Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat dan Praktisi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pendidikan Timnas U-16, Apakah Cerminan Dunia Pendidikan Indonesia?

15 Agustus 2022   12:05 Diperbarui: 15 Agustus 2022   12:16 418
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilistrasi Supartono JW

Soeratin, EPA atas nama Klub, pemain dari mana, wajib surat keluar

PSSI hanya menyelenggarakan turnamen Piala Soeratin, Turnamen Elite Pro Academi (EPA) yang tidak menyertakan nama SSB sebagai pemilik dan pembina asli anak-anak. Piala Soeratin digelar tetapi atas nama Klub, dan hanya dalam bentuk turnamen, bukan kompetisi. Paham apa itu turnamen? Apa itu kompetisi, kan?

EPA di gelar bukan dalam bentuk kompetisi, tapi sekadar turnamen, juga atas nama Klub, bahkan pemain asli binaan SSB yang bergabung atau direkrut oleh Klub, regulasinya wajib meminta SURAT KELUAR dari SSB. 

Jadi, SSB yang terus berjasa melahirkan talenta pesepak bola harapan bangsa Indonesia, proses dan perjuangannya,
telah terbukti berkali-kali, wadah sepak bola akar rumput bernama SSB terus menjadi andalan pondasi Timnas U-16/U-17/U-18/U-19/U-20 yang asli di Indonesia. Tetapi SSB pun terus dijadikan sapi perah dan tempat mengambil keuntungan, tidak dihargai.

Host dan komentator menyakiti

Dalam artikel ini, saya pun kembali mengingatkan kepada host dan komentator siaran langsung di televisi. Sepanjang gelaran turnamen AFF U-16, mereka terus lebay mengumbar profil pemain dan siapa yang telah mendidik dan membinanya, tetapi tidak paham kisah aslinya. 

Ujungnya, sepanjang AFF, saat siaran langsung, banyak publik sepak bola nasional yang mengirim chat kepada saya, kecewa kepada host dan komentator yang menginformasikan profil dan perjalanan pemain sampai direkrut Bima Sakti tidak utuh dan tidak sesuai fakta. Ujungnya menyakiti para pembina asli anak-anak itu.

Saat host dan komentator di televisi yang sok tahu, dan menyebut anak-anak ini hasil binaan tim ini, SSB ini, akademi ini, tetapi tidak tahu sudah berapa kali anak-anak tersebut singgah dari SSB ke SSB, lalu singgah ke tim yang sok-sok-an namanya pakai akademi, tetapi syarat standar akademinya saja tidak lulus, hanya gaya-gaya-an. Justru, semakin menunjukkan pengetahuan si host dan komentator rendah. Karena asal bicara yang mereka ketahui di permukaan.

Pahami dulu, anak-anak itu asal muasalnya di bina di SSB aslinya mana? Sebab, SSB awal atau asli anak-anak Timnas U-16 begitu mudah diabaikan. Padahal SSB awal atau aslinyalah yang sejatinya membekali anak-anak pendidikan sepak bola.

Selalu menyebut SSB atau akademi/klub ini itulah, tapi tidak tahu SSB awal pemain itu dari mana? Apa SSB terakhir yang harus disebut jadi pahlawan? Apa akademi yang hanya meneruskan dari SSB yang jadi pahlawan? Atau Klub terakhir yang menjadi pahlawan? Apa hanya turnamen dan kompetisi itu yang mengasah pemain?

Jadi, kepada para host, komentator, juga para awak media, jangan mengumbar hal yang hanya kalian ketahui kebenaran atau berita terakhirnya yang hanya sepotong. Ketahuilah, saat Anda menyebut atau menulis profil anak-anak U-16 dan siapa yang ada di belakangnya, publik sepak bola nasional yang tahu kisah asli perjalanan anak-anak itu, menertawai Anda sekaligus sedih. Sebab, Anda-Anda juga wajib belajar dan tahu lebih dalam tentang sepak bola akar rumput agar tidak menyakiti para pegiat asli dan sejati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun