Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Tentang Pertengahan Mei dan Hari bersama Kinan

15 Mei 2019   23:46 Diperbarui: 16 Mei 2019   04:17 238 11 2
Cerpen | Tentang Pertengahan Mei dan Hari bersama Kinan
Ilustrasi: shutterstock

Cahaya bulan yang beberapa hari lagi membulat sempurna, menerpa wajahnya yang tirus. Sebatang rokok terselip di antara kedua bibirnya. Ia memang sedikit membandel. Seharusnya ia sudah tak diperbolehkan untuk merokok. Alasan kesehatan. Batuk yang tak kunjung berhenti selama berbulan-bulan, menjadikan ia sedikit kurus dan bermuka tirus.

Ia seperti dalam kekosongan. Membuatnya seakan-akan menghuni alam kesendirian. Di teras yang memiliki desain sedikit eksentrik, ia tenang. Dalam ruangan ini, jiwanya menyatu. Ia yang menata seluruhnya. Jiwa seni yang mengalir dalam tubuhnya, ia lampiaskan di sana. Selain kegemarannya mencandai keyboard dengan jarinya. Bagai memainkan alunan musik dengan jajaran huruf-huruf dalam layar.

Sejak kejadian satu tahu lalu, ia limbung. Meninggalkan Maya yang hendak dinikahinya, karena ia merasa tidak mampu. Rasa bersalah selalu menghantui. Meskipun Maya masih rajin mengunjunginya. Tetapi ia tetap belum bisa menata hatinya untuk berani kembali melamarnya.

"Ayah, tante Maya itu perempuan terbaik sedunia. Mengapa Ayah menyia-nyiakannya?" tanya Kinan anak semata wayangnya di suatu hari. Kinan, sekarang telah dimiliki Dananjaya dan Aurora. Ia hanya bisa membuang nafas pelan, pertanda bahwa ia belum siap menjawab pertanyaan itu.

"Kinan, suatu hari nanti. Pasti ayah akan melamarnya. Ayah belum berani untuk saat ini."

"Karena mama? Mama pasti merestui, ayah. Bahkan Kinan pernah mimpi bertemu mama. Ia tampak bahagia di sana."

Ia hanya senyum simpul mendengar kata Kinan.

"Bagaimana kabarnya Aurora cucu Ayah? Ayah kangen padanya." tanyanya.

Sengaja ia membelokkan arah cerita, saat Kinan mulai membahas tentang Maya. Lelaki tengah baya itu seperti menghindar. Dan pembicaraan tentang itu, seperti biasa, akan menguap dengan sendirinya.

***

Keheningan adalah miliknya. Bertandang setiap hari dan ia menemaninya tanpa berusaha untuk melepasnya. Maya dan Kinan hanya bisa berusaha agar keheningan menjadi sedikit riuh dan berbunyi merdu. Kecerewetan Kinan dengan kalimat yang bertubi-tubi menyerupai bujukan, agar ayahnya tak larut dalam kesunyian.

Sedangkan Maya yang begitu mencintainya, tak patah arang meskipun ia mematahkan hati berkali-kali. Maya mengerti, bahwa di dalam hati yang paling dalam, ia juga mencintai. Maya dapat melihat dari sorot mata yang hitam. "Aji, sesungguhnya hatimu milikku," serunya dalam hati.

Maya sering sedikit gemas dengan perasaan hati Aji. Sering berbelok arah, meski kembali dan melabuhkan hati padanya. Tak apa. Selama Aji tak lepas dari pandangan matanya. Aji adalah miliknya.

"Maafkan Ayah, tante. Ayah memang suka galau. Biasa lah, seperti remaja yang sedang jatuh cinta," goda Kinan pada ayahnya saat mereka bertemu bertiga. Terkadang berlima bersama Dananjaya suami Kinan dan Aurora. Ayahnya hanya tersenyum seperti biasa. Tak menolak, juga tak menanggapinya. Hanya datar.

***

Butuh keberanian berton-ton untuk membicarakan kembali keseriusan hati. Ia merasa masih terpaku pada Dena. Istrinya, yang lebih dulu meninggalkan dirinya untuk selamanya.

Meskipun sesungguhnya ia menyayangi Maya, tetapi ia selalu berdentum pada kegundahan. Ia tak sanggup, jika Maya tiba-tiba meninggalkannya. Ia tak ingin kehilangan, untuk kedua kalinya. Bahkan pada saat Maya belum dimilikinya utuh.

"Aji, apa aku bagimu? Apakah selama ini sikapku yang selalu condong padamu tak cukup?"

Ia memandang Maya. Lama. Kemudian menarik nafas panjang.

"Mengapa?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3