Mohon tunggu...
Rionanda Dhamma Putra
Rionanda Dhamma Putra Mohon Tunggu... Penulis - Ingin tahu banyak hal.

Seorang pembelajar yang ingin tahu Website: https://rdp168.video.blog/ Qureta: https://www.qureta.com/profile/RDP Instagram: @rionandadhamma

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Ada Apa dengan Indonesia dan UEA?

18 Januari 2020   16:06 Diperbarui: 18 Januari 2020   16:08 609
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari-hari ini, Indonesia seperti sedang kasmaran dengan satu negara. Sebuah negara kaya dari Timur Tengah. Terkenal dengan minyak yang melimpah dan mobil-mobil mewah warganya. Tahu negara yang dimaksud? Iya, negara itu adalah Uni Emirat Arab (UEA).

Pertanda kasmaran ini pertama kali muncul pada pidato Presiden Jokowi pada muktamar PKB 20 Agustus 2019. Beliau baru saja dikunjungi oleh Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ) Juli sebelumnya. Setelah membandingkan kemajuan UEA dan Indonesia dari zaman ke zaman (Tapi begitu menginjak ke tahun 80-85, sudah melompat semuanya naik Mercy dan BMW, kita masih naik Kijang), Presiden Jokowi memberikan pernyataan berikut (youtube.com, 2019):

"Lompatannya saya tanya, kuncinya apa? Kuncinya kecepatan! Jadi sering saya sampaikan, ke depan tidak lagi negara besar menguasai negara kecil; negara kaya menguasai negara miskin; tetapi negara cepat akan menguasai negara yang lambat. Oleh sebab itu kita harus cepat!"

Lebih lanjut lagi, Presiden Jokowi memaparkan pengalaman pribadinya berinvestasi di UEA (Antony dalam news.detik.com dan youtube.com, 2019):

"Saya datang ke sana saya minta izin ke kantor pusat perekonomian. Itu sudah 17-18 tahun yang lalu. Datang ke kantor sana, saya mbawa syarat, saya datang ke meja, 'bapak tanda tangan', saya tanda tangan. 'Bapak pergi ke kantor sebelah'. 15 meter dari situ ternyata kantor Notariat, saya datang ke sana karena sudah online saat itu saya datang ke situ, saya tanda tangan, kemudian saya datang ke meja yang tadi lagi, izin-izin sudah selesai semuanya. Gak ada 30 menit." 

Menurut hemat penulis, inilah alasan utama kekaguman Presiden Jokowi sebagai pemimpin Indonesia pada UEA. Birokrasinya begitu efisien dan licin. Sungguh berbeda dengan Indonesia. Di mana birokrasinya begitu inefisien dan harus diberi pelicin agar bekerja. Sehingga, Presiden Jokowi mengambil inspirasi dari birokrasi model UEA untuk diterapkan di Indonesia.

Kemudian, kemesraan ini terwujud pada kunjungan Presiden Jokowi ke UEA yang baru selesai lusa kemarin. Dari awal kunjungan, terlihat kehangatan di antara pemimpin kedua negara. Bahkan, Presiden Jokowi sampai memanggil Sheikh MBZ sebagai my brother saat cipika-cipiki. Terlebih lagi, UAE put their money where their mouth (and heart) is.

Dari kunjungan tersebut, Indonesia dan UEA melakukan teken kontrak investasi sebesar 312,36 triliun. Angka ini sendiri terdiri atas 5 perjanjian antar pemerintah dan 11 perjanjian antar pelaku usaha kedua negara. Investasi tersebut dilakukan melalui Sovereign Wealth Fund (SWF) yang dimiliki UAE. Namun, investasi yang paling disorot oleh media adalah dalam pembangunan Ibu Kota Baru.

Sebagai pemimpin negara investor, Presiden Jokowi mengajak Sheikh MBZ untuk mengepalai Dewan Pengarah Ibu Kota Baru. Ternyata, Beliau bersedia menduduki posisi tersebut. Nantinya, Beliau akan menjadi board of directors bersama dengan Masayoshi Son, CEO SoftBank dan Tony Blair, mantan PM Inggris 1997-2007 (Gideon dalam liputan6.com, 2020). Sosok Tony Blair akan kita kupas dalam tulisan lain.

Limpahan uang dan kesediaan ini menunjukkan bahwa Indonesia-UEA sedang dekat-dekatnya. Lantas, faktor apa lagi yang mendekatkan kedua negara selain economic cooperation dan personal rapport antara kedua pemimpinnya? Ternyata, kedua negara have a lot in common.

Pertama, Indonesia dan UEA sama-sama mempromosikan Islam moderat. Dengan kata lain, kita sama-sama merepresentasikan Islam yang damai, toleran, dan mampu beradaptasi dengan dunia modern. Bahkan, UEA sampai membuat program pengajaran religious awareness untuk mendorong pemahaman Islam moderat. Dalam program ini, diajarkan mengenai Islam dan scientific training (gulfnews.com, 2019).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun