Mohon tunggu...
wahyu mada
wahyu mada Mohon Tunggu... Penulis - Pemuda dari Nganjuk yang ingin memandang dunia dari berbagai sudut pandang

Sejarah dadi piranti kanggo moco owah gingsire jaman (KRT Bambang Hadipuro)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sejarah Nganjuk: Mangga Golek Sebagai Komoditas Unggulan Warga Berbek Tahun 1936 - 1941

19 September 2021   18:46 Diperbarui: 19 September 2021   19:19 345 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sejarah Nganjuk: Mangga Golek Sebagai Komoditas Unggulan Warga Berbek Tahun 1936 - 1941
screenshot-2021-0816-211834-61471b6f06310e4cee7494a2.png

NGANDJOEK (Slechte Mangga-Oogst) https://www.delpher.nl/ De Indische Courant, 11-10-1940, (23) Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenku DP IC/40-1, dipublikasikan di Surabaya

(Sejarah Nganjuk) - Kabupaten Nganjuk sebagai salah satu produsen mangga terbesar di wilayah Jawa Timur bagian barat. Data Pusat Statistik Jawa Timur merilis hasil produksi mangga Nganjuk mencapai 271.814 kuintal di tahun 2018. Daerah Nganjuk yang menjadi sentra mangga utamanya daerah Berbek, Ngetos, dan Sawahan, namun yang paling banyak adalah Berbek. Komoditas utama Berbek adalah mangga golek, sedangkan komoditas yang bukan unggulan adalah mangga arum manis dan cempora. Pola masa lalu budidaya mangga golek Berbek mencapai kejayaannya diakhir tahun 1930-an hingga awal 1940-an sebelum kedatangan Jepang.

Budidaya mangga golek juga terdampak depresi ekonomi, tetapi mulai ada tahap perbaikan pada tahun 1937 hingga meningkat tahun 1941. Soegijanto Padmo mengatakan pada jurnalnya Depresi 1930-an dan Dampaknya terhadap Hindia-Belanda, bahwa seluruh wilayah jajahan terkena dampak dari depresi ekonomi, tidak hanya sektor perkebunan dan daerah tertentu yang sudah ramai atau komersial, meskipun benar daerah seperti itu lebih hebat dampaknya daripada wilayah yang masih terasing.

Membaiknya Ekonomi dan Budidaya Mangga Golek Berbek Tahun 1936- 1937

Pada tahun 1930-an merupakan masa-masa sulit bagi dunia. Pada masa itu dunia sedang dilanda depresi ekonomi atau penurunan aktivitas ekonomi yang berkepanjangan. Depresi perekonomian ini banyak sekali menghambat perekonomian Hindia Belanda. Hal yang paling berdampak khususnya pada komoditas barang ekspor Hindia Belanda. Komoditas barang di pasar dunia merosot tajam, demikian halnya sama dengan permintaan terhadap barangnya. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat, kesempatan kerja, dan pendapatan di pelosok negara. Depresi ekonomi saat itu tidak hanya berdampak pada kota besar atau daerah perkebunan yang mengahasilkan komoditas ekspor dunia saja, melainkan juga dapat masuk dalam kegiatan perekonomian kecil.

Soegijanto Padmo mengatakan pada jurnalnya Depresi 1930-an dan Dampaknya terhadap Hindia-Belanda, bahwa seluruh wilayah jajahan terkena dampak dari depresi ekonomi, tidak hanya sektor perkebunan dan daerah tertentu yang sudah ramai atau komersial, meskipun benar daerah seperti itu lebih hebat dampaknya daripada wilayah yang masih terasing. Dari penjelasan tersebut jelas bahwa seluruh daerah terkena dampak, namun dalam tingkatan yang berbeda-beda karena bentuk kehidupan masyarakat tiap wilayah juga berbeda. Koran De Indische Courant yang terbit pada 2 Januari 1936 dengan judul De Lebaran (https://www.delpher.nl/) menjelaskan bagaiamana masyarakat Regentschap Nganjuk terdampak depresi ini di Nganjuk bagian kota.

Skripsi Muhammad Faidzin yang berjudul Dinamika Industri Pabrik Gula Meritjan di Kediri Tahun 1930-1945 yang dipublikasikan Perpustakaan Universitas Airlangga menyebutkan bahwa komoditas pedesaan di Kediri juga menurun, seperti: ketela, jagung, dan padi. Berdasarkan hal ini besar kemungkinan produktivitas mangga golek yang merupakan komoditas unggulan Berbek juga terkena dampaknya, walaupun pastinya memiliki dampak dibawah singkong yang merupakan makanan tambahan atau bisa juga sebagai karbohidrat pengganti nasi.

Kawedanan Berbek juga terkena dampak dari depresi ini, utamanya pembudidayaan mangga golek yang hasilnya dikirim ke berbagai wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Budidaya mangga golek memerlukan biaya transportasi dan tentunya harga pasar.

Hal ini cukup jelas bahwa mangga golek dari Berbek diangkut menggunakan truk dan kereta api yang akan berakhir diperjualbelikan di pasar. Tentunya budidaya mangga golek ini berbeda dari budidaya teh, kopi, kapas, karet, dan komoditas ekspor utama lainnya. Mangga golek dibudidayakan perorangan sebagai pemilik pohon mangga, baik itu ditanam di kebun mereka sendiri maupun di tanah pekarangan rumah mereka.

Mangga golek dari Berbek tidak diekspor keluar negeri seperti komoditas ekspor utama lainnya, melainkan mangga golek hanya dikirim dan didistribusikan ke berbagai kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah, atau dapat dikatakan komoditas lingkup lokal saja. Umumnya sistem budidaya yang dipakai masih tradisional, yaitu sistem cangkok.

Pada tahun 1936 hasil panen dari pembudidayaan mangga golek masih rendah karena masih menuju tahap perbaikan dari depresi ekonomi. Hal ini perlu perjalanan waktu untuk meningkatkan produktivitas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan