Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Petani - Pecinta aksara

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menyikapi Lemahnya Minat Baca Siswa di Indonesia

23 Oktober 2017   13:55 Diperbarui: 24 Oktober 2017   08:14 2167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dalam rentang waktu tiga tahun, skor capaian survei minat baca siswa di Indonesia hanya naik satu angka yakni 397 berbanding hasil survei tiga tahun sebelumnya yang mencapai angka 396. Tentu harapan besar dari adanya gerakan literasi sekolah (GLS) dan gerakan literasi nasional (GLN) yang selama ini dicanangkan pemerintah bisa menggenjot tingkat kemampuan baca siswa di Indonesia. 

Seperti diketahui bersama, kebijakan kebijakan GLS ini lahir karena adanya hasil uji pada Programme for International Student Assessment (PISA) terhadap 72 negara di dunia termasuk terhadap peserta didik sekolah di Indonesia yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD). 

Seperti diketahui bersama, setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia diaplikasi dengan pengetahuannya.

Dari beberapa referensi, diketahui bahwa pada uji PISA 2012 Indonesia berada pada peringkat ke-64 dengan skor 396 padahal skor rata-rata OECD 2012 adalah 496. Indonesia belum bisa menyaingi negara ASEAN lain seperti Vietnam yang Reading Score-nya sampai 508, Thailand 441, Malaysia 398 dan Singapura 542.

Gerakan Literasi untuk Siapa?

Hampir semua kita selalu menuding jadi apabila keluar angka rendah dari capaian prestasi peserta didik di sekolah. Pemerintah disalahkan dan sekolah dipertanyakan seolah-olah pemerintah dan sekolah saja yang bertanggung jawab akan semua ini. Yang dicanangkan oleh pemerintah yaitu gerakan literasi nasional (GLN) itu sudah benar sekali supaya masyarakat lebih peduli membaca demi menciptakan lingkungan yang cinta baca karena segalanya bermula dari membaca.

Artinya bukan siswa saja yang disuruh membaca tetapi guru di sekolah harus memiliki minat baca dan menulis yang tinggi, orang tua di rumah membiasakan lingkungan membaca dan menulis serta masyarakat Indonesia dimana-mana menunjukkan kecenderungan membaca, maka anak usia sekolah tanpa disuruh akan lebih cinta membaca dan memahami bacaan yang dilakukan untuk kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. 

Dalam hal ini, tidak ada alasan masyarakat Indonesia tidak mendukung kebijakan program pemerintah untuk gerakan literasi sekolah dan gerakan literasi nasional.

Foto: Astri Rahayu
Foto: Astri Rahayu
Penerapan dan Kontrol

Laporan resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI menyebutkan bahwa kemampuan membaca atau Reading activities peserta didik Indonesia belum mengalami peningkatan yang signifikan, skornya 397 hanya naik satu angka saja dari skor yang dicapai pada tiga tahun sebelumnya. Perolehan skor ini masih dibawah capaian negara-negara lain, dan juga tergolong dalam katagori yang rendah, karena perolehan rerata negara-negara OECD peserta survei PISA adalah 496.

Memang sering kita dengar ungkapan sinis bahwa Indonesia jagonya membuat kebijakan tetapi lemah dalam penerapan dan kontrol. Ada yang sampai sekadar keluar kebijakan tetapi tidak diterapkan apalagi akan dikontrol, ada juga tahap terlaksananya penerapan kebijakan tetapi lemahnya kontrol sehingga hasilnya juga minim bahkan tidak berkesan sama sekalai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun