Mohon tunggu...
Lupin TheThird
Lupin TheThird Mohon Tunggu... Seniman - ヘタレエンジニア

A Masterless Samurai -- The origin of Amakusa Shiro (https://www.kompasiana.com/dancingsushi)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Singa yang Tak Pernah Mengaum Lagi

24 November 2018   07:10 Diperbarui: 24 November 2018   07:48 822
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

//

Hari ini Kamis, tanggal 31 Maret 2005.

Tidak banyak pengunjung yang datang ke Yoshinoyama Doubutsuen karena memang bukan hari libur. Puutaro bergegas membenahi alat-alat yang digunakan untuk membersihkan jalan, lalu menyimpannya di lantai 1 asrama tempat tinggalnya, yang berfungsi juga sebagai gudang.

Setelah itu, dia segera naik ke kamarnya di lantai 3, dimana terdapat juga kamar 4 orang anggota kebersihan yang lain. Kamar yang ditempatinya tidak begitu besar. Hanya ada satu tempat tidur dan meja kecil, serta satu rak yang penuh berisi buku. Ada CD radio juga disitu, karena Puutaro gemar mendengarkan musik. Tidak ada televisi disana karena sudah disediakan oleh enchou di ruang bersama asrama di lantai 2.

Setelah mandi dan mengganti baju, Puutaro langsung masuk ke tempat tidur dan mencoba memejamkan mata, karena seminggu ini dia agak masuk angin, ditambah badannya terasa pegal.

Lewat tengah malam, Puutaro terbangun dari tidurnya.

"Rasanya aku mendengar auman. Ya, rasanya aku mendengar auman Singa," kata Puutaro dalam hati.

Dia mengucek-ngucek mata, mengambil jam meja, lalu menyalakan lampu kamar. Jam digital menunjukkan angka 00:10. 

"Ah, hari sudah berganti menjadi  Jum'at, tanggal 1 April rupanya," gumam Puutaro.

Dia meraih surippa *8), memakainya, kemudian beranjak dari tempat tidurnya.

Puutaro membuka pintu kamar, menjulurkan kepalanya, menengok kekanan dan kekiri sebentar untuk melihat situasi, lalu berjalan ke luar sambil berhati-hati mengatur langkah kaki, karena agak sempoyongan sebab dia belum sepenuhnya bangun dan masih terasa mengantuk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun