Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Yang Liu

21 September 2013   04:06 Diperbarui: 24 Juni 2015   07:36 276 0 1

Yang Liu. Begitu penuturan gadis berkuning langsat itu kepadaku dalam sebuah pertemuan di toko buku. Aku sempat terhenyak mendengar namanya yang sedikit asing, Yang Liu. Entah itu nama samaran atau aslinya bermarga Yang. Namun, yang kutahu dia hanya tersenyum seolah membaca pikiranku yang seakan hendak bertanya.

"Ya. Namaku Yang Liu. Ada yang salah?"

Hingga beberapa bulan selanjutnya saat liburan ke Kota Kembang, aku baru tahu arti nama tersebut dari seorang famili. Ternyata, itu hanya nama pena. Alias. Berbeda dengan satu nama lagi yang dulu terdengar asing, namun asli, Liong Wei atau akrab kupanggil Lenny.

Yang Liu adalah nama lain dari suatu bumbu dalam masakan Cina. Aku sendiri tentu tidak tahu. Namun, famili dan leluhur keluargaku yang berasal dari Yunnan, jelas mengetahuinya. Ada apa dengan (nama) Yang Liu?

*      *      *



"Jangan pernah bermain api kalau tidak ingin terbakar. Saat kecil, api itu kawan. Ketika besar berbalik jadi lawan," Laras, rekan kerjaku coba mengingatkan.

"Hanya mengagumi. Untuk saat ini tidak lebih dari itu," tuturku mencoba berkilah.

"Hai, 'untuk saat ini' kan? Bagaimana kalau besok, lusa, minggu depan, atau selanjutnya kamu malah tertarik kepadanya?"

"Entahlah. Tapi, aku berharap lebih baik perasaan ini terhadapnya padam daripada memudar."

"Jangan berandai-andai. Gadis itu seperti bunga yang dipenuhi duri penuh racun. Cepat atau lambat, kamu akan tertusuk duri hingga keracunan."

"Mungkin, ga sejauh itu kali. Bukankah kalian hampir mirip satu sama lain."

"Lha, kenapa tidak? Aku pertaruhkan segala yang kupunya, bahwa Yang Liu itu memang beracun. Percayalah."

"Tentu aku memercayaimu. Tapi, biarkan aku juga memercayai perasaanku sendiri. Setidaknya, untuk saat ini."

"Terserah..."

*      *      *



Sepanjang hidup, aku menyukai banyak bunga. Di antara deretan empat bunga yang paling indah di dunia ini, Kimilsungia, Seroja, Anyelir, dan Magnolia. Aku mengagumi nama yang pertama. Hanya, bunga tersebut sudah kadung melekat dan menjadi simbol sebuah negara di Asia Timur, hingga membuatku mencari yang lain. Ya, Magnolia, entah kenapa aku terpikat setiap menatapnya.

Sebenarnya, meski indah, bunga tersebut biasa saja. Setidaknya jika dibandingkan dengan Seroja, Anyelir, bahkan Kimilsungia. Namun, indra perasa tentu memiliki alasan tertentu. Dan, alasan terbaik dalam menemukan suatu jawaban adalah tidak ada alasan sama sekali. Murni karena mengagumi.

Itu pula yang aku alami terhadap Yang Liu. Selain parasnya yang menawan dan gaya bahasa ceplas-ceplos. Biasa saja, dan tidak ada yang lain.

Kawasan pecinan di Pasar Pagi menjadi saksi bisu pertemuanku yang kedua dengan Yang Liu. Bisik-bisik mulai menjalar di antara pedagang yang dipenuhi etnis minoritas. Tak ketinggalan dari mulai penjual hio, petasan, arak, hingga kue bulan sekalipun di los seberang turut memandang sinis kepada kami.

"Ssst... Dia sama yang baru."

"Ya, calon korban, atau mau dikorbanin lagi?"

"Semoga tidak jadi seperti yang dulu-dulu."

"Ah, belum tentu dia seperti itu. Itu kan hanya rumor, faktanya kan rezeki, jodoh, dan kematian yang mengatur Thian. Kita jangan usilan, mending kembali bekerja."

*      *      *



Sejak itu, aku rutin menemuinya. Tak kuperdulikan apa kata mereka tentang Yang Liu, yang ironisnya tetangga sejak kecil. Terlepas latar belakangnya baik atau buruk. Toh, aku senang berteman dengan Yang Liu. Termasuk ketika menunggui di rumahnnya seusai pulang dari sembahyang di sebuah kelenteng.

Saat itu, ada seorang perempuan setengah baya menghampiriku. Tanpa tedeng aling-aling, beliau yang mengaku sebagai ahli nujum memintaku agar jangan mendekati Yang Liu. Sebuah permintaan yang nyaris mustahil kukabulkan. Bagaimanapun, aku punya hak untuk berteman dengan siapa saja tanpa dirintangi. Itu wilayah pribadi. Privasi.

"Terserah Anda kalau tidak percaya. Yang pasti, sebagai sesama manusia, saya sudah mengingatkan," ujar perempuan yang menyebut dirinya sebagai suhu, atau guru spiritual itu kepadaku. Saat itu, aku hanya mengangguk tanda menerima nasihatnya. Dan, dalam hati tentu saja menolak, sebab aku tidak ingin disetir orang lain.

"Sebelum pergi, saya ingin memberi sesuatu sebagai penangkal. Saya harap Anda menerimanya."

"Terima kasih, suhu."

"Satu hal lagi, lihatlah altar persembahan itu. Bukankah ada yang aneh dengan patung Guan Yu?"

"Ya Bu. Di kediaman kami, Patung itu memegang golok dengan tangan kanan. Tapi, di sini malah sebaliknya."

"Nah itulah. Yang penting Anda harus hati-hati," katanya sambil memberikan selembar daun yang penuh aksara.

*      *      *



Patung Guan Yu. Siapa yang tak mengenal tokoh dalam sejarah Cina, tepatnya pada dinasti Han di abad kedua. Dalam literatur klasik "Romance of the Three Kingdoms", Guan Yu dijuluki sebagai Dewa Perang. Sosok yang dikenal memiliki janggut indah itu melambangkan kesetiaan.

Tak heran bila saat menonton film mandarin atau Hong Kong, aku kerap melihat patung Guan Yu dengan tangan kanan memegang golok di altar persembahan di kantor polisi. Tapi, bila patung tersebut memegang golok di tangan kiri, berarti yang memujanya dari kalangan mafia, atau triad.

Jadi...

*      *      *



"Kamu tentu sudah mendengar perkataan mereka. Khususnya dari perempuan usilan yang mengaku sebagai suhu?" Yang Liu membuka pembicaraan saat kami menikmati indahnya suasana sore di pantai utara ibu kota.

"Aku hanya mendengarkan perkataan mereka. Mungkin masuk telinga kiri keluar telinga kanan," ucapku.

"Lalu, Kamu percaya?"

"Aku sekadar mendengarkan ucapan orang yang lebih tua. Mengenai benar atau tidak. Di dunia ini aku hanya percaya kepada Tuhan. Sebagaimana dirimu memercayai adanya Thian."

"Ini pernyataan atau pertanyaan?"

"Dua-duanya tapi juga bukan dua-duanya."

"Bagus. Kamu berkata dengan jujur meski tidak berterus terang."

"Rambut manusia boleh sama hitam. Tapi pikiran, siapa yang tahu?"

"Ha ha ha..." Yang Liu tertawa dengan renyah. Tampak lesung pipit di pipi kirinya seperti keberadaan venus yang berkilauan menjelang pagi hari. Usai menyeruput es kelapa, sejenak Yang Liu, melanjutkan ucapannya.

"Terus terang, sejak lahir aku seperti dinaungi bintang kematian. Tiada seorang pun yang dekat denganku bisa bertahan lama. Termasuk suamiku..."

"Maksudnya?"

"Langsung saja. Tiga kali aku menikah. Tiga kali pula aku harus kehilangan suamiku."

"Hubungannya denganku?"

"Entahlah. Tapi, menurut ramalan, kutukan itu akan punah setelah pernikahan keempat. Itu sebagai jumlah penggenapan agar aku terlepas selamanya."

"Bukankah bagi kalian angka empat itu melambangkan kesialan?"

"Ya. Bisa jadi sebagai ambiguitas. Sebab, semenjak dulu aku diajarkan, jika terkena bisa ular. Obat paling mujarab adalah gigitan dari hewan yang memiliki kadar bisa lebih keras dibanding ular."

"Racun dilawan dengan racun?"

"Tepatnya begitu," ujar Yang Liu menarik nafas dalam-dalam sambil memainkan rambutnya yang tergelung indah bak Magnolia yang sedang mekar.

*      *      *



Setelah itu, aku larut dalam rutinitas sehari-hari yang kian menggunung. Begitu juga Yang Liu yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai penata rias. Hingga tujuh hari sejak pertemuan di tepi laut itu, aku mendapat kabar dari seseorang yang kukenal dekat, Laras.

"Aku tidak tahu harus sedih atau bahagia saat memberitahu hal ini."

"Tentang Yang Liu?"

"Dia akhirnya kembali ke asalnya. Hidup manusia berasal dari tanah, begitu juga dengan Yang Liu."

"Jadi, Yang Liu sudah..."

"Ya. Sekarang sedang dilaksanakan upacara pelepasannya"

"Kenapa dirimu tak memberitahu lebih awal?"

"Tragedi itu terjadi semalam. tepat di hari pernikahannya. Ketika suaminya yang buronan menjadikan Yang Liu sebagai tameng dari sergapan pistol petugas keamanan. Aku sedih menyaksikan akhir tragis Yang Liu. Di sisi lain, aku bahagia karena Yang Liu akhirnya terbebas dari penderitaan batin," tutur Laras dengan memelukku.

"Kenapa kamu harus bahagia? Bukankah kalian kakak-beradik." aku menjawab tegas sambil menepis tangannya. Prosesi kematian Yang Liu sedang berlangsung. Setidaknya, aku ingin menemuinya satu kali sebelum Yang Liu kembali menyatu dengan bumi.

Sementara, Laras hanya terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya. Hanya, satu misteri yang masih membayangiku saat mendengar ucapan Laras: Bahagia.

*      *      *



Keterangan: Referensi tulisan ini berdasarkan novel Yang Liu karya salah satu penulis favorit saya, Lan Fang. Sayangnya, beliau terlalu cepat meninggalkan dunia ini sebelum saya mengenal tulisannya lebih jauh.

- Jakarta, 21 September 2013