Mohon tunggu...
Said Kelana
Said Kelana Mohon Tunggu... Dosen - Lelaki Biasa

Pengajar-Guru; Penikmat Kopi dan Pisang Goreng; Fans MU

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Gugusan Bintang

15 September 2022   09:29 Diperbarui: 7 November 2022   11:49 55 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Rumah Puisi Indonesia

Pada sebuah meja kayu sederhana,

Wanita itu menuang kopi untuk lelaki dihadapannya,

Lalu mengalirlah cinta dan terus menyelinap jauh ke rongga jiwa

Dan lelaki itu menatapnya mesra, menjulur tangan mengusap kelopak mata si Wanita

: bak gugusan gemintang; engkau demikian cemerlang,

Demikian telah beratus purnama

Secangkir kopi itu adalah istimewa,

Wanita itu selalu bergairah menyajikannya

Menemani lelaki yang menghirup cinta, Wanita itu menghitung gurat wajah yang tersisa

Semakin dihitungnya, cintanya makin berpendar-pendar saja

Matanya berkaca-kaca, dan hatinya berkata:

Sesungguhnya engkau adalah gugusan gemintang yang sesungguhnya

Untukku dan untukku

Demikian telah beratus purnama

Pada/dengan sebuah tatapan mesra, lelaki itu mereguk tetes terakhir

Cinta yang akan mengalir

Menjulurkan tangan mengusap kelopak mata Wanita

: cangkir kopimu adalah istimewa

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan