Mohon tunggu...
Syivaun Nadhiroh
Syivaun Nadhiroh Mohon Tunggu... IRT sekaligus Mahasiswi Magister Pendidikan Islam UIN MALIKI Malang

Menjadi Manusia yang mengerti akan makna kehidupan dengan Antusias, Semangat, Smart, Kreatif dan Inovatif. Semoga Sukses dan Berkah, amiin... SEMANGAT-SEMANGAT.....

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Mungkin Lupa

19 Juli 2020   15:23 Diperbarui: 19 Juli 2020   15:33 67 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mungkin Lupa
20140909-051938-5f1403a2d541df3a2015b316.jpg

Beberapa hari kedepan akan berjumpa lagi dengan hari raya umat Islam yakni Idul Adha, momen di mana semua orang Islam akan merayakan kebahagiannya bersama-sama. Kendala adanya covid 19 menjadi sekat untuk kebersamaan seperti biasanya, mungkin hanya beberapa wilayah yang memperbolehkan untuk berkumpul bersama-sama, seperti sholat berjamaah, penyembelihan hewan Qurban, kumpul bersama keluarga, makan-makan dan lain sebagainya. 

Tapi hal itu tidak lagi menjadi penghalang jika kita sama-sama menjaga kesehatan dan tetap menjalin hubungan sesama sesuai protokol yang sudah ditentukan oleh pemerintah, memakai masker, mencuci tangan, jangan dulu bersalaman, tapi tetap bertegur sapa walau hanya dengan salam dan senyuman atau bahkan lewat media sosial. 

Yang terpenting lagi kita tidak menyalahkan siapapun terkait adanya virus ini, sebab semua akan terkondisikan dengan baik jika kita tetap berada di tengah-tengah, tidak terlalu semena-mena terhadap kesehatan tapi tetap waspada dalam melindungi diri, terlebih dimulai dari diri sendiri.

Ada sebuah pengalaman yang menurutku bagus untuk diambil hikmah dan pelajarannya. Biasanya sebelum pelaksanaan sholat Ied berjama'ah, kita bersama-sama mengumandangkan takbir. Jeda sebentar ada pengumuman dari takmir masjid terkait pencapaian zakat fitrah dan amal jariyah dari para jama'ah. Ada seseorang yang biasanya dianggap paling tegas di desa kami, tegas dalam artian selalu mengingatkan pada hal-hal yang kebaikan. 

Pernah suatu ketika ada momen di masjid juga sama-sama sholat ied tapi di tahun lalu. Beliau pasti marah ketika ada suara-suara rame dari belakang, sebab beliau selalu di depan shof pertama, selalu. Suara tersebut entah berisik dari ibu-ibu yang menata shof di belakang atau suara tangis anak-anak kecil. 

Maksud beliau pasti baik, agar penyampaian informasi dari takmir terdengar jelas, lagi pula kan di masjid. Tapi semua yang dilakukan beliau itu berbeda dengan tahun sekarang, mungkin lupa atau sengaja, tapi juga tidak mungkin kalau sengaja. Ketika penyampaian informasi dari takmir, beliau terlihat jelas oleh jamaah lain di shof belakangnya kalau beliau sedang selfie, dan juga video call dengan saudaranya, meskipun bukan saudara dekat tapi masih di anggap saudara. 

Sontak orang-orang di belakang memberitahuku untuk mengingatkan beliau, tapi posisi tempat dudukku juga jauh dari beliau. Kenapa harus ke aku orang-orang bilangnya, sebab beliau adalah nenekku sendiri. Hehehe ya mau gimana lagi, sudah terjadi begitu saja dan selesai begitu saja. Bukan maksud hati tidak ingin mengingatkan beliau, tapi lebih baik nanti saja ketika di rumah atau pas berduaan dengan beliau baru ku sampaikan apa yang telah terjadi tadi.

Berjalannya waktu begitu saja, setelah beberapa hari kejadian itu kalau dipikir-pikir nenek tidak bisa sama sekali memainkan gadget apalagi video call. Jangankan VC, telephon biasa aja masih minta bantuan ke yang lain. 

Ternyata usut di usut nenek duduk berdampingan dengan saudaranya sendiri yang lebih tepatnya ibu-ibu generasi milenial-lah, sampai keadaan yang tidak memungkinkan masih menggunakan VC dengan saudaranya. Tidak ada yang disalahkan dengan peristiwa ini, sebab waktu itu masa-masa pandemi tiap orang tidak bisa bertegur sapa secara langsung, hanya saja waktu dan tempatnya kurang tepat.

Menjadi pelajaran dalam peristiwa itu, menjadi bijak tidak harus tua, dari diri sendiri sejak dini pun perlu kebijakasanaan dalam menanggapi sebuah peristiwa dan masalah. Tak perlu menyalahkan orang lain kalau kita akhirnya juga pernah salah, tak perlu menyiyir ke orang lain kalau pada akhirnya kita juga melakukan hal yang sama. 

Setiap orang pasti memiliki kesalahan dan kekhilafan, fungsinya hidup bersama-sama adalah untuk saling mengingatkan dan mengasihi satu sama lain. Tujuannya agar kita juga selamat bersama-sama, karena tidak ada satupun manusia sempurna kecuali utusan-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW.

Hati-hati dengan setiap kata yang terucap, sebab lidah tak bertulang.

 

Allahu A'lam

Gampingan, 19 Juli 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x