Mohon tunggu...
Widz Stoops
Widz Stoops Mohon Tunggu... Animal Lover

Smile! It increases your face value -www.tomcil.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Pesawat Terbang di Ketinggian 36.000 Kaki, Ada Apa di Sana?

11 September 2019   04:55 Diperbarui: 12 September 2019   04:50 0 39 22 Mohon Tunggu...
Pesawat Terbang di Ketinggian 36.000 Kaki, Ada Apa di Sana?
Sumber website skift.com

Bagi kalian yang sering bepergian dengan pesawat baik itu domestik maupun internasional, ada beberapa rutinitas yang sudah bisa ditebak. diantaranya memasang dan mengencangkan seat belt, memperhatikan demo keselamatan yang diperagakan oleh flight attendant, mempersiapkan diri untuk take off. Dan tak berapa lama kemudian, suara pilot pun akan terdengar kurang lebih seperti ini:

" Ladies and gentleman, we are now at our cruising altitude of 36.000 feet"
Yang artinya: "Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak, kini kita telah berada di ketinggian 36.000 kaki"

Nah, biasanya tidak lama setelah pengumuman tersebut diatas dikumandangkan, keluarlah pramugari lengkap dengan cart-nya menawarkan minuman dan snack/makanan. 

Tapi dapatkah kalian menebak mengapa pesawat terbang di ketinggian 36.000 kaki? Menurut USA Today, ketinggian rata-rata untuk pesawat komersial antara 33.000 dan 42.000 kaki atau antara 6 hingga mendekati 8 mile di atas permukaan laut. 

Kebanyakan pesawat udara terbang di zone tengahnya yaitu sekitar 35.000 atau 36.000 kaki di udara.

Untuk menempatkannya dalam perspektif, titik tertinggi puncak gunung Everest adalah 29.029 kaki. Itulah sebabnya sistem udara di pesawat didesain sedemikian rupa agar tekanan udara di dalam kabin ada pada tingkat yang nyaman bagi para penumpang, sehingga kita tidak merasa seperti sedang mencoba bernafas di atas puncak tertinggi gunung Everest.

Daerah ketinggian ini disebut stratosphere terendah yaitu tepat diatas troposphere yang merupakan bagian terendah dari atmosphere, menurut UCAR Center for Science Education. 

Terbang di ketinggian ini mempunyai banyak manfaatnya yang menjadikan terbang sebagai salah satu cara utama bagi wisatawan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya.

Alasan terbesar untuk terbang pada ketinggian ini adalah efisiensi bahan bakar. Udara tipis menciptakan berkurangnya hambatan pada pesawat, yang berarti pesawat dapat menghemat bahan bakar untuk mempertahankan kecepatan. 

Dengan kata lain sedikit resistensi angin, lebih banyak daya, lebih sedikit usaha. Lebih sedikit penggunaan bahan bakar jelas-jelas menguntungkan perusahaan maskapai. 

Namun perlu diingat, mesin pesawat juga membutuhkan oksigen untuk dapat bekerja. Menurut website Traveler, molekul ini dbutuhkan untuk menciptakan pembakaran, yang juga menghasilkan energi. Jadi, terbang terlalu tinggi pun bisa menimbulkan masalah. 

Ditambah semakin tinggi terbangnya sebuah pesawat, semakin banyak bahan bakar yang harus dibakar untuk sampai ke sana sehingga ada beberapa kelemahan dengan ketinggian tertentu juga.

Karena di udara pun ada lalu lintas, terbang lebih tinggi berarti pesawat dapat menghindari burung, drone, pesawat terbang kecil dan helikopter, yang terbang di ketinggian lebih rendah. 

Pada website Your Mileage May Vary tertulis arah perjalanan pesawat juga dapat mempengaruhi ketinggian naiknya. Pesawat yang terbang ke arah timur (termasuk timur laut dan tenggara) akan terbang di ketinggian ganjil (misal 35.000 kaki) sedangkan semua pesawat yang terbang ke arah lainnya akan terbang di ketinggian genap. 

Pesawat dengan rute menuju ke arah yang sama juga sering direncanakan dan diatur terlebih dahulu sehingga pesawat berada 1.000 kaki di atas atau di bawah satu sama lain untuk menghindari tabrakan.

Pernah gag sih kalian memperhatikan kadang pemandangan di luar jendela pesawat cerah, tapi setelah tiba turun di bandara tujuan kok malah hujan? Nah Itu ternyata website Traveller menyatakan, ada hubungannya dengan ketinggian. Sebagian besar pesawat terbang di atas troposfer, tempat peristiwa cuaca biasanya terjadi.

Tentu saja, pesawat masih mengalami turbulensi. Kalian mungkin terkejut mengetahui kalau   justru turbulensi jauh lebih sedikit terjadi karena Ketinggian(altitude) yang dilalui oleh banyak pesawat komersial.

Menurut website The Points Guy, ketika pesawat melalui kantong udara dan angin kencang, pengendali lalu lintas udara (Air Traffic Controllers) terkadang menyarankan terbang di ketinggian yang berbeda untuk menghindarinya. Jadi terbang lebih tinggi sebenarnya dapat meminimalkan turbulensi.

Ketinggian yang lebih tinggi juga dapat memberikan pilot sesuatu yang paling berharga ketika mereka berada di udara, yaitu waktu. 

Jika terjadi sesuatu yang akan membutuhkan pendaratan darurat, ketinggian yang tinggi memberi pilot waktu lebih lama untuk memperbaiki situasi atau mencari tempat yang aman untuk mendarat dibanding jika mereka berada di pesawat kecil yang terbang dengan ketinggian 10.000 kaki.

Tidak semua pesawat dibuat untuk terbang pada ketinggian yang sama. Di website Thrillist disebutkan ketinggian pesawat ditentukan oleh berat dan kondisi atmosfer pada saat pesawat diterbangkan. 

Arah penerbangan (sebagaimana disebutkan sebelumnya), jumlah turbulensi (berdasarkan laporan oleh pilot lain di udara), dan durasi penerbangan juga merupakan faktor.

Meskipun pilot mengendalikan pesawat, namun sesungguhnya mereka bukanlah orang yang memutuskan ketinggiannya. Operator udara lah yang bertugas merencanakan dan memutuskan rute pesawat, termasuk ketinggian, serta melacak di mana pesawat terbang berada di udara. 

Di samping memang ada undang-undang yang mengatur bahwa pesawat tidak boleh terbang di bawah 1.000 kaki di atas area yang sedang dibangun, atau 500 kaki di atas orang, kendaraan, atau bangunan apa pun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2