Mohon tunggu...
RENDI RUSTANDI
RENDI RUSTANDI Mohon Tunggu... Jurnalis - Hidup sederhana yang penting penuh berkah

Semua bermula dari tidak bisa, menjadi bisa dan menjadi terbiasa agar kelak luar biasa.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Lika-liku Jadi Wartawan: Sulitnya Jadi Wartawan (Part 1)

31 Oktober 2020   22:50 Diperbarui: 31 Oktober 2020   22:54 355
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebuah kebanggaan bagi saya menjadi seorang pewarta atau wartawan. Tidak semua orang memiliki kesempatan dan kemampuan seperti yang saya miliki. Karena menjadi wartawan itu tidak mudah, butuh kejelian dan kejujuran dalam menyampaikan sebuah kabar berita kepada masyarakat luas.

Menjadi seorang wartawan, memang cita-cita saya sejak kecil dulu. Saat itu, reporter inspirasi saya ada seorang wanita yang bernama Rosiana Silalahi. 

Meskipun dia seorang wanita, namun kemampuannya dalam menyampaikan berita sangat jelas dan tegas. Kadang rasa iri saya rasakan. Seorang perempuan yang sering dianggap lemah, namun ia mampu menjadi orang yang tangguh dalam berbicara sebuah berita.

Sebelum mendapatkan kesempatan menjadi seorang wartawan, sebelumnya saya bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah lembaga pendidikan swasta yang ada di perkampungan wilayah Kabupaten Sukabumi. 

Lulus SMA pada tahun 2006 silam, karir honorer saya mulai. Dengan honor sealakadarnya, saya menekuni profesi tenaga pendidik dengan penuh keikhlasan.  

 Karena tuntutan sebuah profesi, maka saya pun diwajibkan untuk melanjukan pendidikan. Akhirnya, dengan dukungan dari pihak lembaga pendidikan, akhirnya saya masuk perguruan tinggi swasta yang ada di Kota Sukabumi pada tahun 2007. 

Namun sayangnya, saat itu bukan jurusan jurnalistik atau Infomasi Komunikasi yang saya ambil, melainkan jurusan Pendidikan Agama Islam. Ya, karena hal itu melinearkan dengan pekerjaan saya. 

Dengan dukungan orang tua, keluarga, guru, dan sahabat-sahabat lainnya, tahun 2011 akhirnya saya lulus. Namun sayangnya lagi, saat itu saya sudah tidak lagi bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah lembaga pendidikan. Saya merasa tidak nyaman menjadi seorang guru, merasa tidak pantas berada dalam dunia pendidikan. Mau tidak mau, saya pun harus merasakan menjadi seorang pengangguran.

Meskipun 'nganggur', namun semangat menulis masih terus saya lakoni. Hal-hal kecil yang terjadi, tak luput dari catatan saya. Cita-cita saya menjadi seorang wartawan saat itu masih dirasakan sangat kuat. 

Akhirnya, saya pun mencari informasi tentang lowongan kerja di perusahaan media. Baik melalui internet, maupun melalui teman yang pergaulannya sudah di kota.

Ikhtiar saya mencari informasi peluang kerja di perusahaan media pun membuahkan hasil. Saya ingat betul, teman saya bernama Rifky memberitahu bahwa ada lowongan kerja sebagai wartawan di media Lokal Sukabumi, Radar Sukabumi (Jawa Pos Group). 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun