Mohon tunggu...
Trisni SetyaNS
Trisni SetyaNS Mohon Tunggu... Administrasi - Bisa memberikan manfaat untuk orang lain walaupun hanya sebulir debu.

hobi : menulis buku n memasak owner Pt BISA Ct Yogya

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Ketika Hati Bicara (Bag I)

16 Oktober 2018   15:13 Diperbarui: 16 Oktober 2018   17:39 488
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

"kasihan Pak Fahrinya...kamu kenal teman kamu itu siapa...?" sela Bimo juga ikut terhanyut dengan cerita adiknya.

" nick name dia hanya NOI itu saja..." ucap Nindi lirih sepertinya takut jika nama itu benar-benar terjadi.

"Ya...memang zaman sudah banyak berubah...kamu sepertinya juga ada perasaan dengan Pak Fahri ya... aku harapkan jangan dulu. Gapai cita-citamu selagi kamu bisa meraihnya, cinta akan datang dengan sendirinya, manusia hidup sudah berpasang-pasangan jadi tidak usah takut untuk tidak mendapatkan jodoh ..." Ucap Sismiyati memperhatikan wajah anak gadisnya yang memerah karena ketahuan ibunya dan sepertinya ibunya membaca  perasaannya. 

"beda zaman kita dulu ya bu...kalau dulu anak lelaki yang lebih agresif, lebih berani mengutarakan perasaan tapi sekarang tidak laki-laki atau perempuan bisa mengutarakan perasaannya sesukanya. Kalau untuk urusan cowok kamu harus hati-hati ya Nin, sebagai anak perempuan kamu harus punya prinsip.

Yang harus digaris bawahi pertama karena kamu anak gadis tidak sepantasnya kalau kamu terlalu agresif terhadap seorang cowok, ini pantangan bagi keluarga kita khususnya kamu adalah seorang gadis , kalau laki-laki tahu sifat kamu seperti temen kamu itu pasti laki-laki akan takut lari terbirit-birit ...na'udzubillah mindzalik... jangan sampai ya anak Bapak seperti itu..." Ucap ayah Nindi memberikan nasihat panjang pada anaknya yang wajahnya memerah.

Dalam  hati Nindi, ia mengamini apa yang dikatakan ayahnya. Orang tuanya sangat peka sekali dengan urusan masalah hati yang ada hubungannya dengan perilakunya yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Pambudi sangat protektif dengan urusan yang namanya cowok, apalagi Nindi adalah anak gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi melebihi apapun di dunia ini.

"menjaga diri di depan laki-laki itu penting , harga diri dan kehormatan seorang perempuan  ada pada sikap dan tingkah laku kita, sebagai sebagai orang beragama kita harus berpegang teguh dengan norma-norma agama, sebagai orang timur kita harus  membawa ketimuran kita...itu namanya kita melestarikan budaya yang baik...perilaku yang baik, jangan kita meniru perilaku orang barat di terapkan di sini itu tidak akan masuk dalam budaya kita, masyarakat kita masyarakat timur ... junjung ketimuran kita jangan sampai kena arus globalisasi yang negative..." Sismiati  menambahkan kata-kata suaminya.

 "Apalagi kalau cowok itu suka sama kita, kita bisa menghargai mereka untuk mencintai kita tapi kalau kita tidak cocok tidak perlu membalasnya. Yang kedua memilih cowok harus bisa memberi semangat untuk maju, menjadi inspirasi kita belajar , supaya hidup terarah dan menjadi  kearah yang lebih baik lagi. Ketiga memilih cowok harus pintar bergaul dan membawa diri terutama pada keluarganya kita terutama lagi bisa mengambil hati Ibu dan ayah...kalau sudah bisa mengambil hati kedua orang tuamu ini berarti cowok kamu itu pintar beradaptasi kedepannya jika mempunyai permasalahan yang pelik mudah untuk mengatasinya..." lanjut Ayah Nindi menambahkan apa yang di ucapkan istrinya.

" ayah..., ibu... jangan khawatir, untuk saat ini Nindi tidak berniat untuk mencari kekasih, Nindi juga masih focus dengan pelajaran Nindi, apalagi sekarang sudah kelas 12 jadi mikir pelajaran dulu...tapi kalau buat selingan tidak apa-apa ya...hehehe..." ucap Nindi sembari tersenyum lebar. Bayangan guru Bahasa Inggrisnya menari-nari di angannya, wajah imut guru muda itu  selalu bisa menggoda.

" dadi bocah ojo grusah grusuh, pemikiran lan tindak tanduke kudu maton, ngati-ati...ojo kegudo kadunyan wae...mengko uripmu ndak sengsoro (jadi anak perempuan jangan tergesa-gesa, cara berfikirnya juga tingkah laku kita harus, hati-hati jangan terjebak dunia saja nanti hidupmu bisa sengsara).." terngiang nasihat nenek Nindi ketika umurnya  baru menginjak lima belas tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun