Warkasa1919
Warkasa1919 Karyawan Swasta

Awali hari dengan Secangkir Kopi dan hal-hal positif lainnya. Bacaan yang baik akan menghasilkan Karakter dan Kepribadian yang baik pula, dan aku percaya setiap orang pasti memiliki cerita sendiri - sendiri dalam hidupnya. Kata orang, setiap cerita pasti ada akhirnya, namun dalam cerita hidupku. Akhir cerita adalah awal mula kehidupan-ku yang baru. https://warkasa1919.wixsite.com/mysite

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wanita di Penghujung Malam

11 Juli 2018   21:11 Diperbarui: 11 Juli 2018   21:23 759 0 0
Wanita di Penghujung Malam
warkasa1919

Bagian Delapan

Dan sebelum ujung keris berwarna hitam pekat itu menyentuh kulit dadaku, tiba-tiba terdengar suara raungan harimau betina bersamaan dengan terciumnya aroma damar wangi kayu gaharu yang tercium santar, aroma wangi kayu gaharu itu seperti mendorong keluar semua aroma busuk yang sedari tadi memenuhi isi ruangan.

" Hekk!! "

Kudengar seperti suara orang tercekik, dan ketika aku melihat kedepan, kulihat di leher pria tua berpakaian serba hitam itu ada selendang berwarna merah marun yang sedang membelit dan mencekik batang lehernya.

Lalu seperti ada satu kekuatan yang besar, tiba-tiba saja tubuh pria tua berpakaian serba hitam itu seperti ada yang menariknya kebelakang.

 " Bukk!! " terdengar suara benda jatuh menimpa lantai di sudut ruangan.

Di sudut ruangan kulihat tubuh pria tua berpakaian serba hitam itu jatuh terjelentang di hadapan harimau jantan besar yang tanpa ampun lansung saja menerkam tubuhnya. Sempat terjadi pergumulan sengit, keris berwarna hitam di tangan-nya itu dia coba tusukan ke harimau jantan besar yang sedang menerkam-nya.

Bukannya menghindar, harimau jantan besar bermata merah saga itu langsung menangkap keris itu dengan giginya, dan sekali sentak keris itu terlepas dari genggaman-nya, begitu keris itu terlepas dari genggamanya terdengar seperti orang makan kerupuk dari mulut harimau jantan besar di depannya itu.

Dilihatnya harimau jantan besar itu sedang mengunyah-ngunyah keris berwarna hitam pekat miliknya, lalu langsung menelan begitu saja keris itu sampai habis masuk kedalam perutnya. Dan begitu keris hitam itu habis tertelan habis masuk ke dalam perutnya, tanpa ampun harimau jantan besar itu langsung menerkamnya. Menggigit pas di tengkuknya sambil mencabik-cabik seluruh tubuhnya. Pria tua berpakaian serba hitam itu kelojotan sebelum akhirnya diam tak bergerak.

Tubuh pria tua yang berpakaian serba hitam yang sudah diam tak bergerak itu berubah menjadi asap, lebih pekat dari asap hitam pria berwajah pucat itu tadi. Lalu asap hitam itu terbang, lalu menghilang di telan gelapnya malam.

Setelah asap hitam itu menghilang keluar lewat lubang udara, samar-samar mataku menangkap sosok seorang wanita yang telah cukup berumur namun masih menyisakan sisa-sisa kecantikan masa muda dulu. Dengan anggun dia berjalan mendekat kearahku, sambil tersenyum manis dia mengurlurkan tangan, sepertinya dia hendak menarik tanganku, hendak menolongku bangkit berdiri.

 " Plak!! "

Tangan kanan wanita tinggi semampai yang kukira hendak menolongku tadi, mendarat dengan sempurna dipipi sebelah kiriku. Sambil meringis menahan sakit, aku menatap wanita berkerudung bergo panjang warna merah marun yang kulihat tengah melotot, menatap galak ke arahku.

Aku cuma diam sambil mengusap pipi kiriku yang masih terasa panas akibat tamparan-nya barusan. Aku segera bangkit dari tempat duduk-ku lalu mendekat ke arahnya. Sebelum aku sempat membuka mulut untuk menyapanya, wanita berkerudung bergo panjang warna merah marun itu sudah keburu menyemprotku;

" Dasar hidung belang! " katanya sambil menatap galak kearahku.

" Kenapa abang nikahi wanita itu?"

Katanya lagi sambil menunjuk kearah wanita berkulit hitam manis yang masih terduduk kaku menatapku dan wanita berkerudung bergo panjang merah marun itu secara bergantian.

" Padahal dia bisa di obati tanpa abang harus menikahi nya tadi " katanya masih dengan nada suara sedikit tinggi seperti tadi.

Entah kenapa aku tersenyum girang melihat kedatangan wanita berkerudung bergo panjang merah marun ini, kutatap wajah wanita berumur yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan masa muda nya itu. Aku seperti sedang berusaha mengobati semua rasa rindu yang sudah sekian lama terpendam di dalam hati, sambil tersenyum aku terus menatap wajahnya yang masih begitu sewot sejak dari awal kedatangan-nya tadi.

Selama ini aku terus berjalan mencarinya, membelah rimba raya yang saat ini telah berganti nama menjadi pemukiman dan perkebunan, diantara batang-batang kelapa sawit yang menjulang tinggi, di banyak kampung dan dusun-dusun yang baru singgahi. Aku terus bertanya dimana wanita berkerudung bergo pan-jang merah marun dan dua anaknya itu berada. Bahkan saat ini aku sudah tidak lagi memperdulikan tatapan orang-orang yang melihat aneh ke arahku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3