Mohon tunggu...
Choirul Huda
Choirul Huda Mohon Tunggu...

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan

17 Agustus 2014   12:25 Diperbarui: 18 Juni 2015   03:20 0 0 0 Mohon Tunggu...
Penghormatan Terakhir Presiden SBY untuk Pahlawan
14082227851921709645

[caption id="attachment_319606" align="aligncenter" width="473" caption="Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono memasuki TMP Kalibata (foto: www.kompasiana.com/roelly87) "][/caption]

Masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden Indonesia keenam akan berakhir dua bulan lagi. Tepatnya pada 20 Oktober 2014. Banyak momentum menyentuh dari SBY pada masa transisi menjelang peralihan presiden ketujuh yang akan diputuskan Makhamah Konstitusi (MK) dalam beberapa hari ke depan.

Salah satunya ketika SBY menghadiri Apel Kehormatan dan Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Sabtu (16/7). Maklum, kehadiran SBY pada detik-detik menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia ke-69 itu merupakan yang terakhir kalinya sebagai presiden. Sebab, tahun depan, saat negeri ini genap merayakan HUT ke-70, SBY kembali menjadi "rakyat biasa".

Tentu, Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP Kalibata itu menjadi sangat istimewa bagi sosok berusia 64 tahun ini. Setidaknya menurut kesan saya pribadi yang menyaksikan langsung momentum pergantian hari dari tanggal 16 beralih ke 17 Agustus yang diperingati sebagai hari kemerdekaan.

Meski posisi saya yang terpaut jarak sekitar 10 meter dan suasana gelap karena listrik di areal TMP Kalibata sengaja dipadamkan. Namun, dapat terlihat bahwa SBY berkaca-kaca saat membacakan doa dan penghormatan kepada 9.565 pahlawan yang dimakamkan di TMP Kalibata.

"Perjuangan Saudara adalah perjuangan kami. Jalan kalian juga jalan kami. Semoga arwah saudara diterima Tuhan di tempat yang sebaik-baiknya," kata SBY saat membacakan doa dengan diterangi obor yang kemungkinan berasal dari seorang anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

*       *       *



Bagi saya pribadi, Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP Kalibata itu merupakan yang pertama saya ikuti. Meski awalnya tidak sengaja karena memang sebelumnya tidak terlalu antusias menghadiri acara kenegaraan tersebut. Itu karena saya menyadari, sebagai rakyat biasa alias bukan pejabat atau anak pejabat, tentu sulit untuk mengakses acara tersebut.

Namun, sebagai warga negara Indonesia, tentu saya ingin menyaksikan langsung bagaimana sosok pemimpin negeri ini yang selama ini hanya bisa dilihat di media televisi, cetak, dan online. Kebetulan, sebelumnya, saya sedang menemui Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Roy Suryo yang diadakan di kantornya di bilangan Senayan.

Dalam kesempatan tersebut, Roy Suryo yang baru saja kembali usai memperingati  Peristiwa Rengasdengklok itu, mengatakan akan mengikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci di TMP Kalibata. Sudah tentu, kabar tersebut tidak saya sia-siakan dan mencoba untuk hadir.

Kebetulan, jarak dari Senayan, Jakarta Pusat, ke Kalibata (Jakarta Selatan) tidak terlampau jauh. Apalagi, sepanjang jalan, relatif sepi mengingat beberapa akses lalu lintas dialihkan karena akan dilewati rombongan presiden. Tapi, ketika memasuki kawasan Kalibata, penjagaan ketat mulai terlihat dengan berderetnya ratusan aparat keamanan dari Polisi dan TNI. Terutama di areal TMP yang pengamanannya superketat dari Paspampres. Termasuk, beberapa kendaraan tempur seperti Panser yang sudah disiagakan sebagai antisipasi serta pintu detektor di gerbang TMP Kalibata.

Saya pribadi awalnya sempat bingung karena tidak bisa memasuki areal yang 22 Mei 2010 lalu menjadi tempat peristirahatan terakhir dari istri mantan Presiden BJ. Habibie, yaitu Hasri Ainun Besari. Itu karena  menurut penuturan salah seorang Paspampres, yang berhak menghadiri Apel Kehormatan dan Renungan Suci hanyalah pejabat, undangan khusus, serta wartawan istana yang memang rutin meliput aktivitas presiden.

Beruntung, ada seorang lainnya, entah itu panitia atau Paspampres yang "berbaik hati" dengan membolehkan saya masuk. Tapi, ada dua syarat: Harus melewati pintu detektor dan digeledah, termasuk ponsel dan kamera. Serta, tidak boleh menyalakan lampu kilat saat Apel Kehormatan dan Renungan Suci berlangsung agar tidak mengganggu.

Sudah pasti, kedua syarat tersebut saya laksanakan. Meski, hasil ratusan foto yang dijepret agak buram dan hanya menyisakan beberapa yang lumayan bisa dilihat. Namun, bisa menyaksikan Apel Kehormatan dan Renungan Suci untuk pahlawan yang telah tiada pada detik-detik menyambut HUT Kemerdekaan Indonesia, merupakan sebuah kebangaan tersendiri. Khususnya, sebagai blogger yang akhirnya bisa membuat tulisan langsung mengenai Presiden SBY.

[caption id="attachment_319607" align="aligncenter" width="473" caption="Kedatangan kendaraan Presiden SBY yang mendapat pengawalan superketat"]

14082229521330089224
14082229521330089224
[/caption]

*       *       *




[caption id="attachment_319608" align="aligncenter" width="491" caption="Suasana apel kehormatan dan renungan suci di TMP Kalibata"]

140822303063379631
140822303063379631
[/caption]

*       *       *



Foto-foto merupakan dokumentasi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)

- Cikini, 17 Agustus 2014