Mohon tunggu...
Ribut Achwandi
Ribut Achwandi Mohon Tunggu... Penulis - Penyiar radio dan TV, Pendiri Yayasan Omah Sinau Sogan, Penulis dan Editor lepas

Penyuka hal-hal baru yang seru biar ada kesempatan untuk selalu belajar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menghayati Makna Sukses dari Tukang Becak

25 September 2021   03:00 Diperbarui: 28 September 2021   12:33 482
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tukang becak | Sumber: KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI

Mungkin saja, lembaran rupiah yang akan ia terima sebagai upah tak sebanding dengan usahanya mengantarkan kami sampai tujuan. Sebab, selain mengantarkan, ia juga berkewajiban menjamin keselamatan kami, yang artinya mempertaruhkan keselamatannya sendiri dan mempertaruhkan nasib keluarganya.

Memang, mula-mula saya sempat meragukan kemampuan bapak yang satu ini. Tubuhnya tak lagi tampak segar, sangat mungkin mudah kecapaian. Bahkan, sempat terpikir, ia tidak akan kuat mengayuh becaknya saat melintas jalan menanjak di sekitar palang kereta api.

Tetapi, keraguan saya itu berangsur susut. Saya harus sepenuhnya yakin dan percaya pada bapak penarik becak ini. Apalagi ketika saya mengingat, bahwa ternyata mengayuh becak itu butuh kecakapan. Tidak gampang. Saya belum tentu bisa dan belum tentu lincah.

sumber foto: infofotografi.com (Erwin Mulyadi)
sumber foto: infofotografi.com (Erwin Mulyadi)

Dan benar, perjalanan kami lancar. Pak penarik becak mengantarkan kami dengan selamat sampai depan pintu masuk pusat perbelanjaan tujuan kami. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya menerima perlakuan yang sedemikian istimewa dari bapak penarik becak ini.

Segera setelah menyelesaikan urusan pelunasan hak pak penarik becak, kami bergegas memasuki arena pusat perbelanjaan yang cukup ramai itu. Selama beberapa jam kami mendekam di dalamnya. 

Kedua anak kami asyik bermain. Saya dan istri ikut tenggelam dalam kegembiraan mereka. Sampai-sampai ingatan saya pada pak penarik becak itu tadi terhapus. Mungkin karena merasa telah melunasi haknya.

Sekitar pukul 14.00 kami memutuskan untuk memungkasi kegembiraan itu. Kedua anak kami sudah cukup puas dengan luapan kegembiraannya. Kami pun pulang ke rumah.

Di emper pusat perbelanjaan kami memburu becak. Mendung kian menebal, hujan pun berangsur mengguyur. Di tengah gerimis kami menemukan keberuntungan, becak yang kami buru kami temukan.

Istriku menawar harga. Setelah semua beres, segera becak kami tumpangi. Tentu becak yang berbeda dengan saat kami berangkat tadi. 

Dan kali ini bapak penarik becak yang kami tumpangi begitu ramah. Dari postur tubuhnya pun jauh lebih gempal dibandingkan dengan yang tadi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun