah film karya sutradara Malaysia favorit saya, Liew Seng Tat. Sutradara muda yang karya-karyanya sangat saya suka karena selalu menampilkan perlawanan atas ketidak adilan ras secara sangat cerdas, menohok dan penuh humor.

Melalui karyanya ini, Seng Tat memotret Indonesia dari kacamata masyarakat negeri jiran. Dan seperti biasa disampaikan dengan cara penuh humor dan dijamin akan dipenuhi gelak tawa sepanjang pemutarannya.

Bagi pembaca yang penasaran dengan karya Seng Tat, di sini saya beri adalah salah satu contoh karya Liew Seng Tat dengan satir-satir khasnya yang kacau dan penuh humor https://www.youtube.com/watch?v=YfAnZooGeuc

Sebagai ACARA PENUTUP (Closing Event) diluncurkan program kreasi baru yang orisinil; MINIKINO LELANG FILM untuk menghadirkan film-film pendek berusia minimum 10 tahun yang tidak mungkin diabaikan dalamperkembangan sejarah film pendek Indonesia, maupun sejarah film Indonesia pasca reformasi itu sendiri.

Selain film Seng Tat, salah satu sisi paling menarik acara ini bagi saya pribadi adalah keberadaan salah satu dari film terbaik yang akan dilelang dalam acara di Bali ini adalah “The Poet of Linge “, sebuah film karya ARYO DANUSIRI yang mengambil tema tentang Didong di Gayo dengan seniman Abdul Kadir sebagai titik fokus.

Bagi warga Gayo yang tinggal di Bali, ayo datang beramai-ramai, jarang-jarang ada pemutaran film di Bali yang bisa menjadi pelepas rindu untuk ‘Tanoh Tembuni’.

Acara ini bisa terselenggara murni atas dasar idealism para panitia, yang rela bergadang dan bekerja sangat keras tanpa dibayar. Bahkan para filmmaker yang hadir dalam acara ini, datang atas biaya sendiri.

Hampir semua biaya yang dibutuhkan untuk penyelenggaraan ini diambil dari kas Minikino, yang didapat dari berbagai acara kerjasama dengan pihak ketiga. Satu-satunya sponsor yang memberi uang cash adalah Joger, ditambah dengan satu sponsor individual yang tidak disebutkan namanya yang memberi sumbangan sebanyak 100 euro.
Sponsor lain seperti Biznet misalnya memberikan produk, berupa Wifi gratis.

Di akhir acara dalam sebuah pembicaraan Informal, saya menawarkan kepada Fransiska Prihadi, direktur event ini, bagaimana kalau acara ini kita koneksikan dengan kompasiana dan membuat semacam Blog Competition untuk mereview acara ini. Fransiska menyambut dengan hangat, dan menyatakan Minikino bersedia menyediakan hadiah berupa voucher menginap di salah satu hotel di Bali sebagai hadiah.