Mohon tunggu...
Syahrul Chelsky
Syahrul Chelsky Mohon Tunggu... Tokoh Fiksi

Orang Absurd.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Surat-suratku yang Pendek

21 Mei 2019   16:41 Diperbarui: 6 Juni 2019   09:22 0 50 13 Mohon Tunggu...
Surat-suratku yang Pendek
Pixabay

Kutulis sebuah surat pendek dengan air mata, untuk menanyakan sebuah kabar dari dalam hati yang tak pernah mau menyimpan namaku.

Aku tahu ini tak panjang, dan kemanisannya mungkin tak akan sampai membuatmu tersedak. Malah mungkin akan membuatmu muntah.

Karena aku memang tak pandai berbasa-basi, apalagi membuat selembar omong  kosong lewat puisi yang tersurat hanya untuk menanyakan bagaimana kabar hatimu hari ini. 

Tapi ini tulus.

Surat ini (lagi-lagi) tentang cinta, rindu dan rasa sakitnya yang tak beranjak dari sela-sela ruang rusuk, dan memilih bisu saat kutanya perihal kau.

Setelah ditulis, akan kubiarkan  ia menggantung pada angin-angin jendela dekat lemari selama beberapa hari. Kadang-kadang aku ucapkan selamat pagi dan bertanya bagaimana keadaannya hari ini. 

Dia bilang, "Sakit."

"Tak apa," kataku. 

"Aku mengerti, cinta dan rasa sakit memang seharusnya tidak kita nikmati seorang diri. Dan untuk itulah kau kuciptakan"

Seusai malam-malam yang ragu, surat ini akan kukirimkan padamu, lewat kotak pesan berwarna merah muda yang sudah berkarat, dengan stiker hati tak utuh yang menempel di samping kirinya. 

Tak ada hal lain yang bisa kulakukan, selain menunggu dan berharap surat itu akan sampai ke rumahmu dengan selamat. 

Doaku sehabis senja: Semoga ia tak tersesat.

Sewaktu dalam perjalanan, suratku akan melalui beberapa rintangan, hujan, cuaca buruk hingga goncangan akibat aspal berlubang yang dilewati oleh tukang pos gopoh. 

Beberapa hari kemudian suratku yang sakit akan sampai dan beristirahat sebentar dalam kotak pesan merah tua yang ada di depan rumahmu. Yang menunda kedatangan dari sebuah kabar patah hati yang meminta dirindukan. Yang seharusnya kutulis lebih panjang dan romantis untuk meluluhkan hati dan kebatuanmu.

Ibumu yang menemukan surat itu lebih dulu. 

"Dari orang asing. Tak ada nama," katanya.

"Robek saja," jawabmu.

Ini sudah yang ketiga kalinya kau tak membaca suratku.

Pada akhirnya aku sadar, aku tak merindukanmu seorang diri. Aku juga tidak sedang mencintaimu seorang diri. Kau pun tidak hanya menyakitiku. 

Surat-surat itu sudah sampai, kemudian patah dan hancur sebagaimana perasaan. Hingga membuat mereka semua paham, bahwa untuk itulah mereka kuciptakan.