Mohon tunggu...
Risvania Andaresta
Risvania Andaresta Mohon Tunggu... Lainnya - Selamat datang

Aku mau ngga bosen menulis dan membaca.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perempuan dalam Bingkai

3 Maret 2021   22:26 Diperbarui: 4 Maret 2021   09:49 335
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Belakangan ini, banyak hal-hal menyebalkan terjadi, selain saya berhasil memergoki seekor tikus nying-nying saat ia tengah menggondol sepotong Roti'O dari dapur tanpa permisi, hasrat saya untuk menabung dengan uang hasil jerih payah sendiri yang belum bisa terealisasi, dan  kekhawatiran saya yang kian bertambah seiring dengan bertambahnya usia, pengeluaran, serta beban hidup, ada satu lagi kejadian paling menyebalkan yang harus saya temui, yaitu tidak sengaja mendengarkan narasi bernada misogini yang keluar dari mulut perempuan sekaligus seorang Ibu masa kini (Maksudnya masa kini itu, hidup ditunjang oleh kemajuan teknologi informasi yang bisa diberdayakan untuk memperkaya perspektif dan mengedukasi diri).

Perempuan itu adalah teman Mama saya yang tengah berkunjung ke rumah karena kelimpungan dengan sekolah online yang tak kunjung sudah. Kebetulan, adik laki-laki saya dan anak laki-laki si Ibu adalah teman sekelas di sekolah dasar. Di sela-sela sibuknya mengajar anak-anak, teman Ibu saya mulai bercerita mengenai saudaranya di luar negeri yang hendak menitipkan anak gadisnya untuk menetap di rumah si Ibu dan bersekolah di SMP terdekat di sekitar sana, namun, Ibu ini merasa tidak nyaman atas permintaan tolong tesebut.

Sontak Mama langsung menyambar percakapan dan bertanya mengapa demikian, kemudian si Ibu memberikan alasan "Gimana ya, punya anak cewek itu susah, Apalagi udah mau masuk SMP, nanti kelepasan terus..." ia menggantungkan kalimatnya sambil memberikan isyarat dengan membusungkan perut, lalu menambah kalimat "Kalau cowok masih mending begitu-begitu tapi kan ga kelihatan, lah kalo anak cewek ada bekasnya, kelihatan jelas, saya juga nanti yang malu sama orang-orang" Si ibu seperti membuat garis pembatas yang membebaskan laki-laki dari segala tuduhan dan kesalahan.

Segera saya menghirup oksigen cukup panjang sebelum akhirnya melepaskan karbondioksida dengan kasar. Saya berharap Mama akan memberikan jawaban yang tidak menempatkan perempuan sebagai objek atau sumber masalah. "Hey nggak boleh ngomong gitu lah, perempuan kan manusia bukan barang. Anak perempuan atau laki-laki sama aja, ada tantangannya masing-masing" sanggah Mama saya yang diikuti oleh anggukkan canggung dan raut muka si Ibu yang sedikit masam. 

Kejadian tersebut mengingatkan saya pada sebuah kutipan dari salah satu buku milik Ayu Utami yang berjudul Saman, di sana dikatakan bahwa perempuan adalah sebuah porselin cina, mereka tak boleh retak, sebab orang-orang akan membuangnya ke tempat sampah, atau merekatkannya sebagai penghias kuburan. Perempuan tak akan retak selama memelihara keperawanan.

Tembok patriarki belum sepenuhnya runtuh dari peradaban masyarakat Indonesia, keberadaannya seperti hamparan rumput liar pengganggu yang meski sudah dicabuti berkali-kali, tapi mereka tetap saja tumbuh kembali. Banyak masyarakat Indonesia yang masih menganggap keperawanan adalah harta karun di dalam tubuh perempuan yang hanya boleh digali oleh sang suami setelah mereka menikah. Jika harta karun berupa selaput dara tersebut hilang atau rusak sebelum waktunya, hilang dan rusak pula lah nilai berharga dari seorang perempuan (narasi seperti ini sudah menjadi rahasia umum kan?). 

Namun secara sadar, konsep pemikiran yang sudah lumutan tersebut justru selalu menjadi anak panah yang melukai hati dan mental para korban kekerasan seksual, seperti korban pemerkosaan misalnya. Pola pikir seperti itu juga lah yang membuat para korban kekerasan seksual merasa ketakutan untuk bersuara atau melaporkan kondisinya, sebab, seluruh mata sudah lebih dulu memandang curiga ke arahnya lalu bertanya, baju seperti apa yang ia kenakan, apakah atas dasar suka sama suka, mengapa perempuan keluar malam, mengapa perempuan berkerumun dengan laki-laki, mengapa perempuan meminum alkohol hingga tak sadarkan diri,  dan lain-lain yang membuat esensi dari kasus pemerkosaan hilang arti hingga lupa akan siapa penjahat sebenarnya (pelaku kekerasan seksual).

Media di Indonesia hingga saat ini juga masih turut andil dalam membudidayakan patriarki khususnya dalam pola menempatkan perempuan sebagai umpan utama untuk menarik perhatian. Tertulis headline di sebuah portal berita "Janda di Bandung Makin Banyak, Tingkat Perceraian Meningkat Selama Pandemi, Ternyata Ini Penyebabnya" Kita tau sejak dulu Janda hidup dalam belenggu citra buruk yang diciptakan oleh media. Pada sinetron layar kaca Indonesia misalnya, seringkali janda divisualisasikan sebagai sosok perempuan seksi, rupawan, centil, menyebalkan, dan membuat para istri geram hingga harus mewanti-wanti agar suaminya tak tergoda oleh si janda. Gambaran tersebut akhirnya tertanam di pikiran pemirsa yang menyaksikannya, dan mereka mulai membawa gambaran tersebut ke kehidupan nyata. Padahal, janda tidak selalu berwujud dan berkarakter seperti itu. Sebuah media pemberitaan yang seharusnya bisa lebih waras dalam memperlakukan perempuan pun ternyata lebih memilih memakai kata kunci "Janda" agar portal berita mereka ada di halaman pertama hasil pencarian. Padahal dalam maraknya kasus perceraian tersebut, akan berjamuran pula para duda.

Saya jadi teringat berita lain yang mengatakan seorang perempuan hamil setelah merasakan angin masuk ke dalam kemaluannya. Dari sekian banyak informasi yang dapat dijadikan kalimat untuk headline berita, media pemberitaan itu lebih memilih kalimat "Angin masuk ke dalam kemaluan "Saya mengerti, informasi yang dibagikan media online tersebut memang lah sebuah fakta, karena narasumber sekaligus orang yang mengalami kejadian tersebut bercerita begitu adanya, namun di balik setiap fakta selalu ada kebenaran lain yang harus dicari dan diinformasikan, di situ lah tugas seorang Jurnalis, seperti yang dikatakan dalam buku elemen-elemen jurnalisme yang ditulis oleh Bill Kovach & Tom Rosenstiel "Kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran" Alih-alih melakukan check and recheck, media berita tersebut lebih senang mencari sensasi dengan menyuguhkan kalimat seksis yang secara tidak langsung menyakiti perempuan. Bingkai berita tersebut jelas memberi dampak negatif bagi si perempuan, khususnya di lautan media sosial. Ada warganet yang berkata perempuan tersebut bodoh, berpura-pura kemaluannya kerasukan angin padahal hasil hubungan gelap, disebut malu mengakui statusnya yang janda, dan beragam komentar kejam lain.

Baru-baru ini saat sedang menjelajahi dunia maya nan fana, saya melihat sebuah berita mengenai isu perselingkuhan yang terjadi dalam sebuah grup musik religi, melibatkan seorang vokalis perempuan dan seorang keyboardist laki-laki yang sudah beristri. Mereka menjadi bulan-bulanan warga di internet, namun yang menjadi sorotan saya tentu saja reaksi netizen yang selalu gencar merundung pihak perempuan. Lagi-lagi masyarakat lupa bahwa ada lakon lain dalam kejadian itu, yaitu pihak laki-laki. Semua orang hanya bersemangat menelanjangi kehidupan pribadi si perempuan, mereka mengolok-ngolok setiap tingkah lakunya, menyumpahi hal-hal buruk akan terjadi kepadanya, bahkan yang membuat saya tak habis pikir adalah ada seseorang yang sangat tegas menuangkan pikirannya bahwa perempuan adalah sumber dari segala masalah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun