Mohon tunggu...
Sri Rahayu
Sri Rahayu Mohon Tunggu... Lainnya - Menyukai literasi

Seorang ibu rumah tangga

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Ratapan Angin Dieng

29 Juni 2022   22:20 Diperbarui: 29 Juni 2022   22:32 258
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Pagi berbalut rinai hujan semakin mencekam jiwa

Kabut tebal masih ada disana

Menambah rasa yang makin gundah gulana

Baca juga: Kamu

Kupejamkan mata

Larut dalam sebuah makna kehidupan dan cinta terlarang

Antara bahagia, lara dan air mata

Baca juga: Langit

Sayup terdengar lagu duka lara dinyanyikan

Dedaunan adalah saksi bisu sebuah penghianatan

Rayuan setan mampu menggoyahkan arti kesetiaan

Mendobrak benteng kukuh pertahanan

Kala yang tersakiti mulai menyadari

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun