Mohon tunggu...
Dendi SwaranDanu
Dendi SwaranDanu Mohon Tunggu... Seniman - sanghana

kenapa saya menulis ? ini sebuah pertanyaan klasik yang sering dipertanyakan bagi mereka penulis, bahkan untuk saya yang ingin memulai. ini zaman penyebaran ide dimana-mana orang pada sadar untuk menyebarkan apa yang mereka tau. orang akan menyebarkan apa yang mereka punya dan orang akan menyebarkan apa karya mereka.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Pengangguran

14 Juni 2020   16:52 Diperbarui: 14 Juni 2020   17:35 77
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Malam telah tiba, kepalu sakit, kebiasaan ketika aku membutuhkan kopi. Tapi hal yang paling menjengkelkan pasti tidak bisa tidur dimalam hari. Aku mengambil resiko itu dari pada kepalaku terus sakit.

Aku membawa uang lima ribu. Tiga ribu untuk kopi sisanya rokok sebatang. Itu kulakukan jika memang aku tidak punya uang dan kebiasaannya memang aku sering kekurangan. Pelayan membawa kopi kepadaku dan tanpa ku sadari dia duduk bersamaku. Lebih nyaman sendiri dari pada ditemani tapi temanmu tak memahami keadaanmu dan mereka lebih suka membanggakan diri. Aku menyalakan rokokku.  

"kapan nikah?" tanya pelayan.

"lagi dalam persiapan", jawabku.

Pembicaraan seperti ini selalu membuatku tersudut. Bukannya aku tidak mau tetapi aku memang belum siap. Kerinduanku terhadap pernikahan sangat besar. Karena aku mempunyai prinsip sendiri terhadap sebuah hubungan, aku tidak akan mendekati seorang wanita atau berhubungan dengan wanita kecuali dia memang menjadi istriku. Itulah yang membuat aku kehilangan dua orang yang pernah kucintai yang terpaksa kuhilangkan dipikiranku karena mereka sudah berkeluarga. Aku tak pernah memberi tahu mereka perasaanku.

"jangan pernah menunggu menjadi pegawai negeri sipil jadilah orang swasta, pemikiran orang swasta itu selalu berputar dia tak pernah diam, selalu mencari peluang tidak pernah mencari kerja tapi membuka lapangan pekerjaan", ceramah pelayan.

"semua itu butuh modal", kataku.

"minta sama ayahmu", kata pelayan.

"aku tidak tau, mungkin ayahku tidak setuju", kataku.

"ayahmu pegawai negeri sipil susah mempunyai pikiran seperti orang swasta", katanya.

Tak pernah aku terlalu terbuka pada ayahku, menanyakan pendapatnya atau meminta bantuan secara langsung. Kadangkala ayahku membantu ketika aku terlihat kesulitan. Aku merasa janggal untuk memulai percakapan dengan ayahku.

"sekali-kali kau harus duduk dengan orang-orang hebat, meminta mereka mendengarkan rencana-rencanamu, mungkin mereka mau membantu", katanya. Aku hanya menggaruk kepala yang tak gatal dan tersenyum. Tak pernah ada bayangan untuk melakukan hal tersebut. Bagaimana cara memulai dan bagaimana melihat minat mereka terhadap ide-ideku.

"pandangan pertama sangat menentukan, kita harus merubah penampilan kita agar orang percaya terhadap kita', kata pelayan. Aku tidak tau maksud perkataanya, tapi itu membuatku tersinggung. Aku mulai bertanya-tanya apakah penampilanku seburuk itu sehingga dia membahasnya. Pelayan itu pergi melayani tamu yang lain. kopi terasa cepat habis tanpa nikmat menyeruputnya.

Aku pulang lebih cepat dari biasanya, kebiasaanku bisa menghabiskan waktu dua jam di warung kopi. Lampu kamar telah kumatikan tapi mataku sulit ku pejam. Pertemuanku dengan pelayan mengganggu malamku. Telah ku  lakukan berbagai macam cara untuk mendapat pekerjaan tapi selalu mendapatkan jalan buntu.

Pekerjaan dan gaji merupakan langkah awal meneruskan jalanku menuju pernikahan. Bermalas-malasan ditempat tidur juga bukan keinginanku tapi aku tak tau harus melangkah kemana. Kemampuanku ketika aku kiliah di jurusan komunikasi hanya sedikit tidak memiliki keteguhan hati dan kepercayaan diri dengan ilmu tersebut. Bisa saja aku belajar sedikit-dikit tapi aku tak punya uang untuk laptop dan kamera.

Tempat tinggalku dengan kota berjarak satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor, bisa saja bergaul dengan teman-temanku membangun relasi. Tapi aku tidak punya uang untuk langkah itu. Dan lagi-lagi aku terbentur tembok yang panjang dan tebal.

Malam semakin larut jarum jam terus berdetak nyanyian jangkrik nyaring terdengar. Mataku belum terpejam otakku terus saja berputar tersesat mencari jalan keluar. Kadangkala pikiranku berkata sebaiknya bunuh diri merupakan solusi yang paling cepat. Tetapi aku sadar agama melarang hal itu. Aku takut jika aku terus seperti ini dihari tua nanti aku sendiri tanpa ada yang menemani.

Beberapa kali aku duduk bersama temanku tetapi tidak ada pembahasan membangun usaha dan berfikir masa depan, mereka cuma bisa untuk berkumpul dan tertawa, aku terlalu tua untuk melakukan hal tersebut. Tak mungkin mereka tidak pernah nonton atau membaca kisah-kisah orang sukses itu mustahil diera teknologi sekarang ini. Atau mereka telah lelah melakukannya.

Aku selalu bertanya mengapa orang sukses jalannya ada, rintangan ada, tapi berhasil. Apakah pengaruh pikiran, pengaruh uang atau lingkungan. Dimesjid suara ngaji, udara mulai sejuk, mulutku mulai menguap mataku berat. Ngaji dan azan bagai nyanyian nina bobo. Aku suka berfikir tapi malas jika tak ada penyelesaian. Aku tertidur.

Badanku mulai panas mataku terbuka oleh silaunya matahari, sudah jam dua belas. Penyelesaian mulai timbul kenapa aku harus minum kopi. Pekerjaan apa yang dilakukan tengah hari. Aku bangun kemudian mandi.

Penyelesaian tidak hanya timbul lewat hati, menjalar keseluruh tubuh membuat  lemah. Mengambil piring dan membuka tudung nasi. Suapan pertama kemulut menjadi hambar ketika ibuku berkata "kerjamu hanya makan dan minum".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun