Novel

Merintang Rindu (Bagian #1)

29 September 2018   23:58 Diperbarui: 29 September 2018   23:57 511 0 0

Jalan Seruni memberi banyak kenangan bagi orang-orang yang pernah melewatinya. Letaknya tak jauh dari jantung kota Demak, dekat sekali dengan terminal kota. Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan Seruni  memang membuat sejuk. Tapi, bukan sejuknya saja yang membuat orang-orang lalu-lalang di sepanjang jalan itu. Hampir sepanjang jalan terdapat bangku kayu yang ditata berjejer. Ada yang duduk memangku dagangan sambil menunggu bus-bus dari kota lain datang; ada pula yang terduduk sekadar berlindung dari terik matahari; termasuk para tunawisma yang tak segan merebahkan badannya dan menjadi bagian dari penghuni bangku-bangku Jalan Seruni. Sebagian yang lain punya kisah sendiri mengapa mereka rela membagi waktu berada di jalan itu.

Senja 1 Juli 1996 nampak seorang wanita paruh baya duduk di salah satu bangku Jalan Seruni; sendirian. Perutnya buncit dan wajahnya nampak pucat pasi. Jika dihitung-hitung pandangannya lebih banyak mengarah ke terminal dibandingkan arah lainnya. Sesekali ia mengelus-ngelus perutnya sambil melihat ke atas; meperhatikan pepohonan. Berkali-kali senja miliknya dilewati dengan aktivitas seperti itu. Entah untuk tujuan apa ia melakukannya; seolah tak adakah hal lain yang lebih menarik untuk ia lakukan. Dan saat langit mulai semakin gelap ia berdiri lalu pulang.

Waktu berlalu begitu cepat bahkan sebelum wanita itu menyadari perutnya semakin membesar. Hari itu pun tiba, wanita itu melahirkan seorang anak perempuan; diberinya nama Asyi. Semenjak Asyi lahir dan tumbuh menjadi seorang anak perempuan nan cantik ia tak lagi menjadi bagian dari bangku Jalan Seruni.

Asyi bersama ibu dan neneknya telah lama menetap di rumah yang terletak di bagian paling Utara Demak kota. Menurut sebagian besar orang, rumah mereka tak begitu besar untuk memuaskan hati penghuninya. Lihat saja, nenek Tik sangat menyukai tanaman. Tak kurang dari seribu jenis tanaman ada di rumah mereka. Ibu Asyi menghabiskan ruang paling banyak; empat ruangan sekaligus menjadi miliknya. Ditambah basemen yang sebagian besar dipenuhi barang-barang koleksi milik almarhum kakek Asyi.

Pertengahan tahun 2002 saat sinar matahari perlahan membuat rumah terasa hangat,

"Braaak..." suara keras datang dari bagian depan rumah.

Dengan cepat Nenek Tik langsung mendatangi sumber suara itu.

"Astagaaa...." Nenek Tik terkejut ketika melihat anak-anak jatuh terduduk diatas etalase tanaman kambojanya.

Kali ini anak-anak kampung sebelah kembali berulah, mereka meloncat melewati pagar rumah karena asyik mengejar layang-layang putus yang tersangkut di atap etalase tanaman kamboja nenek Tik. Bukan hanya kejadian rusaknya atalase tanaman kamboja.  Sebelumnya mereka pernah mengambil dan bermain lempar-lemparan buah markisa muda milik nenek Tik; sampai akhirnya tanaman markisa nenek rusak lalu mati.

"Oooooooooh... pie to le? Petingkah!" Nek Tik menghela nafas hebat sambil melipat lengan bajunya.

Mendengar teriakan nenek, Asyi baru saja pulang setelah bermain sepeda langsung terdiam; turun dari sepedanya lalu meletakkan sepeda miliknya ke tanah dan secepat kilat ia berlari mencari ibunya.

"Ibu!" Asyi berlari menuju ruang kerja ibunya.

 "Mereka merusak tanaman kamboja nenek!" Teriak Asyi. Keras sekali.

Ibu yang sedang melukis di ruang kerjanya menoleh kaget, "Apa yang kau maksud, nak?"

Asyi meloncat ketakutan sambil menunjuk-nunjuk halaman depan.

"Itu, anak-anak itu merusak kamboja nenek." Mata cokelat Asyi membelalak.

"Nenek marah!" kata Asyi sambil menarik baju ibunya.

Ibu langsung berdiri dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju halaman depan. Asyi menyelinap dibalik pintu sambil melihat ibunya yang berjalan mendekati neneknya yang sedang mengambil tanaman yang terlepas dari potnya.

"Tak apa bu, aku lebih suka melihat anak-anak bermain lempar-lemparan daripada main  gadged lama-lama." mengegelus punggung nenek sampai tengkuk "Tak apa bu. Kita perbaiki bersama."

"Mereka loncat dari pagar lalu merusak tanaman kambojaku!" nenek memijat-mijat pelipisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7