Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Karakter Anggota Media Sosial

22 Januari 2019   19:01 Diperbarui: 24 Januari 2019   11:16 57
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tidak ada yang memungkiri media sosial (WhatsApp, Line, Instagram, facebook), sangat membantu untuk berkomunikasi di dunia maya. Berkat media sosial dapat mempertemukan teman sekolah/kuliah yang sudah lama berpisah karena tuntutan profesi. 

Intinya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, berdampak bukan hanya bidang ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan, tetapi tali silaturahmi yang lama terputus dapat tersambung kembali. Rajutan tali pertemanan dalam komunitas (grup) di media sosial, seperti Whatshapp dan Instagram. Walaupun  Line dan Facebook masih dimanfaatkan, tetapi nilai intensitasnya mulai menurun.

Ketika dimasukkan group WA oleh Admin, dampak langsung sibuk membuka HP untuk mengetahui informasi, dan pastinya memori handphone cepat penuh. Lazim setiap orang mempunyai anggota komunitas dalam grup WA lebih dari satu. Mulai dari komunitas teman sekolah, komunitas kemasyarakatan (PKK, RT, pengajian), komunitas hubungan darah (keluarga, trah), komunitas profesi, komunitas kepanitiaan kegiatan (temporer). Bisa dibayangkan bila tiap grup berisi 50 anggota, tinggal mengalikan komunitas yang diikuti. Diakui, sehari tidak membuka HP, dijamin ada ratusan atau ribuan pesan WA yang belum terbaca. Padahal isinya sekedar "say hello", basa-basi mengucapkan "selamat pagi" dengan tulisan, gambar, suara, video. Kalau sudah begini dapat dipastikan HP langsung "lemot", ngadat/hang.

Belum kalau mengamati berbagai karakter anggota grup WA. Ada yang "lebay", mengirimkan kegiatan pribadinya, sedang apa, pergi kemana, lengkap dengan foto selfinya. Padahal tidak ada relevansinya dengan group, artinya WA sebagai tempat untuk eksistensi diri. Kondisi ini tentu sangat menganggu dan memenuhi memori HP. 

Selain itu ada yang menyerempet politik, agama, bahkan kampanye dengan nada provokatif, atau menyebarkan berita "hoaks", dan pronografi. Aneh lagi, ada  anggota yang "lupa diri" terbiasa dengan nada memerintah seperti dengan anak buah. Padahal anggota grup WA kedudukannya sejajar tidak ada atasan dan bawahan. Kalau sudah begini grup WA seakan menjadi ajang eksistensi diri (show off), bukan lagi untuk mempererat tali silaturahmi, dan berbagi informasi.  

Isi WA yang sudah melenceng dari tujuan awal, membuat suasana tidak nyaman, dan hanya "menyimak", bosan, malas untuk membaca, apalagi berkomentar. Tindakan yang dilakukan  menghapus semua pesan WA tanpa menyimak satu persatu. Konsekwensinya informasi penting seperti undangan rapat, arisan, nikahan, berita lelayu, terlewatkan. 

Masih ada lagi anggota grup yang jemarinya gatal, suka copas dari grup sebelah (tetangga) tanpa berpikir  untuk memilih dan memilah informasi itu benar, asli, atau hoaks belaka. Ironisnya, justru bangga sebagai orang pertama yang mengirimkan informasi di grupnya. Padahal isinya hoaks, tidak benar dan kebohongan yang disebarkan tanpa dikomfirmasi ke sumbernya.

Disinilah seseorang dapat diketahui sejauh mana untuk memahami makna "bijak dan cerdas" dalam bermedia sosial. Hal ini sangat berkorelasi dengan tingkat pendidikan, lingkungan sosial, dan kecerdasan emosional.

Selain itu ada anggota grup sukanya mengirimkan cerita bersambung (cerbung) yang sudah dimuat dimedia cetak atau dibukukan, seperti "Naga Sosro Sabuk Inten", "Ko Ping Ho", "Api di Bukit Menoreh", dan cerita lain bersambung, atau membuat cerpen sendiri di sebarkan ke anggota grup WA. 

Haduh semakin membuat HP menjadi "mati" beneran, sehingga pemiliknya "mati gaya", karena HP ngadat tidak mau dibuka.  Pernahkan si pengirim berpikir kalau apa yang dilakukan untuk mengirim copas yang panjang itu dapat menganggu kinerja HP anggota WA lain ?.

Memang diakui WA dapat mempererat hubungan pertemanan sekedar untuk berkabar yang sudah lama tidak ketemu karena tugas, profesi, dan pilihan hidup yang berbeda. Ketika ketemu sangat wajar bila membuat grup WA, namun yang perlu diingat tetap harus menjaga "rasa" saling menghormati, menghargai, dalam menjalin pertemanan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun