Mohon tunggu...
thrio haryanto
thrio haryanto Mohon Tunggu... Penulis dan Penikmat Kopi Nusantara

Menyukai kopi tubruk dan menikmati Srimulat. Pelaku industri digital. Pembaca sastra, filsafat, dan segala sesuatu yang merangsang akalku. Penulis buku Srimulatism: Selamatkan Indonesia dengan Tawa (Noura Book Publishing, 2018).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Elegi Sarpin dan Sarpini

17 Mei 2020   00:16 Diperbarui: 18 Mei 2020   17:01 287 9 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Elegi Sarpin dan Sarpini
Sumber gambar: pixabay.com

Sarpin memeluk pusara Sarpini, perempuan yang sangat dicintainya. Bukan hanya tak mampu membendung air matanya, lelaki itu menangis meraung-raung hingga membangunkan serangga dan segala binatang penghuni tanah makam. 

Tangisannya membelah kesunyian malam dan mengusik perempuan-perempuan lacur yang sedang menjajakan diri di dekat tanah makam, mereka buyar tunggang langgang seperti laron mencari cahaya. Sarpini, cinta sejati Sarpin itu, meninggal tadi pagi lalu dimakamkan selepas dzuhur.

Sejak mengenal cinta, Sarpin hanya mengenal Sarpini, perempuan yang menghabiskan masa perawannya sebagai penjual nasi di sebuah pangkalan truk. Cinta mereka lahir sejak pandangan pertama. Namun, sejak itu pula mereka ingkar satu sama lain. Tak ada yang mau mengakui.

Nok Pini, begitu dia biasa dipanggil, berbadan sintal dan memiliki wajah manis dengan mata yang bulat. Kulitnya sawo matang. Giginya gingsul dan hidungnya tidak bangir, malah cenderung mungil. 

Namun, hidung mungil itulah yang membuat wajahnya makin manis dan nggemesake. Tak hanya lelaki, perempuan sekali pun pasti ingin memencet hidung mungilnya itu.

Namanya cinta, makin lama tak diungkap justru makin kentara. Hampir semua sopir truk dan para kernet sudah mahfum, Sarpin dan Sarpini saling suka. Lama kelamaan hati Sarpin menjadi Merbabu yang hendak meletus karena menyimpan asmara. Maka, di bawah pancaran sinar petromaks, ketika bohlam listrik negara padam, Sarpin mengungkapkan cintanya meskipun dengan bahasa yang belepotan dan berputar-putar.

"Sakjane mau ngomong opo to, Mas? Dari tadi muter-muter kayak motor tong setan!"
"Ee, anu, ee, nggak. Ee, tapi, omong-omong, ee anu..." Sarpin gelagapan, "Kamu pernah dengar cerita Roro Mendut, Nok?"
"Pronocitro?"
Sarpin mengangguk. "Bapakku sering cerita. Mendut itu asalnya dari sini, to? Dari Pati,"
"Wis to, Mas... kamu sebenernya arepe ngomong opo?"
"Kamu mau jadi Mendutku, Nok?"

Pini memandang lekat-lekat Sarpin. Pemuda 28 tahun itu jelas bukan Pronocitro idaman Roro Mendut. Sarpin hanya seorang sopir truk. Jauh, jauh jika diperbandingkan dengan Pronocitro yang anak saudagar.

Tapi, Pini juga sadar, dirinya bukan Mendut. Jauh juga jika diperbandingkan dengan dara ayu yang demi cintanya kepada Pronocitro berani melawan pinangan seorang Panglima Mataram bernama Wiraguna.

"Kamu nggak mau ya, Nok?"
"Tergantung."
"Tergantung opo?"
"Kamu Pronocitro apa Wiraguna?"
"Yang jelas bukan Wiraguna."

Pini tersenyum, diraihnya tangan Sarpin lalu diciumnya. Sekali lagi, ia tersenyum lalu memandang Sarpin. Mata mereka saling menatap seolah sedang saling mengikat.  

Deklarasi cinta mereka disaksikan oleh pancaran sinar petromaks. Malam makin tua, Sarpin harus kembali melanjutkan perjalanan. Sebuah perjalanan yang berat karena separuh jiwanya tertinggal.

Bukan hanya perjalanan saat itu, namun juga perjalanan-perjalanan berikutnya. Apalagi mereka tidak dapat bertemu setiap saat. Jangankah setiap hari, seminggu sekali pun sudah keberuntungan.  

Jalinan komunikasi hanya dapat dilakukan melalui pesan pendek, sesekali melalui sambungan telepon. Maka, ketika mereka berkesempatan bertemu, mereka akan menghabiskan segala waktu untuk menumpahkan kerinduan.

"Aku kangen," ucap Sarpin.
"Jangan keseringan bilang kangen, cukup sesekali saja biar aku makin merasa," timpal Pini sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, di belakang truk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x