Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Senyum Sang Pramugari

17 Maret 2013   15:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:36 0 2 5 Mohon Tunggu...

Banyak yang membayangkan, termasuk saya, menjadi pramugari itu sangat keren, mewah, dan gaya banget.

“Pokoknya, ‘wah’ abis deh,” ujar seorang kawan yang pernah bertugas di salah satu maskapai ternama di Indonesia. Selanjutnya, kawan itu, -sebut saja Kak NY- menuturkan bahwa kehidupan sebagai pelayan di moda angkutan udara itu, tidak begitu se-mentereng yang orang bayangkan.

“Tahu ga,  disaat kamu (panggilan dia kepada saya) nyenyak tidur, kami malah harus terjaga sepanjang perjalanan,” Kak NY memulai cerita.

*       *       *



Kebetulan, dua pekan lalu saya bertemu dengannya di sebuah toko buku terbesar di kawasan pusat Jakarta. Tanpa sengaja saat mencari-cari sebuah majalah musik, saya berpapasan dengannya yang memegang novel luar negeri. Selang beberapa hari, saya yang sejak sewindu terakhir mengenalnya karena senior di sekolah, kembali bersua.

“Jadi pramugari itu enak. Duit (uang) banyak, pakaian dan gadget update terus. Dan, yang teristimewa, selalu bisa jalan-jalan keliling Indonesia,” cekikik Kak NY. Sambil membuka halaman tengah suatu tabloid perempuan, dia tampak manggut-manggut menyaksikan kisruh figur kaum hawa di dunia politik, “Tapi, di balik itu semua, banyak juga ‘sisi eneg’ dibanding enak.”

“Lah, bukannya sebuah profesi ga ada yang perfect Kak? Sama aja kalo kita jadi sekretaris, pejabat, hingga presiden sekalipun.”

Sambil menatap jauh ke depan, sosok yang lebih tinggi beberapa senti dibanding saya itu tersenyum. Sebuah guratan senyum yang manis, meski tampak dipaksakan.

“Itu hanya sebagian kecil aja kok. Tapi, pengalaman yang paling saya ga lupain waktu pesawat gagal mendarat di sebuah pulau di Sumatera. Kejadian itu benar-benar ga bisa hilang dari ingatan saya, karena kerusakan sedikit mesin di sayap, membuat puluhan penumpang panik,” Kak NY mengisahkan.

“Yupz, benar juga. Risiko pramugari emang harus berhadapan dengan hal-hal seperti itu. Ngeri juga sih.”

“Emang. Yang paling ngejengkelin itu kalo ada aja tangan-tangan jahil. Mulai eksmud –eksekutif muda- ampe pejabat.”

“Di pesawat?”

“Iya. Masak di laut...”

“Oh.”

*       *       *



Terdampar, sering dimarahi penumpang, hingga risiko kematian, merupakan jalan yang harus ditempuh pramugari. Sebenarnya hal itu tidak aneh. Sama seperti seorang karyawan biasa, yang harus kena “semprot” atasannya saat berbuat salah, atau pejabat eselon tiga yang bisa dimutasi, bahkan dipecat.

Hanya, bagi saya pribadi, profesi sebagai pramugari –tidak pramugara- itu menarik. Itu sejak saya melihat langsung keterlibatan mereka kepada penumpang dengan memberi pelayanan yang sungguh-sungguh. Peristiwa itu, kalau tidak salah sekitar beberapa belas bulan lalu.

Tidak hanya menyaksikan pramugari (plus pramugara, atau apa gitu) membantu seorang Ibu yang melahirkan. Juga karena profesi mereka yang benar-benar profesional, bahkan disaat penumpang muntah sekalipun, tetap dilayani dengan memberi sekantong plastik.

Hingga kini saya belum pernah mendengar “prilaku negatif” mereka seperti yang pernah disimpulkan dalam sebuah buku. Yang ada, saya melihat langsung betapa penumpang, yang entah orang kaya baru atau pejabat, berlagak “bos”.

Di depan khalayak ramai sebelum take-off, penumpang itu tega memaki-maki seorang pramugari –yang kemudian saya kenal- hanya gara-gara sepele. Masalahnya? Hanya kaca pesawat agak susah dibuka akibat macet. Hanya itu...

Lebih trenyuh ketika tanpa sengaja melewati “ruangan” mereka, yang hanya bermodalkan kursi panjang sebagai tempat untuk tidur, di ekor pesawat. Mereka tetap tersenyum dan ramah (meski ada sebagian kecil yang berwajah masam akibat kecapaian). Mereka tetap sabar melayani penumpang yang teriak-teriak akibat delay atau masalah non teknis lainnya. Padahal, mereka sendiri sebenarnya jenuh kelamaan di udara, tapi ya itu sudah dianggap resiko pekerjaan. Termasuk ketika ingin menunaikan ibadah, misalnya Salat  bagi yang muslim.

“Terlepas semua itu, yang paling sedih waktu lebaran. Di saat kamu silaturahmi dengan keluarga dan teman terdekat, kami tetap di udara. Terbayang sungkeman keluarga di rumah atau alunan takbir,” Kak NY mengakhiri pembicaraan.

*       *       *



- Catatan NY, Maret (sudah diedit)