Warkasa1919
Warkasa1919 Karyawan Swasta

Setiap cerita pasti ada akhirnya, namun dalam cerita hidupku. Akhir cerita adalah awal mula kehidupan-ku yang baru.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Wanita di Penghujung Malam

8 Juli 2018   23:41 Diperbarui: 11 Juli 2018   21:14 401 0 0
Wanita di Penghujung Malam
Dokumentasi Pribadi

Bagian Tujuh

Kutatap pria berbadan gelap dan wanita berkulit hitam manis yang beringsut mendekat ke arahku secara bergantian, ku letakan rokok yang belum habis kuhisap di asbak rokok yang berada di dekatku.

" Abang iklas dia engkau nikahi, tolong jaga dan rawat dia."

Kata suami wanita berkulit hitam manis itu kepadaku, suaranya terdengar begitu pelan sambil menatap sayu kearahku dan wanita berkulit hitam manis yang berada di sebelahnya ini.

Sepertinya dia sudah kembali kesini, setelah tadi dia sempat berjalan jauh menyusuri masa lalunya bersama wanita berkulit hitam manis yang sudah empat tahun mendampingi-nya itu.

Aku mengganggukan kepala sambil tersenyum menatap-nya, lalu menatap binatang liar disamping-nya yang terlihat begitu binal sedang mencuri-curi pandang ke arahku.

Binatang binal itu menjadi begitu liar ketika tau di hadapnya saat ini ada binatang jalang yang juga sedang melihat ke arahnya. Binatang jalang yang dia tau selalu berdiri diantara siang dan malam, berjalan diantara kesedihan dan kebahagiaan, saat ini dilihatnya sedang duduk nyaman diatas rasa sakit dan kenikmatan.

Kutatap wanita berkulit hitam manis di depanku, kutatap wajah seorang wanita baik-baik yang aku tau berusaha untuk tetap tegar berdiri di tengah semua rasa sakit dan ketakutan yang selalu datang menghantuinya.

Seorang wanita lugu yang di tengah ketidak tahuan-nya bersedia membuka aurat dan kemaluan-nya pada pria yang bukan muhrimnya demi untuk menjaga keutuhan rumah tangga-nya. Seorang wanita yang begitu tunduk dan patuh pada seorang lelaki yang tidak begitu pandai menjaga harga dirinya.

Ditengah kegalauan hatinya, dia duduk terdiam, menanti kedatangan binatang jalang yang diapercaya menjadi kunci pembuka gerbang menuju jalan kesembuhan dan kebahagian rumah tangganya.

" Apa kakak bersedia menikah dengan ku? " tanyaku pada wanita berkulit hitam manis yang sedari tadi menunduk di hadapan-ku ini.

" Kakak bersedia bang!" katanya yakin, sambil tersenyum menatapku.

" Apa abang bersedia menjadi saksi dan menjadi wali nikah[i] nya nanti? "

Tanyaku sambil menatap lelaki berbadan gelap yang masih terlihat lesu, mungkin dia masih cukup lelah setelah kembali dari perjalanan panjang menyusuri masa lalunya bersama wanita berkulit hitam manis itu.

  

" Abang bersedia, asalkan memang itu bisa melepaskan dia dari semua belenggu ghaib yang mengikat dan menyiksa dirinya selama ini."

Katanya yakin, lagi sambil menganggukan kepala seraya menatapku, walau sudah tidak semurung tadi, tapi sepertinya dia masih begitu terpukul dengan keputusan yang sudah diambilnya barusan, sesekali kulihat dia menarik nafas, seolah berbicara pada dirinya sendiri.

" Mungkin memang ini yang terbaik untuk mereka saat ini, dan aku pun pasti akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari wanita yang sudah empat tahun kunikahi ini."

Dan saat ini rasa pasrah untuk memberikan yang terbaik untuk orang yang dikasihi-nya itu lebih besar dari semua rasa sedih akan kehilangan orang yang dikasihi-nya itu.

Kuambil rokok di dalam asbak, menghisap-nya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya pelan-pelan, sedikit pelan dan berhati-hati aku mulai bicara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4