Mohon tunggu...
Teguh Yuswanto
Teguh Yuswanto Mohon Tunggu... Jurnalis dan penulis

Jika sanggup memahami tanda-tanda di Kitab Suci maka akan memahami juga tanda-tanda di alam raya.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kisah Sersan Sarmin

6 Oktober 2019   03:04 Diperbarui: 6 Oktober 2019   03:31 195 7 4 Mohon Tunggu...

Takutlah pada tentara. Pertama, tentara mempunyai senjata. Kedua tentara mempunyai teman  banyak. Tapi yang paling menakutkan adalah, solidaritas sesama tentara. Inilah sesungguhnya senjata yang paling menakutkan bagi seorang tentara.

Jika solidaritas muncul, apapun bisa terjadi. Dan solidaritas itu akan muncul jika saudara atau sahabat disakiti. Tak harus negara yang disakiti. Mereka akan mengeluarkan rasa solidaritas sesama prajurit.  Seperti kisah ini. Peristiwa ini terjadi di era perang kemerdekaan. Di mana tentara belum bernama Tentara Nasional Indonesia. Tentara masih berasal dari rakyat. Tapi mereka sudah mempunyai seragam.

Sarmin, mempunyai cita-cita menjadi tentara. Sebenarnya tidak terlalu sulit menjadi tentara di zaman peperangan.    Di mana sebagain besar orang malah menghindar jadi tentara. Tentu takut berada di garis depan menjemput desingan peluru. Melihat secara langsung teman seperjuangan merintih kesakitan karena terkena pecahan mortir.  Tak pernah pasti,  hari ini masih ada,  atau justru tinggal nama.

Tapi ketika mendaftar tentara, Sarmin hanya diterima sebagai tukang cuci seragam tentara. Posisi sebagai sipil yang dipekerjakan di dinas militer.  Sarmin tidak berkecil hati. Paling tidak setiap hari berangkat ke markas militer. Dia mendatangi satu-satu ke barak militer untuk mengambil cucian yang kotor. Dan bekerja di sana.

 Kerja nyata. Mengubah seragam kotor menjadi  seragam kinclong.  Sesungguhnya bukan hanya baju seragam. Semua pakaian militer dicuci. Sarmin tidak membedakan pangkat. Semua seragam dalam rendaman ember yang sama. Menggunakan detergen yang sama. Yang penting, seragam Kopral, Mayor atau Letnan sama kinclongnya.

Karena kesungguhan dan kecintaan Sarmin pada tentara, tentara pun merasa sayang kepada Sarmin.   Mereka tahu, gaji sebagai tukang cuci tak seberapa. Itu sebabnya, mereka sesekali memberi tips lebih kepada Sarmin. Untunglah Sarmin masih bujangan. Tak banyak kebutuhan. Tapi jiwa patriotnya tak perlu diragukan. Beberapa kali Sarmin menghadap kepada komandan agar diterima sebagai pasukan tempur, tapi tetap kondisi Sarmin tidak memenuhi syarat. 

"Kamu sudah mempunyai medan tempur yang tak kalah mulianya Sarmin," kata komandan kepada Sarmin.

"Mencuci seragam militer itu juga jihad. Itu malah hasilnya bisa dilihat langsung. Walau tidak bertempur secara langsung di medan perang, perangmu juga mulia," lanjut komandan membesarkan hati Sarmin.

Sarmin berpikir, yang namanya tentara, ya harus  memanggul senjata dan maju di medan perang.  Bukan membawa ember, sikat dan sabun. Sesekali Sarmin mengikuti latihan dan mempraktikan apa yang diajarkan dalam latihan militer. Sarmin juga mencoba  lari sambil bernyanyi.

 Latihan angkat beban. Latihan push up. Latihan tiarap melewati duri-duri. Melihat tingkah Sarmin, komandan membiarkan saja. Mengikuti latihan militer juga baik. Paling tidak, menurut komandan, Sarmin mempunyai fisik yang jauh lebih kuat. Ketika melaksanakan tugas mencuci pakaian jadi lebih tahan dan lebih bersih hasilnya.

Tapi Sarmin tidak berhenti sampai di situ. Sarmin juga menjajal, atraksi berbahaya yang biasa dilakukan militer ketika unjuk kebolehan. Melintasi bara api.   Berenang dengan seragam lengkap sambil membawa ransel dan menggunakan sepatu. Karena Sarmin tidak memiliki senjata, maka digantinya laras senjata itu dengan potongan besi yang sekiranya mempunyai bobot  sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x