Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Akibat Larut Mengglorifikasi Pencapaian Semu

18 November 2022   20:12 Diperbarui: 19 November 2022   05:05 153
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dapat Menyebabkan Orang Lupa Akan Keluarga

Setiap orang tentu saja berhak memiliki kebanggaan atas dirinya sendiri. Entah karena kesuksesannya,entah karena kepintaran ataupun kekayaan yang dimilikinya. Boleh jadi juga ,dirinya hanyalah sosok orang biasa ,yang tidak punya titel untuk dibanggakan,serta tidak memiliki harta benda,yang dapat mendongkrak kebanggaan dirinya, tetapi tetap ada cara untuk memiliki kebanggaan diri.

Sebagai contoh. Seorang Penjual  nasi Padang di warung bawah tenda di bilangan Kemayoran ,dimana  dulu kami tinggal ,kebetulan sama sama berasal dari Padang. 

Tidak ada yang istimewa dari warungnya. Tapi Ajo yang berasal dari Pariaman di Sumatera Barat dengan nada bangga menceritakan,bahwa walaupun hanya buka warung bawah tenda ,yang dikelola berdua bersama isterinya.tapi ia mampu menyekolahkan kedua anaknya di perguruan tinggi .

"Alhamdulilah ,kaduo anak kami mampu kami sekolahkan hingga ke perguruan tinggi, walaupun kami hanya buka warung nasi, seperti ini" kata Adjo,sewaktu suatu waktu kami snggah beli nasi bungkus di warung bawah tendanya. Inilah salah satu kebanggaan yang patut diapresiasi. 

Beda Total Dengan Orang Yang Mabuk Mengglorifikasi Diri

Sore tadi saya dapat pesan via WA dari salah seorang cucu sahabat baik kami yang tinggal di Jakarta. "Selamat malam Opa dan Oma. Mohon maaf Leni(bukan nama sebenarnya ) mau minta tolong Opa nasihatkan suami Leni. 

Belakangan ini,sejak dari buka mata hingga larut malam,sibuk di medsos,sehingga melupakan bahwa kami anak isterinya butuh uang untuk biaaya hidup. Padahal sejak suami di PHK,keuangan keluarga kami morat marit. Satu persatu perhiasan pemberian orang tua,sudah saya jual.untuk bayar uang sekolah anak anak dan biaya hidup kami.

Kata suami,ia lagi berusaha untuk jualan secara online. Tapi sudah berbulan bulan ,tak pernah serupiahpun singgah untuk belanja dapur. Leni sudah bicarakan secara baik baik,tapi suami malah menjadi berang :"Kamu tidak bisa lihat suami senang ya !"

"Opa dan Oma kan kenal baik dengan keluarga suami ,termasuk dengan suami Leni. Mohon Opa dan Oma tolong kasih nasihat suami Leni. Ia sangat bangga ,hanya karena menjadi Admin dari WAG dan mendapatkan sanjungan dari teman teman chatting.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun