Choirul Huda
Choirul Huda wiraswasta

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Perbedaan Mendasar Antara Asuransi Konvensional dan Syariah

11 September 2014   09:58 Diperbarui: 18 Juni 2015   01:01 17 0 0
Perbedaan Mendasar Antara Asuransi Konvensional dan Syariah
14103742881577062451

[caption id="attachment_323265" align="aligncenter" width="442" caption="Suasana Kompasiana Nangkring Sun Life Syariah (foto: www.kompasiana.com/roelly87)"][/caption]

"Malu bertanya sesat di jalan". Adagium lawas itu masih terekam benar dalam benak saya. Terutama untuk memahami beberapa hal yang sebelumnya kurang saya ketahui. Salah satunya mengenai asuransi syariah. Apa itu asuransi syariah? Apakah bedanya antara asuransi syariah dengan yang biasa (konvensional)? Terus, "untungnya" buat saya apa kalau ingin membuatnya?

Demikian yang terpatri di pikiran saya sebelum berangkat untuk menghadiri Kompasiana Nangkring bersama Sun Life di Pisa Kafe Menteng, Jakarta, Sabtu (30/8). Acara yang bertema "Kenapa harus Asuransi Syariah?" ini sukses membangkitkan rasa penasaran saya mengenai seluk beluk dunia asuransi.

Memang, malam hari sebelum menghadiri Nangkring yang dimoderasi salah satu admin Kompasiana, Iskandar Zulkarnaen itu, saya sudah membaca berbagai referensi mengenai asuransi syariah di beberapa situs yang saya anggap valid. Termasuk di website resmi Sun Life di www.sunlife.co.id.

Hanya, "sekadar" membaca saja tidak cukup. Sebab, bisa jadi saya salah menginterpretasikannya. Alias, lebih banyak dugaan, "jangan-jangan, ntar begini", "ah masak sih", atau "ini cara klaimnya benar ga?", dan sebagainya. Singkatnya, saya pun mencoba menepis stigma buruk mengenai asuransi, termasuk asuransi syariah.  Maklum, saya banyak mendengar cerita dari beberapa teman bahwa mengajukan klaim asuransi itu terkadang sama halnya dengan mengharapkan hujan di padang pasir Afrika. Alias ribet dan dipersulit. Tapi, benarkah begitu?

Singkatnya, akhirnya tiba di Pisa Kafe Menteng beberapa menit sebelum acara dimulai. Tak lupa, saya sempatkan lebih dulu untuk ngemil sambil berbincang dengan beberapa kawan Kompasianer. Kebetulan, ini merupakan Nangkring edisi kelima yang pernah saya ikuti di Kompasiana. Khusus untuk asuransi, ini merupakan Nagnkring yang kedua setelah 28 September 2013 yang juga bertempat di Pisa Kafe, tapi cabang Blok M bukan Menteng.

Lalu, apa itu asuransi syariah? Setelah mengikuti acara selama hampir empat jam plus ngantuk karena malamnya belum tidur akibat menyaksikan pertandingan sepak bola, akhirnya rasa penasaran itu terjawab sudah. Adalah dua narasumber yang sukses membuat saya sediktnya tahu mengenai asuransi syariah. Mereka adalah, Kepala Unit Syariah PT Sun Life Financial Indonesia, Srikandi Utami dan Ketua DPS Sun Life Unit Syariah, Fathurrahman Djamil.

Dari penjelasan mereka menegaskan, bahwa asuransi syariah tidak hanya dalam pembayaran premi asuransi saja yang selama ini memang saya ketahui. Melainkan juga untuk beberapa hal lainnya. Salah satunya tentang risiko dari tetanggung atau pemegang polis. Itu karena dalam asuransi syariah, ibarat saling berbagi keuntungan.

Yaitu, perusahaan tidak akan mengeluarkan dana sendiri untuk membayar klaim yang diajukan, melainkan dana kumpulan. Sedangkan dalam asuransi konvensional seperti yang memang saya ketahui, seorang pemegang polis "biasanya" hanya berhak mendapatkan klaim yang tidak sampai 100 persen saat terjadi sesuatu.

Yang menarik ketika Fathurrahman yang juga merupakan Profesor Ahli Fikih Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan bahwa asuransi syariah juga bisa digunakan bagi non-muslim. Ini menjadi "catatan tersendiri" bagi saya yang memiliki keanekaragaman di keluarga. Termasuk tidak ada unsur riba seperti halnya perbedaan antara menabung di bank konvensional dan bank syariah.

*     *     *




[caption id="attachment_323266" align="aligncenter" width="430" caption="Materi yang menarik dipaparkan Fathurrahman Djamil"]

1410374363978494515
1410374363978494515
[/caption]

*     *     *




[caption id="attachment_323267" align="aligncenter" width="430" caption="Kompasianer berebut mengajukan jawaban untuk kuis"]

1410374409318105204
1410374409318105204
[/caption]

*     *     *




[caption id="attachment_323268" align="aligncenter" width="430" caption="Momentum "]

14103744591838145970
14103744591838145970
[/caption]

*     *     *



Artikel #NangkringKompasiana sebelumnya:

- Benci dan Rindu antara PT Jakarta Monorail dan Pemprov Jakarta
- Nangkring Bareng KemenPU dan Sorotan "Proyek Abadi" Pantura
Kisah Inspiratif Dua Kompasianer di Acara Titik balik
Nangkring Bareng Newmont: Menepis Stigma Negatif Pertambangan

*     *     *



Foto-foto koleksi pribadi (www.kompasiana.com/roelly87)
- Cikini, 11 September 2014