Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Media

Karena Kompasiana, Saya Bisa Belajar Reportase

29 September 2015   01:20 Diperbarui: 29 September 2015   01:27 93 7 5

Di Kompasiana, apa yang kamu cari? Demikian judul artikel yang pernah saya tulis 2,5 tahun lalu. Tepatnya, 23 Maret 2013 seusai mengikuti nonton bareng (nobar) film Negeri 5 Menara. 

Memang, apa sih yang saya sudah dapat dari Kompasiana yang pada 11 Oktober mendatang genap lima tahun bergabung? Jawabannya, mudah saja. Cukup satu kalimat dengan lima enam kata: BANYAK!

Ya, kalau mau jujur-jujuran, banyak yang saya dapat atau temukan selama bergabung, tepatnya nulis di Kompasiana. Secara material, mungkin 10 jari saya tidak bisa menghitungnya lagi. Itu karena saya sudah beberapa kali mendapatkan doorprizelivetweet, menang lomba, diberi kepercayaan menulis review, dan sebagainya. 

Lalu, beberapa artikel saya juga berhasil menembus Kompas cetak seperi Freez dua kali, Kompas.com, buku antologi, baik yang disusun admin maupun rekan Kompasianer lainnya.

Itu belum termasuk menjalin hubungan pertemanan dengan sesama Kompasianer tanpa memandang usia, status, jenis kelamin, dan sebagainya. Bahkan, pernah mendapat gebetan! Wow...

Kalau mau dipaparkan lebih luas, karena Kompasiana, saya mendapat banyak hal yang jika ditulis bisa sampai ratusan lembar. Ini fakta dan tidak berlebihan. Setidaknya, versi saya pribadi.

Di antara sekian banyak keuntungan saya bergabung di Kompasiana, jelas saya bersyukur karena bisa belajar reportase. Ya, karena Kompasiana, saya dipercaya untuk melakukan liputan pada SEA Games 2011 di Jakarta. Itu merupakan salah satu momentum paling berkesan sepanjang seperempat abad lebih hidup saya. Sama girangnya ketika pertama kali artikel saya tentang Museum Wayang diapresiasi admin untuk masuk Freez.

Ya, berkat belajar reportase di Kompasiana, setiap jalan-jalan, wisata, pesiar, tamasya, dan sebagainya, saya selalu berusaha untuk menuliskannya. Mengenai artikel itu dapat highlight, terekomendasi, Head Line (HL), feature article, dan sebagainya, atau tidak, itu soal lain. Yang penting, bagi saya, ya nulis, nulis, dan nulis.

Dalam periode itu juga, saya jadi hobi "blusukan". Tak jarang, saya kerap bertemu dengan beberapa tokoh penting di negeri ini yang langsung saya tuangkan dalam bentuk reportase. Seperti, mantan presiden BJ Habibie, mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono, presiden Joko Widodo, dan publik figure lainnya.

Bahkan, adakalanya, saya sampai "niat" untuk blusukan sendiri saat senggang. Mulai dari meliput kebakaran, mengunjungi makam pahlawan, ke museum, konser, tawuran antarpelajar, mengunjungi markas Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), dan sebagainya yang terdapat dalam 553 artikel saya. Tak heran jika Kepala BNN Anang Iskandar -kini Kabareskrim- setiap bertemu saya selalu tersenyum sambil berseloroh, "Kamu lagi, Kompasianer ya..."

Tanpa pernah bergabung di Kompasiana, belum tentu saya bisa seperti sekarang dalam menulis reportase. Itu fakta yang tak terbantahkan.

*       *       *

Di sisi lain, galibnya suatu hubungan, sudah pasti ada pasang surut. Itu saya alami sendiri. Entah itu kecewa karena suatu hal, khsususnya terkait lenyapnya beberapa artikel, saya sempat vakum menulis di Kompasiana. Sebagai manusia biasa, bagi saya hal itu wajar. Terutama beberapa waktu lalu, ketika tampilan Kompasiana -menurut saya- kurang sedap dipandang hingga banyak yang menyatakan hengkang. Alhasil, saya cenderung menulis di blog pribadi.

Hanya, layaknya pacaran, dengan adanya perslisihan justru menimbulkan rindu yang merupakan bumbu istimewa dalam hubungan. Tetap saja Kompasiana yang saya tuju. Terbukti, meski sudah menulis di blog pribadi, tetap saja saya menyalinnya di Kompasiana dan men-share nya.

Kini, nyaris lima tahun saya mengenal Kompasiana, tentu saya mengenal baik beberapa admin yang mengelola. Meski begitu, bukan berarti saya tidak pernah mengkritik, protes, dan sebagainya. Terutama menyangkut fitur-fitu Kompasiana yang kadang membuat saya jadi tidak bersemangat untuk menulis.

Namun, protes atau kritik yang saya lakukan tentu tidak di depan umum seperti melalui komentar di artikel admin atau via media sosial (medsos) facebook dan twitter. Melainkan lewat -dulu- fitur inbox atau japri, sms, dan telepon, yang lebih elegan ketimbang harus teriak-teriak via artikel, komentar, hingga medsos yang diketahui orang banyak. Saya pribadi menyadari admin toh manusia biasa yang pasti pernah salah atau keliru. Jadi, wajar untuk saling mengingatkan. Apalagi sebagai Kompasianer, saya wajib mengkritik terkait adanya perubahan fitur, demi kelangsungan Kompasiana.

Ya, lima tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam periode itu, sudah banyak yang saya dapat dari bergabung di Kompasiana. Hanya, lagi-lagi sebagai manusia biasa, tentu saya tidak boleh berpuas diri. Masih banyak yang belum saya dapat atau salurkan di Kompasiana. Tentu, dari sisi positifnya. Sebab, seperti air yang bisa membuat perahu berlayar tapi juga menenggelamkannya. Begitu pun Kompasiana yang harus saya gunakan secara bijak. 

*       *       *

Artikel "ultah" sebelumnya:
- 1 (Satu Tahun di Kompasiana, Belajar Ngeblog dan Ngeblog Sembari Belajar)
- 2 (Jose Mourinho, Dua Tahun di Kompasiana, dan Kawah Candradimuka)
- 3 (Tiga, Hattrick, dan Treble)
- 4 (Absen)

Catatan Tentang Kompasiana:
- Di Balik Dapur Kompasiana
- Kompasiana Berusia Empat Tahun, Selanjutnya?
- Sketsa Kompasiana 2012: Tahun Penuh Warna
- Sketsa Kompasiana 2012: Tetap Berwarna
- Sketsa Kompasiana 2011
- Di Kompasiana, Apa yang Kamu Cari?
- Yuk, Menyesuaikan dengan Tampilan Baru Kompasiana
- Mencari Tampilan Kompasiana Terdahulu Melalui Situs Archive.org
- Kompasianiva, Pesta Karnival ala Kompasiana
- 10-12-11, Antara Kompasianival dan El Clasico

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2